Sosok Nek Kiba dan Ingatan Masa Kecil di Kampungku

Pernah baca bukunya Tere liye yang “Serial Anak-anak Mamak”?. Itu lho yang ada Eliana, Pukat, Burlian dan Amelia. Aku sudah baca tiga dari empat serial tersebut. Tinggal Burlian yang belum. Seru banget dah. Padahal sebelum-sebelumnya, aku nggak begitu tertarik dengan tulisan-tulisan Tereliye. Namun, ini beda boi. Di kemudian hari, aku mulai menggandrungi buku-buku Tereliye. Mungkin karena ceritanya yang hampir sama dengan cerita anak-anak kampung sepertiku yang tidak bisa lepas dari hutan, sosok teladan di kampung dan sekolah yang serba terbatas, menjadikanku menikmati alur ceritanya.
Di “Serial Anak-anak Mamak” (selanjutnya ditulis SAAM) ada banyak tokoh tentunya. Eliana, Pukat, burlian, Amelia, Bapak, Mamak, Wak Lihan, Nek Kiba, paman Unus, Pak Bin, Raju dan kawan-kawan. Dalam kesempatan ini, saya ingin mengulas sosok Nek Kiba dulu. Beliau adalah guru ngaji di kampung anak-anak mamak, daerah Sumatra sana. Beliau yang memintarkan orang-orang kampung dalam membaca Al-Qur’an. Barangkali, seluruh penduduk kampung pernah berguru dan menyetorkan bacaan Al-Qur’an ke nek Kiba. Beliau adalah guru ngaji lintas generasi. Saat ada murid yang bacaannya salah, ia akan meludahkan kinangnya ke batok kelapa. Cuih. Kalau murid-muridnya pada berisik, ia akan memukulkan rotan keras-keras supaya mereka lekas diam. Meskipun murid-murid segan, beliau tatap disayang murid-muridnya. Terlebih, Nek Kiba suka bercerita setelah anak-anak selesai setor ngaji. Cerita tentang Nabi-nabi, sahabat, Abu Nawas dan cerita-cerita yang segenre. Cerita yang bernilai mulia tentunya. Inilah momen yang selalu ditunggu-tunggu. Murid-murid tak sabaran untuk mendengarkan ceritanya.
Demikianlah gambaran singkat kehidupan Nek Kiba di SAAM. Di sini, saya ingin bercerita tentang sosok Nek Kiba di kampung saya. Sudah barang tentu kalau namanya bukan Nek Kiba. Sebatas sosoknya yang mirip. Karena apa? Nek Kiba di SAAM dan sosok Nek Kiba di kampungku sama-sama seorang guru ngaji. Boleh jadi, sosok-sosok seperti Nek Kiba inilah yang akan berpengaruh besar dalam kehidupan seseorang.
Beliau mengajarkan banyak hal kepada murid-muridnya. Mulai bunyi huruf Arab A, I, U, An, In, Un, Alif fathah “A”, Alif dhommah “U”, Alif kasroh “I”, bacaan sholat (pake kitab fasholatan), gerakan sholat, baca Al-Barzanji, doa-doa harian sampai bagaimana kita bersikap kepada orang tua dan guru-guru kita. Hidupnya diabdikan untuk kehidupan orang lain yang lebih baik. Menanamkan sikap baik semenjak dini. Tentu pengajaran model seperti inilah yang akan selalu diingat anak-anak sampai mereka tumbuh dewasa, tua bahkan sampai mati.
Ialah Bu Subi, guru ngaji keduaku setelah Pak Samsul (kakak Ipar Bu Subi). Usia saya sekitar tiga tahunan saat ngaji ke Pak Samsul. Saat itu, di kampungku belum ada listrik. Saat petang tiba, lampu-lampu uplik (oblik) telah menghiasi setiap rumah. Memancarkan cahaya terang di kampung kami yang gelap gulita (peteng ndedet).
