Tentang Ubaidah Umala

Way to success concept

Sedikit yang ingin ku ungkapkan dan ceritakan sekilas kehidupan anak tetanggaku.

Baiklah kawan, namaku Ubaidah Umala temen dari sang penulis.  Orang lain sering memanggilku ubaid/idah/mala. Nama yang keren menurutku karena ku menyukainya. Aku tak tahu kenapa orangtuaku bisa memberiku nama seapik itu –bukannya aku meragukan kemampuan orang tuaku— malah sebaliknya justru aku mengaguminya. Orangtuaku yang menyelesaiakn pendidikannya hanya sampai pada tingkat Sekolah Dasar bisa memberiku nama yang enak didengar. Sungguh menyenangkan bukan?

Rumahku terletak di desa dekat gunung. Kebanyakan rumah tetanggaku sudah terbuat dari batu bata. Walau belum diplester dengan pasir dan semen sudah terlihat olehku sebagai bangunan yang kokoh. Beda dengan rumahku yang terbuat dari kayu pohon randu (kapuk). Ketika hujan angin, air hujan memaksa masuk kerumah melalui atap dan dinding yang bolong.

#*#*#

Aku sekolah di Sekolah Negara. Meski desaku merupakan desa terakhir yang tak ada desa lagi setelah desaku ada dua lembaga pendidikan dasar disana, yaitu Sekolah Negara dan Sekolah Agama milik Yayasan “pembesar” agama di desa.

Sejujurnya aku ingin sekali bersekolah di Sekolah Agama, tapi apa daya setelah salah satu guru Sekolah Negara menemui kedua orangtuaku untuk memasukkanku ke Sekolah Negara dengan iming-iming Spp, pendaftaran, seragam, dan buku-buku yang semuanya serba gratis. Emak bapakku langsung menyetujuinya dan seketika membuat tubuhku terkulai lemas.

Orangtuaku senang bukan main mendapatkan anaknya akan bersekolah tanpa mereka harus mengeluarkan uang sepeserpun. Aku tahu kalau orangtuaku sering bertengkar karena permasalahan keuangan dalam keluarga kami kurang  baik.

Tak apa aku disekolahkan disekolah yang serba “gratis” karena dapat mengurangi beban kedua orangtuaku. Betapapun sakitnya sebagai anak kecil yang memendam keinginannya dan mengalah terhadap keadaan. Aku iri pada anak tetangga yang bersekolah di Sekolah Agama karena jumlah siswa seangkatanku lebih banyak dan pastilah menyenangkan berbaur dengan keramaian anak-anak. Beda dengan sekolahku yang sekelas hanya diisi 6 murid termasuk diriku serta keadaan sekolah yang menyeramkan karena tak ada kegaduhan serta keceriaan tawa riang  anak-anak.

#*#*#

Suatu hari ketika aku menggendong adikku dan mengajaknya bermain –ibuku pergi ke sawah— aku bertemu dengan tetanggaku yang kini pulang karena liburan akhir semester, namanya kak David. Ia kuliah di Kota Jogjakarta. Banyak orang yang mengelu-elukan kak David karena keramahan, kepandaian serta kesederhanaannya. Aku jarang bertemu dengannya karena ia setelah lulus dari Sekolah Agama langsung melanjutkan pendidikannya di SMP ternama di Kota serta tinggal di pesantren.

Dia menyapaku dan bertanya:

“Ini Idah ya? Apa ini adikmu?” sambil mencubit pipi adikku.

“Iya kak, aku Idah dan ini adikku”

“oh,,,, Idah sekarang kelas berapa?”

“Alhamdulillah kelas enam kak, mohon doanya supaya Tuhan memberiku ilmu yang bermanfaat”.

Awalnya aku ragu untuk menyampaikan keganjalan-keganjalan yang kurasakan atas realitas masyarakat sekitarku. Tapi asal-asalan saja akhirnya kata-kataku keluar juga. Merasa bahwa tetanggaku ini adalah orang yang baik serta merasa nyaman saja kalau berbincang-bincang dengannya, tanpa memandang bahwa yang diajak bicara adalah anak bau kencur yang masih SD. Dia mendengarkan semua yang kusampaikan.  Aku menceritkan semua keluh kesahku, kuceritakan sekolahku, orangtuaku, serta perlakuan tetangga yang memandangku rendah lantaran aku sekolah di Sekolah Negara.

