Catatan Perjalanan 8 (Pakdhe Rip dan Ludruk)

Rombongan ziarah sampai di Lamongan. Sunan Drajat adalah wali pertama yang kami ziarahi. Dari salah satu kios, terdengar musik khas Nusantara yang membuat orang-orang tersenyum geli. Musik dengan lagu Jawa alus yang sulit dimengerti generasi millenial sepertiku. Para peziarah tersenyum dan saling pandang, seolah telah bersepakat untuk mensenyumi satu orang unik yang kupanggil Pakdhe Rip….

Catatan Perjalanan 7

Semakin kesini, Mamak semakin lucu dan gokil. Semakin hangat pula. Padahal Mamak tergolong orang yang tidak terlalu suka berbicara. Aku sebagai orang yang teramat dingin, merasa belum terbiasa dengan kehangatan seseorang. Begitu pula dengan kehangatan Mamak. Kami menghabiskan waktu bersama hanya dua hari. Aku ditempatkan di kursi bis yang berdampingan dengan Mamak, sedangkan Bapak duduk…

Catatan perjalanan 6

Satu hal yang kukejar saat ziarah walisongo adalah keberadaan toko buku dan toko kitab di wilayah komplek makam. Setiap turun dari bis, aku langsung melongokkan kepalaku. Mencari keberadaan toko kitab. Ekspektasiku, toko kitab adalah peninggalan sejarah intelektual di sekitar wali. Memang agak ngarang, tapi kan ya…. sekelas walisongo tentu dikelilingi dengan iklim keilmuan yang mapan….

Catatan Perjalanan 5

Kami sedesa pergi ziarah pada hari senin 25 september 2017. Jumlah peziarah berkisar di angka 100an. Mereka dimuat dalam dua bis. Bapak memintaku bersiap karena bis akan meluncur pada jam setengah enam. Aku mengiyakan saja meski aku sangat santai. Setelah beres, aku mengantarkan permainan puzzle ke rumah mbk Idha. Sebelumnya, mbk Idha memesan puzzle edukatif…

Perjumpaan

Aku tak berniat memberinya kabar bahwa aku sedang di kotanya. Alasannya simpel. Siapa dia bagiku dan siapa aku baginya. Takut kalau tidak direken barangkali. Mengingat hubungan kita yang super tidak jelas. Tidak mengikat dan tidak pula melepaskan. Lalu ini apa namanya? Hubungan di wilayah antara. Antara iya dan tidak. Selain itu, ia adalah orang yang…

Catatan Perjalanan 4

Setelah beberapa saat berduaan dengan Konyil, aku memintanya untuk kembali ke pondok. Sedangkan aku masih menunggu kedatangan bis Jepara-Pati. Lama sekali bis itu tidak muncul. Meski datangnya lama, toh akhirnya tetap datang. Aku turun di pertigaan Bagor dan menunggu Bapak. Awalnya aku meminta supaya kak Edi yang menjemputku, mengingat Bapak yang sudah mondar-mandir kayak kitiran…

Perjalanan Islam Liberal di Indonesia

Narasi ini disarikan dari hasil dialog di mata kuliah Studi Islam Kontemporer di Indonesia di bawah bimbingan Pak Abdul Moqsith Ghazali. Kalimat-kalimat di bawah tidak sepenuhnya gagasan atau kegelisahanku, hanya sebatas hasil catatanku di matkul ini. Catatan yang dicoba untuk dinarasikan supaya memiliki kejelasan hubungan. Eh, Wacana dan pertarungan Islam Liberal pernah terasa dekat saat…

Pak Ali Akbar

Lama tidak menulis, aku seperti lupa bagaimana caranya menulis. Sedikit saya akan bercerita mengenai salah satu dosen di semester ini. Namanya Pak Ali Akbar, kami memanggilnya Pak Abe. Beliau mengampu mata kuliah Arkeologi Islam Nusantara. Pada pertemuan pertama beliau membabar apa itu arkeologi dan termasuk rumpun keilmuan yang mana. Pertemuan kedua beliau menerangkan data-data arkeologi….

Catatan Perjalanan 3

Sepulang dari Guyangan, aku mampir Bangsri. Mendatangi Toko Murah yang menjual kitab-kitab pesantren. Ow ow ow… karyawannya masih orang yang sama. Di Bangsri, hanya ada dua toko buku. Toko Murah dan toko yang berada di jalan raya Bangsri. Aku lupa nama tokonya. Dulu, aku sering bertandang ke situ. Setelah uangku terkumpul beberapa puluh ribu tentunya….

Catatan Perjalanan 2

Makdhe adalah temanku di Darut Ta’lim. Sudah seperti saudara. Kalau ada teman yang lebih dari sekedar teman, lalu apa namanya? Segala pernak-pernik kehidupan masing-masing diketahui. Masalah yang nggak penting banget pun diobrolkan. Lalu kita juga mulai mengenal keluarga masing-masing. Makdhe kakak tingkatku di Aliyah. Kami terpaut jarak usia dua tahun. Ah.. betapa menyenangkan sekali bisa…

Jalanku Tak Tentu Arah (Catatan Perjalanan 1)

Sesampai di stasiun Tawang Semarang, aku merasa bahwa hidup yang kujalani sangat berat. Beberapa kali kuhembuskan nafas supaya aku lekas rileks. Perjalanan panjang yang tak terlalu panjang ini membuatku berperasaan nano-nano. Aku juga tak bisa mendefinisikan apa mauku. Perjalanan Jakarta-Jepara-Lamongan-Gresik-Tuban-Kudus-Demak-Semarang-Jakarta. Jalanku belum tuntas. Sekarang masih kluntang-klunting sendirian di stasiun Tawang. Tidak sendirian sih, sama orang-orang…

Pit Onthel

Nostalgia dengan pit ontel Iky. Melakukan perjalanan dari Bintaro-Ciputat yang kalau naik gojek berkisar di nominal 10.000. Setelah melewati sepanjang jalan, aku memprediksi kalau jarak Bintaro-Ciputat seperti Krapyak-UIN. Sekitar tujuh kilo lah ya. Bangun jam setengah empat pagi. Berjalan ke arah kulkas, mengambil sayuran, kembali ke dapur, dan mengeksekusi bahan mentah. Aku piket masak pada…