Dolanan Pas Sik Cilik

“Lha trus kamu dolanan opo mbak??”itulah kalimat yang kutanyakan pada Mbak Aam secara berulang-ulang. Saat itu kami makan bareng, melahap nasi, mi goreng dan telur penyet.

Sehabis makan, kami mengobrolkan banyak hal seperti sayuran dan makanan sehat. Meski belum cuci tangan, kami tetep saja ngobrol ngalor-ngidul. Pembicaraan kami sampai pada topik permainan saat kami kecil. Aku shock mendengar Mbak Aam tidak pernah ke sawah, gak pernah mandi di kali, gak pernah nangkep ikan dan gak pernah-gak pernah yang lainnya.

Aku memang egois, menyamakan penyebab kegirangan masa kecil. Lalu aku menceritakan apa saja yang sudah kulakukan saat masih bocah. Tiap liburan sekolah, aku dan temen2 se RT janjian pergi ke hutan. Nyari kayu bakar. Anak kecil sepertiku tinggal diam di tempat, karena teman2 yang lebih besar akan mengambilkan kayu bakar untukku, menatanya di atas tali sampai mengikatkan selendang di tubuhku.

Setelah pulang sekolah, aku tidak bergegas ke rumah, karena diajak sepupuku nangkep ikan di kalen (Kali) kecil belakang rumah simbah. Aku dipinjami pakaian cowok mereka, kaos bolong dan celana selutut. Kami mengalihkan aliran air di sungai, menambatnya dengan batu, kayu dan tanah.

Ikan2 kecil akan keluar dan menggelepar karena airnya sat (mengering). Itulah surga kami. Menangkapi ikan yang meloncat-loncat kekurangan air. Saat masa nanem padi tiba, kami ikut membajak sawah. Naik di atas bajak yang dijalankan sapi atau kerbau.

“Lha kamu mainan apa mbk?” tanyaku.

“Renang, delikan, sepeda”, jawab Mbak Aam.

Kalo itu ya aku juga pernah bermain, apa serunya mainan kayak gitu. Itu mah permainan standar anak kecil. Lalu aku melebaikan diri saat bercerita, hiperbola dikit biar ia pengen. Saat jam 8 malam, desaku sudah sepi. Pintu-pintu sudah tertutup rapat. Hanya terdengar suara jangkrik, krik2. Itu adalah suasana malam yang benar-benar malam, mencekam tak ada penerangan umum. Kalo di kota-kota, malam terkadang seperti siang karena cahaya lampu berpendar di setiap sudut. Seperti malam jadi-jadian.

Di desa kami, bintang di langit tak terhitung jumlahnya. Aku yang orang asli desa saja kagum melihat bintang-bintang di keheningan malam. Aku hanya perlu duduk-duduk di teras sambil membenak “Wih. Apik baget rek bintange”.

Bayangkan gelapnya malam tanpa bintang! emoh. Bagus yang ada bintangnya keleus. Aku tak lupa menceritakan kalau di musim hujan, orang-orang akan mengeluarkan asap saat bicara. Jarak pandang lebih dari 10 meter tak akan terlihat karena diselimuti kabut tebal. Desaku sama persis dengan film2 Korea masa kini bukan? tinggal pake jaket tebal selutut, dijamin sudah seperti artis Korea.

Dari nada berceritaku pada Mbak Aam, Aku menangkap kesan bahwa diriku menyesalkan dan menyayangkan masa kecil orang-orang seperti Mbak Aam. Kasihan sekali mereka tidak merasakan masa bermain yang heroik. Hanya merasa kasihan. Lalu Mbak Aam melotot karena tuduhanku atas masa kecilnya yang tidak bahagia, “Emang kagak ada sawah dan sungai di tempatku” Gerutuhnya.

Penulis: Elysa Ghazzal
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s