Setelah mengambil nafas sejenak, ia berkata “Idah, setiap manusia dibekali Tuhan kelebihan-kelebihan disamping kekurangan-kekurangannya. Tinggal bagaimana kita menyikapi serta mensiasati kedua bekal tersebut. Apakah yang akan kita tampilkan kelemahan kita atau kelebihan kita. Walau kamu belajar di Sekolah Negara, itu bukan suatu kejelekan yang harus disesali. Yang penting kamu mampu menunjukkan kelebihan yang kamu miliki dimanapun kamu berada. Begini, kamu harus menunjukkan pada seisi kampong bahwa kamu “bisa”. Dengan begitu kamu tidak akan dianggap rendah lagi oleh orang lain”.

#*#*#

Masyarakat desaku mempunyai konstruk pemikiran yang memandang rendah tetangga mereka yang mendaftarkan anaknya di Sekolah Negara karena telah mengabaikan pendidikan dasar bagi sang anak. Tidak menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam diri sang anak. Begitulah kiranya kenapa aku malu sekolah di Sekolah Negara. Aku dinilai rendah karena pengetahuan agamaku kurang. Asumsi mereka bahwa anak yang pengetahuan agamanya kurang adalah anak yang kurang baik dan nakal.

Ups,,,, aku merasa menyesal karena telah berkeluh kesah pada kak David mengenai banyak hal tadi. Aku lupa bahwa kak David adalah putra dari salah satu “pendiri” yayasan Sekolah Agama. Aku takut dan khawatir kakak tadi bilang pada abahnya tentang penilaianku terhadap Sekolah Agama yang membuat iri sebagian anak desa seperti saya karena tak mampu membayar SPP di Sekolah Agama dan terpaksa memilih Sekolah Negara sebagai pilihan terakhir. Tapi mengingat nasihat yang ia berikan, aku membenarkan nasihatnya dan memang kayaknya begitulah hidup.

Ooooh, kak David!!! Dapatkah engkau menyelamatkan keluarga kami dengan tidak bilang pada abahmu bahwa aku (air mataku meleleh). Ketakutan anak kecil sepertiku sungguh seperti ketakutan ketita ibu pulang dari sawah terlalu sore, khawatir kalau ibu terbawa air ketika menyeberangi sungai yang aliran sungainya terlalu deras   dan  banjir. Kembali teringat ibu yang mencabuti rumput di sawah, air mataku kembali meleleh. Takut kalau ibu yang akan menanggung akibat perbuatanku.

#*#*#

Aku heran terhadap orang-orang pintar dikampungku. Kok bisa mereka berbuat seperti itu, saling berebut pengaruh dari orang-orang kecil sepertiku. Antara Sekolah Agama dengan Sekolah Negara saling menjatuhkan satu sama lain guna memperoleh murid yang banyak.

Mungkin menurut “pembesar” kampungku, dengan jumlah murid yang banyak, eksistensi mereka akan diakui orang lain dan akan mendapatkan penghormatan yang lebih. Dengan saling berebut pengaruh, maka yang akan menjadi korban adalah kaum yang diperebutkan, bingung ditarik disana-sini.

Mereka sibuk dengan omongan besar mereka dalam merekrut orang-orang sehingga orang-orang sepertiku, kaum yang membutuhkan pendidikan serta pengajaran darinya tidak terurus serta terabaikan.

Aku belum menemukan benang merah yang akan menyelesaikan permasalahan ini. Apa yang menjadikan orang-orang pintar dikampungku seperti itu. Ingin dirinya terlihat besar dan hebat dimata orang lain dengan mempunyai murid yang banyak . Sungguh pekerjaan yang sia-sia bukan jika memang itu yang mereka cari. Kalau saja seandainya mereka tahu apa yang ada di benak hati orang-orang sepertiku, rasa hormat serta kagum terhadap mereka yang mendapatkan banyak murid biasa saja, tak lebih dari penghormatan seorang tetangga terhadap tetangga lainnya.

#*#*#

Suatu ketika aku pulang dari warung untuk membeli cabe serta bawang, aku melewati rumah kak David. Ia bersantai-santai di teras rumahnya dan memanggilku, “Idah, mampir kesini sebentar!!!”. Seketika itu aku langsung menghampirinya. “Ada apa kak?” kataku pelan.