Lampu uplik tersebut menjadi penerang tunggal di kampung kami. Belum ada yang menandingi. Kecuali, ketika ada acara lingkungan semacam pembacaan Al-Barzanji (Berjanjen) yang mengumpulkan banyak orang setiap seminggu sekali. Dalam acara-acara besar tersebut, tidak mungkin kalau mengandalkan lampu uplik sebagai penerang. Para lelaki dewasa sudah menyiapkan lampu stroking yang sinarnya bisa menerangi satu rumah. Tidak hanya menerangi satu hati. Hehe
Ketika suara adzan Maghrib berkumandang, seluruh warga bergegas ke Langgar (Musholla). Kami berjalan bareng dengan tetangga-tetangga yang lain. Anak-anak kecil berlari-lari, siapa yang bisa tiba di Langgar terlebih dahulu adalah pemenangnya. Saat lari-lari, kami masih bisa menikmati kerlap-kerlip lampu kapal yang entah berada di laut mana. Yang jelas, kapal-kapal nelayan tersebut ikut berperan dalam menciptakan petang syahdu di kampung kami. Kami hanya berpikir kalau kapal-kapal tersebut berlayar di daerah Sumatra. Karena apa? Ada tetanggaku yang transmigrasi ke Sumatra. Cerita yang kudengar dari tetangga2, kalau ke Sumatra itu naiknya kapal. Sederhana saja, saat kami melihat kapal-kapal, pikiran kami langsung mengarah ke cerita tetangga Sumatra kami. “Pasti itu kapal di Sumatra”, ucapan kami sangat mantap saat ada yang tanya “itu kapal dimana?”.
Yesseleh…malah jadi salah fokus dan nglantur kemana-mana. Habis membaca salam, kami langsung lari menuju tempat mengaji. Saling mendahului supaya bisa ngaji paling awal. Kami tidak ikut wiridan, apalagi doa. Kelamaan boi. Seingatku, selain Mamak dan Bapak, guruku pertama kali ngaji al-Qur’an adalah Pak Samsul. Kami selalu mendatangi rumahnya setelah jama’ah shalat Maghrib di Langgar. Lampu uplik yang disiapkan untuk kegiatan mengaji ada dua. Satu di dekat pak Samsul, satunya lagi di meja seberang. Nah, lampu uplik di meja seberang inilah selalu dibuat mainan oleh anak-anak yang lebih besar dari usiaku. Tangan-tangan mereka usil, mencoba memegang api dari lampu uplik (ajang pamer, siapa yang bisa menyentuh api adalah pemberani yang nggak takut terbakar, atau dalam bahasa mistisnya, nggak mempan sama api. hahaha). Terkadang, mereka terlalu bersemangat memegang api, sehingga apinya padam. Kalau sudah begitu, mereka izin pada Pak Samsul, bilang kalau mau mengambil (nyumet) api di dapur Pak Samsul. Yayaya. Kalau api dalam hati gimana ya nyalainnya? *abaikan
Ngaji pada Pak Samsul tidak berlangsung lama. Beliau pindah rumah ke kampung kami bagian Barat. Daerahku berada di wilayah Utara. Terang saja, kami sudah tidak bisa ngaji ke Pak Samsul lagi karena jarak yang cukup jauh. Jadilah kami ngaji ke Bu Subi, adik ipar Pak Samsul. Barangkali aku ngaji al-Qur’an dengan Bu Subi selama enam tahun lebih. Dari umur berapa (aku lupa) sampai lulus MI(Setingkat SD). Selama itu aku intens berhubungan dengan Bu Subi. Beliau adalah guru yang sabar, tegas, disiplin dan selalu mencontohkan kebaikan pada kami. Kami para murid-muridnya tak pernah memberi upah mengajar al-Qur’an kayak di sekolah-sekolah. Beliau mengajari kami tanpa pamrih.
Sewaktu kelas tiga MI, aku mendengar kabar dari Mamak kalau Bu Subi akan mengajar di sekolahku, MI yang baru memasuki tahun ketiga. Mendengar kabar tersebut membuatku senang tak terkira. Iyalah, Bu Subi adalah guru favoritku. Selain itu, aku juga diajar beliau saat sekolah TPQ. Belum lagi dengan posisi tetangga, aku belajar banyak dari beliau di luar tiga kegiatan belajar formal (MI, TPQ dan ngaji sehabis Maghrib). Bu Subi adalah salah satu teladanku yang kehidupannya selalu menyita perhatianku.
