Mantenan dan Rasa Itu

Sebelumnya, selamat buat Mbak Ika dan Mas Fian yang kini menjadi temen hidup. Semoga hidup kalian semakin gokil, asik dan berkah. Tiap pergi kondangan, aku mengirim sms bapak. Pamer kalo aku sudah mendarat di kota a, b dan c. Namun kali ini aku gak ngasih kabar ke pak e krn aku masih sakit hati sama blio gara-gara balasan sms pak e yg berbunyi “Lha kowe kpn ganti ditekani konco2 lan keluarga?” atas smsku “Pak, niki kulo wnten kediri. Acara mantenan”.

Belum sampai di Pati, Ucha sudah mengancamku akan mengeluarkanku dari mobil rombongan kalo aku tak mau menulis cerita tentang perjalanan penuh perasaan ini. Seusia kami memang masa-masa penuh teror, dimana setiap orang bisa menjadi teroris hanya dengan bertanya “kpn nikah? mana calonmu? temenmu sudah mau nyunatin anaknya, kok bisa2nya kamu belum nikah?” to the point ya. Aku tdk bermaksud bikin dada temen2 sesek ato baper.

Bagi temen2 jomblo yg siap menikah dalam waktu dekat tapi belum punya calon, tetaplah stay cool man. Aku yang menulis saja mencoba bertahan meski pertahanan ini hampir roboh. Sesampai di rumah sang mantan, eh manten, kami menyerbunya di kamar. Minta poto bareng. Kami mendengar serangkaian acara akad mulai pembukaan dst. Inilah detik2 penentuan hidup yang mendebarkan.

Posisiku sebagai peneliti yang berusaha teliti atas detail peristiwa. Tapi boi, peneliti ini tak bisa bersikap objektif, karena ia terbawa suasana nganten yang aduhai. Lebih-lebih saat dua manten dipertemukan di pelaminan sesudah akad. Mas Fian mewek. Kalo Mbak Ika yg mewek aku biasa aja. Tapi beda kalo manten laki yang mencucurkan air mata. Kedua manten mengheningkan cipta dalam syahdu doa.

Setelah wakil manten laki memberikan sambutan penyerahan, sepasang manten yang duduk malu bersandingan mulai membuka pembicaraan. Mereka cekikikan bersama. Entah apa yang diomongkan, sungguh sampai mati aku jadi penasaran. Apa manten pria bilang “tadi grogi g pas akad?”. Atau Mbak Ika mempersilakan Mas Fian dengan bilang “welcome to my life”.

Perasaan mereka campur aduk antara takut, bahagia, capek dan harap2 cemas menghadapi malam ini. Orang2 tua spt Mbak Mela, Ayim, Mbak Idut, nyonya dan Ukah sangat khusyu’ dan khidmat berdoa. Berharap semoga mereka segera berhasil menghadapi aksi teror sosial dengan menggandeng bojonya masing2.

Kalo ada temen yang mau diajak menggila, aku ingin melambaikan tanganku ke arah Mbak Ika ketika di pelaminan. Suasana mantenan kok mencekam begitu. eh keceplosan. Maksudku karena saking khidmatnya, menjadi mencekam bagi para jomblo. Barangkali jika aku mengacungkan tangan, suasana itu bisa sedikit cair. Juga aku pengen ikut ngerok es krim dan memasukkannya ke dalam gelas tapi kuurungkan. lebih baik baper menonton manten yang lagi bahagia2nya sambil menyendoki es krim di pojokan pintu. Sendirian pula, terpisah dari rombongan. Kalo perlu, sekalian mewek biar tambah baper.

Penulis: Elysa Ghazzal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s