Dia memberitahuku bahwa ada perlombaan mengaji Al Qur’an dengan tartil pada tingkat kabupaten. Dia juga menyarankan supaya aku mengikuti perlombaan tersebut mewakili sekolahku. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya  suatu saat nanti aku akan mengikuti perlombaan. Kukatakan padanya bahwa perlombaan itu merupakan hal yang sulit karena merupakan hal yang pertama dalam hidupku. Kak David menjawab keluh-kesahku dengan memberikan pertanyaan balik padaku “Sulit bukan berarti tidak bisa to??”. Jawabku: hehehe,,,, iya ndink.

Deg-degan aku menemui kepala sekolah dan membawa formulir pendaftaran yang diberikan kak David kemarin. Langsung kuutarakan maksud dan tujuanku menemui kepala sekolah untuk mengikuti lomba baca qur’an dengan tartil.

Pak kepala sekolah sempat pesimis karena mata pelajaran baca-tulis Alqur’an tidak  diajarkan di sekolah ini. Namun aku meyakinkan bahwa aku bisa membaca Al-Qur’an dengan baik karena aku juga mengaji Al Qur’an  pada guruku sehabis shalat maghrib. Akhirnya, pak kepala sekolah menyetujuinya dengan agak keberatan.

Tiba waktunya aku berada di pendopo Kabupaten, tempat dimana lomba itu berlangsung. Dengan diberi uang duapuluh ribu, aku menuju kota naik angkutan bus umum. Detak jantungku terdengar sangat kencang dan aku merasa gugup sekali. Nervous menghadapi banyak peserta yang terlihat sepert anak pintar dengan kacamata minusnya. Sungguh keadaan yang ajaib menurutku.

Dua minggu kemudian kak David datang kerumahku. Memberi kabar  bahwa aku meraih juara pertama putri. Sungguh tak menduga sebelumnya karena aku mengikuti perlombaan ini supaya aku dapat jalan-jalan ke kota. Salah satu alasanku yang tidak masuk akal karena sebelumnya aku belum pernah pergi ke kota. Menyenangkan dapat pergi ke kota, begitu pikiran nakalku.

Kemudian kak David menyerahkan hadiah berupa piala serta uang tunai duaratus ribu. Katanya, ini adalah hadiah lombaku dan alangkah lebih baiknya jika uangnya ditabung untuk mempersiapkan kebutuhan ketika masuk SMP. Setelah berbincang-bincang dengan emak-bapak, ia mohon diri untuk pulang. Kemudian ia menyalamiku dan memberikan ucapan selamat. Aku hanya bisa memandangi punggungnya ketika ia pulang. Sungguh manusia paling baik setelah orangtuaku yang pernah kutemui.

Kabar kemenanganku dalam lomba membaca Al Qur’an dengan tartil tersebar keseluruh penduduk kampung. Dengan sengaja Pak Lurah berkunjung kerumah dan memngucapkan selamat kepadaku, dan dia bangga terhadapku karena telah mengharumkan nama desa.

Ketika upacara hari senin tiba, aku dan teman-teman menyambutnya dengan penuh semangat sebagai salah satu bukti kecintaanku pada tanah air. Pak Kepala Sekolah naik ke podium untuk memberikan sambutan sepert biasa. Namun ada hal luar biasa yang disampaikan, Beliau memutuskan kebijakan baru bahwa mulai sekarang mata pelajaran agama diajarkan di Sekolah Negara. Yaitu mata pelajaran baca-tulis Al Qur’an. Anak-anak serentak menyambutnya dengan tepuk tangan yang meriah  seakan mereka akan mendapatkan sesuatu yang lama hilang, yaitu mata pelajaran yang sama dengan mata pelajaran di Sekolah Agama.

Secara tegas kebijakan kepala sekolah bertentangan dengan kurikulum pemerintah. Beliau berani bertanggungjawab untuk menanggung semua resiko jika nanti pemerintah memberikan sanksi terhadap sekolah. Beliau juga menyampaikan terima kasih kepadaku karena telah memberikan terobosan baru.

Padahal semua itu tidak kurencanakan dan akhirnya kepada Tuhanlah aku berserah diri dan menyampaikan rasa syukurku. Sungguh, Tuhan Maha Adil. Apapun keadaan kita.

Salam!

Penulis: Elysa Ghazzal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s