Radio

Hidup di zaman yang sehebat ini, tentu akan dianggap aneh oleh sebagian orang jika kita masih setia pada radio. Contohnya saja aku. Namun, aku tidak akan ambil pusing dengan perkara ini. Penulis keren sekelas Hirata (pada tahu kagak? aku juga gak tahu, hehe) saja masih menyoroti dunia pe-radio-an di novel terbarunya berjudul “Ayah”. Kalimat yang paling ku suka dari cuplikan cerita tersebut berbunyi:
“Mungkin radio tidak semasif media-media lain dalam hal pemberitaan dan penyaluran informasi. Tidak segesit internet dan televisi. Tidak sekeren majalah, tabloid, koran dll. Namun radio tetaplah radio. Kebahagiaan yang diberikan pada penikmatnya tetap tidak bisa dibanding-bandingkan dengan kementerengan media-media lain. Radio adalah teman yang mengiringi perjalanan sejarah. Meski tidak semenjanjikan media-media lain, radio akan tetap bersemayam di hati karena hal itu berkaitan dengan kehidupan seseorang.”
Nah kan??
Dulu, sewaktu Jepara mebelnya mengalami masa keemasan, kampungku kecipratan keuntungannya pula. Bisnis mebel sangat menjanjikan. Bahkan bagi para penduduk desa yang menggantungkan hidupnya pada Gusti Allah melalui hasil sawah. Tetangga-tetanggaku mendirikan brak mebel (tempat nukang) di rumah masing-masing. Tetangga yang ingin bekerja di sana tinggal bilang pada yang punya brak mebel. Tetangga belakang rumahku juga punya brak. Siang-siang sembari mendengar bunyi berbagai alat mebel seperti graji, pethek, serut, amplas, tatah, dll, terdengar pula suara penyanyi dangdut yang sedang ngehit saat itu. Penyanyi angkatannya Evi Tamala. Suara penyanyi tersebut berasal dari sebuah benda ajaib yang bernama radio. Sesekali penyiarnya berceloteh ria, memperbincangkan banyak hal yang menjadikan suasana desa kami semakin aduhai. Barangkali, radio memang “teman” yang pas bagi pekerja mebel.
Bapak juga memiliki satu radio. Aku belajar menyanyi beberapa genre musik dari radio Bapak. Dangdut, Malaysia, Qasidah, India dkk. Radio Bapak sudah canggih kala itu karena bisa memutar kaset. Namanya radio tip. Bapak membeli kaset-kaset dangdut yang berisi lagunya Rhoma Irama, Ida Laela, Elvi Sukaesih, Rita Sugiarto dkk. Secara otomatis, lagu-lagu tersebut mengakar kuat dalam ingatanku. Lha gimana nggak mengakar kuat, kalau setiap hari Bapak menyetel kaset-kaset tersebut. Saat ini jika aku mendengar lagu-lagu tersebut, aku merasa berada dalam suasana kampung saat aku masih kecil.
Bapak juga membelikanku kaset-kaset sholawatan mulai dari grup rebana Magelang, grup Nasidaria, Al-Muqtashidah yang saat itu dibintangi A. Yani, A. Rofiq dan Abdul Mu’id. Itu lho yang albumnya “Suara Hati”. Kaset-kaset itu pun diputar di dalam radio. Setiap sore aku juga nongkrong di depan radio, menunggu lagu-lagunya Mayada diputar oleh salah satu station radio. Kalau jam 2 adalah jadwal musik India di radio Pop FM Jepara kalau nggak salah.
Tidak mau kalah dengan Bapak, Mamak juga gemar meminjam kaset-kaset lagu Malaysia milik kakak sepupu. Kakak sepupuku tergolong pemuda gaul menurut ukuran masa itu, koleksi lagu-lagu malaysianya lengkap. Popy Mercury dan Nike Ardila adalah idola Mamak. Kaset tersebut diputar Mamak keras-keras seolah-olah orang sedesa harus ikut mendengar.
Posisi seperti apa yang pas untuk menikmati lagu-lagu Malaysia tersebut? Tentu duduk leyeh-leyeh di teras rumah adalah posisi paling enak. Namun tidak dengan Mamak. Beliau justru dengan bekerja berat, menggendong gabah/padi yang akan dijemur. Mamak bolak-balik antara rumah dengan halaman rumah. Mamak baru bisa duduk santai jika padi-padinya sudah terjemur rapi di atas terpal lusuh. Itu pun belum santai seratus persen karena Mamak masih menunggi padi tersebut agar tidak dimakan para ayam. Atau aku yang menunggui sembari mengusir ayam jika mereka sudah mendekat pada padi kami. Sedangkan Mamak masuk ke dalam rumah, memasak. Lagu malaysia tersebut mengalir syahdu yang entah kupahami maksudnya atau tidak.
