Berkunjung ke Rumah Simbah

Hari Kamis aku pulang karena ada hal penting dan begitu mendadak. Setelah di rumah beberapa hari, simbahku dari pihak bapak selalu menanyakan kapan aku akan main ke rumahnya. Mungkin sudah menjadi keharusan setiap aku pulang, maka aku harus main ke rumah simbah. Simbah mesti gelisah kalau aku tak kunjung main. Kadang-kadang aku dikiranya  nggak punya barang bawaan kalau aku nggak segera berkunjung. Lalu simbah akan bilang “kalau mau main, nggak usah repot2 mikirin bawaan”.

Pagi harinya, setelah adikku berangkat sekolah, aku lekas membereskan tugasku. Setelah semuanya beres, aku pamit pada mamak kalau aku akan main ke rumah simbah. Bapak sudah pergi ke sawah. Mamakku lalu tanya “mlaku?”. “iya” jawabku, “yang sudah sepuh aja masih kuat berjalan, apalagi yang muda”. Mamakku lalu menimpali jawabanku “sekarang sudah nggak jamannya berjalan, semua orang sudah naik motor”. “aih, nggak papalah”, aku masih ngeyel.

Jarak rumahku dengan rumah simbah memang lumayan jauh. Di kampungku sudah jarang ditemukan orang-orang yang bepergian dengan jalan kaki. Bahkan ke sawah pun naik motor. Terkecuali orang-orang yang sudah sepuh seperti simbah. Beliau selalu jalan kaki ke mana-mana kecuali ada saudara yang berbaik hati mau mengantarnya. Seringkali simbah berkunjung ke rumahku dengan jalan kaki kalau aku tak kunjung-kunjung main ke rumahnya. Dengan alasan ini, aku bertekad bulat-bulat untuk tetap berjalan kaki menuju rumah simbah. Selain itu, di rumah memang tak ada orang yang bisa ngantar. hehe. Aku berani bertaruh kalau teman2 pondokku membaca tulisan ini, pasti mereka akan bilang “salah siapa nggak mau ajaran naik motor?”. wkwk

ketepak-ketepuk bunyi langkah kakiku. Aku agak lari tanpa sadar karena jalannya menurun. Maklum, desa kami berada di daerah pegunungan. Banyak jalan-jalan di desa kami yang benar-benar menantang nyali.

aih ada orang yang duduk di depan rumahnya. Aku bingung bagaimana harus menyapa orang tersebut. Masih menjadi kebiasaanku setiap ketemu orang lain, aku akan gemeter dan gugup. Aku memang payah menghadapi orang-orang. Sebut saja aku tergolong orang yang agak a sosial dan kurang pandai bergaul. Aku takut menghadapi orang-orang. Jangankan menghadapi, bertemu saja pun aku tak mempunyai cukup keberanian. Barangkali sudah menjadi kesepakatan umum bagi masyarakat desa kami, kalau ketemu orang lain harus menyapa. Kalau tidak, bisa-bisa kita dibilang nyenyengit dan nggak semanak pada orang-orang. Pokoknya imej buruk yang akan didapat. Akhirnya aku menyapa juga orang pertama yang kutemui  “maak (buu)”…….,aku hanya memanggil demikian. Lalu orang tersebut bertanya balik padaku “mau kemana?”. “ke rumah simbah” jawabku sebaik-baik mungkin, padahal aslinya gubrak. Lega rasanya, lolos dari orang-orang.

oh oh oh…ternyata penderitaanku belum berakhir kawan….. Pada langkah-langkah berikutnya, aku bertemu semakin banyak orang lagi. Ada ibu-ibu yang dibantu anaknya menjemur padi hasil panen. Hiks.. aku bingung mau mengeluarkan pertanyaan model apa. Aku berhitung dengan situasi. Apa aku harus bertanya “njemur padi bu?”… pertanyaan macam apa itu? sudah tahu sedang njemur padi, kenapa aku harus bertanya juga?. Aku mengalami perang batin. Hasilnya, aku hanya memandangi ibu-ibu itu dan nggak kuasa untuk bertanya. Mungkin dikiranya aku kenapa-kenapa. hehe

Sudahlah! aku sedih bercerita tentang orang-orang yang kutemui. Jika disuruh memilih, lebih baik aku bertemu orang-orang yang nggak kukenal dari pada orang2 yang udah kenal. Pertimbangannya simpel, kalau bertemu orang yang nggak kenal, aku tak akan repot basa-basi dan badanku nggak akan gemeteran sedemikian rupa. Beda ketika ketemu orang-orang yang kukenal sebelumnya. Aku harus bersiap-siap dengan banyak pertanyaan.

Waktu masih kecil (bahkan sampai sekarang ini,,,hehe), saat aku menyapu halaman rumah, aku akan meninggalkan sapuku dan segera lari masuk rumah apabila ada orang yang lewat depan rumahku. Aku akan menunggunya sampai orang tersebut benar-benar tak tampak lagi. Aku mengintipnya dari kaca rumah. Bila orang tersebut sudah pergi jauh, aku akan meneruskan menyapu. Kalau ada orang lewat lagi, aku akan masuk rumah lagi. Begitu seterusnya. Seolah-olah hidupku nggak tenang. Aku selalu waspada dan berhati-hati kalau tiba-tiba ada orang. Parah banget memang. Aku merasa ada yang salah dengan diriku. Sampai saat ini, aku masih belajar dan terus berusaha memahami dan memperbaiki interaksiku dengan orang lain. Barangkali ada yang kurang tepat dengan apa yang kulakukan selama ini. Bahkan saat di kampus, aku akan balik badan dan memutar arah apabila bertemu temanku. Sungguh menyedihkan bukan?

