Doa Untuk Dek Riska

gambar-danbo-lagi-sakit

Aku adalah alumni salah satu pesantren di daerah Jepara, tepatnya kecamatan Bangsri. Ponpes Darut Ta’lim (DT) namanya, pengasuhnya Bpk. KH. Ma’arif Asrory dan Ibu Nyai Hj. Muyassaroh. Hubungan kami para santri dengan beliau berdua layaknya hubungan orangtua dan anak. Kami para santri putri memanggil beliau berdua dengan panggilan “bapak” dan “ibuk”. Tak jarang pula santri putri berbisik-bisik ngomongin santri putra yang memanggil bapak dan ibuk dengan panggilan “pak yai” dan “bu nyai”, (santri putra itu kayak anak tiri aja ya,,hehehe. kenapa ndak manggil “bapak” dan “ibuk” aja kayak kita).

Enam tahun tinggal di DT membuatku berpikir kalau nanti tinggal di rumah (Ds. Sumanding) pasti sulit. Apalagi tinggal di pondok selamanya. Pikiran ini muncul karena sudah saking betahnya tinggal di Pesantren. Sampai pada suatu saat aku dan beberapa temenku keterima di UIN SUKA YK. Mau tidak mau, akupun harus merantau ke Jogja.

Di akhir semester 2, bapak dan ibuk memberi kabar pada kita (kak makmun, encop n aku) bahwa beliau akan ke Jogja, mengantar seseorang untuk mencari pondok pesantren. kita bertanya-tanya “siapa sih seseorang tersebut? kok sampai bapak dan ibuk yang ngantar”. kita berspekulasi dan menebak-nebak siapa orang yang akan diantar bapak dan ibuk untuk mencari pesantren. kita menebak-nebak aja “jangan-jangan itu calon menantu ibuk”. kan ibuk putranya lelaki semua,,,hehehe

Nah, barulah terjawab rasa penasaran kita saat bertemu langsung dengan seseorang yang diantar ibuk… walah,,,ternyata dek Riska toh. Ternyata dia masih keponakan ibuk, dan akupun pernah satu kelas ketika di Madin DT kelas satu. Waktu itu, aku kelas satu Mts, dan dek Riska kelas enam SD. Dia ikut ngaji di pondok, namun tidak tinggal di pondok. Istilahnya, mungkin santri kalong kali ya…. aku juga sering berpapasan dengannya ketika pergi ke sekolah. Sekolahnya deket dengan sekolahku.

Mts-ku ndak punya halaman yang cukup untuk olahraga. kalau olahraga di halaman sekolah, tentunya akan mengganggu kelas-kelas lain. Sehingga, ketika jam pelajaran olahraga, kelas harus dialihkan ke lapangan Bangsri. Banyak anak-anak sekolah yang olahraga di lapangan ini. Ada anak SD, Mts, SMA, MA, SMK, Mts WH dll. Kebetulan sekali, jam pelajaranku sama dengan jadwal olahraga anak SD, mungkin kelas 2 atau kelas 3. Lagi-lagi ternyata, itu kelas adiknya dek Riska. Kalau ndak salah, namanya Lia. kami anak Mts sering ngerjain anak-anak SD. Kalau ada anak yang cantik dan ganteng, kami akan memasangkannya. Nah, yang kami kerjain ternyata dek Lia, adiknya dek Riska.

Atas beberapa pertimbangan, akhirnya dek Riska mondok di PP WH asrama Khalimah satu (asrama tahfidz). Dalam beberapa kesempatan, aku pernah bertemu dengannya beberapa kali tanpa disengaja. Entah di maskam, di jalan, maupun di perpus. Kebetulan juga, teman aliyahku juga ada yang di asrama khalimah satu… lumayan ada temennya di sana.

Sewaktu pulang, aku n Encop sering mampir ke ndalem ibuk. Sekedar meminta doa restu atau pamit kalau mau balik ke Jogja. Ibuk seringkali tanya “Gimana ngajinya? Riska sudah jus 10 lho,,”. aku n Encop cuma senyum kalau ditanya masalah ngaji sama ibuk. hehehe. Yah, kita sadar sudah mengecewakan beliau. Pasti deh undup-undup kalau sowan, maju-mundur dan saling dorong siapa yang harus salim duluan. Dalam hal ini, biasanya Encop yang ngalah dan maju untuk salim duluan.

Cerita dari temen dan adik2 yang di WH, dek Riska sering sakit dan pulang dalam jangka waktu yang lama. Kalau balik ke Jogja, sebentar-sebentar sakit. Thypus telah menyatu dengannya. Tiba-tiba ada sms yang masuk dari Khalim, minta hadiah surat al-fatihah untuk dek Riska supaya cepat sadar dari komanya. Thypus yang diderita dek Riska tidak sekedar thypus, tapi thypus yang sudah akut.

Kegiatan malam jum’at di pondokku biasanya pembacaan Dziba’ dan Barzanji. Aku duduk berdampingan dengan Encop dan ngobrolin sms Khalim. Encop kata, dek Riska koma dan otaknya sudah tidak berfungsi.

“Ayo nengok pas pulang”, kataku.

“Yah, kita tetep g bisa ketemu mb, kan di ruang ICU”

“Gpp lah, kan bisa ketemu orangtuanya”

Kita kembali memperhatikan kitab Barzanji dan mengikuti pemimpin dziba’iyah dengan suara pelan. Inti Dziba’iyah selesai, ada kultum n sambutan dari beberapa pengurus. Kemudian acara benar-benar selesai ketika doa telah dibacakan. Para santri kembali ke rayon dan kamar masing-masing.

Kebiasaan santri di pondokku setelah usai kegiatan, semuanya berbondong-bondong untuk ngaktifin Hp. Maklum, pondok mewajibkan seluruh santri untuk menon-aktifkan Hp sejak Magrib sampi selesainya semua kegiatan pondok. Padahal, kalau dipikir2 gak ada sms dari siapa-siapa. Entahlah, mungkin seneng aja kali ya,,,

Aku juga termasuk santri yang seneng banget kalau hpnya aktif. Ada sms masuk dari Khalim, dia mengabarkan bahwa dek Riska telah kapundut dining Gusti Allah. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un,,,

Kematian memang kepastian. Namun, tidak ada orang yang tahu kapan dan di

mana terjadinya. Kami temen-temennya, belum sadar betul dengan berita yang terasa sangat cepat ini. Yah,,,semoga dek Riska mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

Insyaallah khusnul khotimah, posisi sedang menuntut ilmu dan dalam proses menghafal al-Qur’an. Selain itu, semoga kesalahan-kesalannya telah telah terlebur dalam sakit panjangnya. amiin,,,

Allahummaghfir laha warhamhaa wa ‘afiiha wa’fu  ‘anha

Penulis: Elysa Ghazzal
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s