Secara garis besar, jadwal ngaji di rumah Bu Subi adalah sebagai berikut: Hari senin sampai Rabu kami menyetor bacaan Al-Qur’an. Hari Kamis libur karena ada yasinan. Hari Jum’at menyetor bacaan Al-Barzanji, Jum’at berikutnya libur karena ada Qur’anan (membaca al-Qur’an secara bergiliran) di lingkungan RT 14, hari Sabtu menyetorkan hafalan bacaan-bacaan sholat (fasholatan) dan hari Ahadnya libur. Ada berjanjian (pembacaan al-Barzanji) di lingkungan. Setiap hari (kecuali hari libur), rumah Bu Subi selalu ramai akan suara anak-anak kecil. Terdengar sekali anak-anak yang mengulang-ulang bacaannya sebelum setor ke Bu Subi. Bu Subi mengharuskan kami supaya kami selalu menderes al-Qur’an sebelum menghadap beliau. Membaca al-Qu’an secara berulang-ulang tak lain dan tak bukan bertujuan untuk membiasakan lidah kami dalam membaca al-Qur’an, memfasihkan bacaan dan meminimalisir kesalahan.
Namanya juga anak-anak kecil, suara mereka terdengar lucu dan polos. Membaca al-Qur’an dengan suara keras dan bermuka serius (lekak-lekuk wajah anak kecil saat membaca al-Qur’an terlihat serius banget, menandakan kalau ia sedang berusaha mengingat-ingat huruf-huruf al-Qur’an sampai mukanya tak karuan begitu. Coba deh amati adikmu kalau pengen tahu!).
Meskipun rumah Bu Subi selalu diramaikan suara ngaji anak kecil tiap harinya, ada malam-malam tertentu yang hening dan sunyi. Suara-suara anak kecil yang ngaji bersahut-sahutan nggak terdengar lagi di hari Sabtu (malam Ahad). Entah karena alasan apa, yang ngaji biasanya Cuma 2-3 orang. Padahal di hari biasanya mencapai lima belas anak. Usut punya usut, banyak anak yang nggak berani ngaji pada hari Sabtu karena di hari Sabtu, kami harus menyetorkan hafalan bacaan-bacan sholat dari niat sholat wajib, niat sholat2 sunnah, doa qunut sampai doa sehabis sholat wajib maupun doa habis sholat2 sunnah (yang tentunya berbeda-beda itu dan membuat bingung).
Ketika yang berangkat ngaji berjumlah dua tiga anak, kasih sayang Bu Subi sangat terasa sekali. Beliau bercerita apapun yang beliau ketahui, memotivasi kami, bercerita tentang sekolah2 di kota kecamatan sembari menghidangkan camilan (amek2) yang beliau punya. Makanan khas orang desa semacam singkong rebus, kacang, jagung dan jambu air yang dipetik Bu Subi sendiri dari pohonnya. Kami merasa akrab dan tak punya jarak dengan beliau. Nggak ada pakewoh-pakewohan. Bu Subi memperlakukan kami layaknya teman sendiri. Dan kami menganggap beliau seperti ibu sendiri. Kami juga menyayangi beliau.
Saat ramadhan tiba, suasana mengaji di rumah Bu Subi kian rame dan seru. Nuansa Ramadhan sangat berpengaruh sekali dalam menciptakan lingkungan yang relijius. Kami saling balapan mengaji dan memperbanyak setor. Di hari biasa, kami hanya menyetor bacaan Al-Qur’an paling banyak satu lembar. Saat puasa, kami bisa menyetor berlembar-lembar halaman. Banyak sekali dan kami tentunya bergembira karena boleh setor banyak-banyak. Kami mengaji dua kali ketika puasa, sehabis buka puasa dan setelah sahur. Meskipun masih fajar dan teramat petang, kami tetap melangkahkan kaki ke rumah Bu Subi. Dan tentunya, kami disuguhi makanan buka keluarga Bu Subi.
Bu Subi merupakan salah satu dari sedikit orang desa yang berpikiran maju dan mempunyai kepedulian terhadap pendidikan anak desa. Sebagai guru TPA, beliau sering mengikuti penataran-penataran di kota kecamatan. Setelah mengikuti penataran, kami selalu mendapatkan banyak cerita dari Bu Subi. Misalnya setelah mengikuti wisuda TPQ di Tengguli, beliau langsung membagikan apa-apa yang beliau saksikan dalam acara tersebut. Tentang metode Amtsilati dan hafalan nadzamnya yang asyik.
Cerita-cerita Bu Subi mengantarkan kami pada hal-hal baru dari kota yang tidak kami peroleh di desa kami. Bu Subi telah membuka jalan bagi kami, kemudian kami yang akan memasuki lorong-lorong yang entah berujung dimana. Kami akan terus berjalan di lorong-lorong yang telah membentang atas bantuan Bu Subi tersebut.
Penulis: Elysa Ghazzal
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s