Terkait dengan lagu Malaysia, mamakku punya suatu keinginan. Hal ini kuketahui saat kami ribut di dapur. Kemudian terdengar lagu Malaysia mengalun. Tiba-tiba mak e nyelethuk, “sesuk nek ndue gawe (punya hajat-mantu), aku pengen nyetel lagu Malaysia wae. Enak. Alon. Koyone pas nggo ngiringi wong sambatan”.
Aku langsung menimpali, “Iya Mak. lagu kayak gini aja. Dari pada dangdut koplo, aku nggak suka.”
Sinis makku menjawab, “Makanya cepet nyari.” Eh kok jadi aku yang kena. Pasti Mak e lagi baper, jadi ikut-ikutan baper nih.
Ketika aku mondok di Darut Ta’lim yang tidak memperkenankan santrinya membawa HP, MP3 dan alat hiburan lainnya, aku merasa duniaku menyempit. Kala itu radio masih diperselisihkan antara boleh atau tidak. Aku menyimpan ide untuk membawa radio sehabis pulang. Kuutarakan maksudku pada Bapak, barangkali beliau memiliki solusi untuk membuat hidupku lebih berwarna sedikit. “Ahaa, aku punya ide cemerlang El. Embah lor (utara) punya radio yang tidak pernah dipake lagi. Nanti kumintakan radionya untukmu”, Bapak benar-benar punya jalan keluarnya. Simbah memiliki dua radio, satu radio tip dan satu radio orisinil alias tanpa tip. Radio orisinil inilah yang kemudian kubawa ke pondok. Setidaknya aku bisa tahu sedikit perkara yang dibicarakan oleh orang yang berada di luar.
Radio orisinil simbah menggunakan energi baterai untuk beroperasi. Hm, baterai ABC ukuran besar. Kalau baterainya habis, radio orisinil simbah hanya membisu di kamar pondok. Kami harus menjemur baterai-baterai tersebut kalau ingin radio itu bersuara dan bersenandung ria lagi. Kami menjemur baterai ABCnya di atas atap pondok. Kalau baterainya sudah berenergi, kami akan mengerubunginya. Radio tersebut diletakkan di atas almari. Kami hanya perlu duduk dan khusyuk menyimak sambil bersandar pada almari.
Meski nggak terlalu suka sama radio, Lisa gemar bertanya mengenai sejarah hidup kami. Termasuk tentang radio di rumah kami. Pertanyaan yang terlontar seperti, “Mbak, Wong kae ki kancamu te?/ mamak mbiyen koyo opo pas kowe cilik?/ Mbiyen penggeanmu mek iwak neng laren?/Pas kowe cilik, bapak wes ndue radio?/ Radio iku ws ono kawet mbiyen mbak?/sing mulang neng MI sopo wae mbak pas jamanmu?”. Kata kuncinya adalah “Mbiyen” dan “Pas kowe cilik”. Jan bocah iki kudu sekolah neng sejarah aja. Paling getol kalau menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu.
Sampai saat ini pun, radio masih menjadi penghibur di keluarga kami. Terutama aku dan Bapak. Mamak sampai bilang, “Radio kok diserat-seret. Akeh temen sing seneng” waktu melihatku menenteng radio dari ruang tengah menuju kamar tidur. Radio Bapak berpindah dari satu ruang ke ruang yang lain. Ruang tengah, kamar Bapak, ruang depan sampai kamarku. Balik lagi ke ruang tengah. Muter terus. Sedangkan Mamak dan Lisa tidak begitu demen pada radio. Anak memang putra sang aman. Aku anak radio. Lisa anak televisi.
Di novel “Ayah”nya Andrea Hirata, benda yang bernama radio ini sangat dikeramatkan. Kalau bapak Zorro nggak dengerin radio, artinya ada sesuatu yang salah dengan diri sang bapak. Saat bapak Zorro merawat ibu Zorro yang sakit-sakitan, bapak Zorro yang kelelahan merasa terhibur dan terobati atas jasa radio. Tentu tidak mudah seorang laki-laki yang ditinggal sakit istrinya. Rumah berantakan plus harus merawat istri sakit. Tapi kalau ada radio, beban yang teramat beratpun perlahan menjadi ringan. Hebatnya radio bagi bapak Zorro. Saat radionya kemresek, bapak Zorro melakukan berbagai cara untuk mencari saluran yang jernih. Termasuk meracik antena dari wajan rusak, kawat dan kandang ayam. Entah bagaimana cara membuatnya. Dasar Andrea Hirata orang pinter, makanya novelnya menjadi sedemikian rupanya, bau-bau ilmuwan.
Hm… dunia musik juga memberikan kesan dan kenang-kenangan untuk radio. Sheila On dan Didi Kempot diantaranya. Kata Didi Kempot, “Penyiar radio aku maturnuwun karo kowe. Suaramu ora bisa dilaleake. Penyiar radio aku saben dino ngrungoake….”.
Radio ku nyalakan, ribuan alunan kenangan kembali berputar di kepalaku.
Penulis:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s