Tibalah aku di jalanan turun dekat masjid. Kudapati simbah sedang menjemur padi di halaman luas depan masjid. Aku senyum dan memanggil simbah dengan keras. “mbaaaah”… simbah nggak denger, akhirnya aku mendekatinya. Simbah menyuruhku untuk pergi ke rumahnya saja. Aku menolak dan segera ikut simbah menggelar alas untuk njemur padi. Padi yang baru saja ditumpahkan simbah dari karung masih menggunung, aku meratakannya dengan alat (orang-orang menyebutnya garuk).

Hmm…di tengah-tengah melakukan tugasku (njemur padi), adikku bersama teman-temannya berada di masjid. Sekolah Madrasah Ibtidaiyah memang bersebelahan di Masjid. Adikku sekolah di MI tersebut, bahkan aku adalah murid angkatan pertama. Saat itu adalah jam istirahat, ada beberapa anak yang sholat dhuha di Masjid. Mereka (adikku n the geng) melihatku dan terus memandangiku. Saat itu aku berspekulasi bahwa aku adalah orang keren bak artis korea yang digemari banyak orang. Maklum saja, aku memang sedang menaruh minat besar terhadap artis korea. Badanku seakan ringan dan aku melambung tinggi  ke udara. Barangkali aja temen2 adikku memang sedang menaruh minat padaku. Mereka sedang melihat kakak temannya yang sedang kuliah di kota. Itu adalah pemandangan langka. Dan aku sempet bangga sepersekian detik bisa menjadi pemandangan langka di desaku, ups…hanya terbatas pada kalangan  anak MI kelas empat ndink.wkwk

Saat tiba di rumah, aku mengkroscek khayalanku tadi. Ternyata benar saudara-saudara….. temen2 adikku memang memandangiku lama-lama. Bahkan ada salah satu temannya yang menyuruh adikku untuk memanggilku. Namun adikku nggak mau lah yaa… aku jadi berbesar kepala saja… wakaka

Selesai menjemur padi, aku bergegas ke rumah simbah. hoey..ramai pula rupanya. Banyak anak-anak kecil yang sedang jajan jajanan bulekku, nasi pecel. Kupandangi adik-adikku di Madrasah Ibtidaiyah yang sedang kerja bakti. Mereka membersihkan setiap jengkal wilayah sekolah. hm… mohon doanya saja yaa , mereka akan melaksanakan ujian sekolah. Ingatanku terbawa pada dua belas tahun silam. Waktu itu aku masih seumuran mereka yang sedang kerja bakti. Pernah belajar di Madrasah ini membuatku banyak mengenang masa-masa di Madrasah. Belajar di sini banyak berpengaruh pada kehidupanku di kemudian hari. Kenangannya sungguh tak bisa tergantikan. Kapan-kapan aku ingin menceritakannya. Semoga terlaksana. Amiin…

Aku cuman melamun saja sepanjang waktu. Aku melamun di ruang tamu simbah sembari melihat anak-anak MI. Capek melamun, aku melihat-lihat ladang simbah. Di belakang rumah simbah terhampar luas sawah-sawah. Asyik….aku menemukan sungai kecil (laren), tempatku mencari ikan Jawes bersama sepupu2ku dahulu kala. Aku paling bersemangat jika diajak nangkep ikan. Saat di sekolah, saudara-saudaraku (yang semuanya laki-laki) mengompor-ngomporiku supaya aku nggak usah pulang ke rumah. Mereka mengajakku nyari ikan di laren. Kalau nangkap ikan, mana tahan??? aku nggak bisa nolak. Senang pula aku sama ikan. Sekolahku memang dekat dengan rumah simbah dan rumah saudara-saudaraku di kampung utara (lor). Sedangkan bapak mencar sendiri kampung kidul. Kalau sudah begitu, aku akan meminjam dan memakai baju sepupuku laki-laki. Bisa dibayangkan, bermain dengan saudara laki-laki dan memakai baju laki2 sudah membuatku seperti anak cowok aja. hehe

Sibuk mengamati sawah-sawah dan pepohonan yang terus berkurang karena ditebangi, aku menemukan segerombol buah jambu klethuk. Ahaa…aku memetiknya salah satu buah yang paling menarik setelah meminta izin mbah kakung yang kebetulan lewat dari nyari rumput. Aku menggigiti jambu sambil duduk-duduk di deket laren. Aku melamun lagi tentang segala peristiwa masa kecilku dulu bersama saudara-saudaraku.

Setelah merasa cukup melamun, aku kembali lagi ke rumah simbah. Kudapati simbah yang sedang menggoreng kopi yang dicampur dengan irisan kelapa dan jrangking. Bahan-bahan tersebut digoreng sampai hitam kemudian akan dihaluskan dengan alu. Setelah halus, bahan2 tersebut sudah menjadi bubuk kopi. Taraaa…. nikmatilah kopi alami asli desa Sumanding…

Aku hanya menunggui simbah yang membolak-balik bahan kopi di penggorengan. Yups.. aku hanya duduk-duduk saja tanpa menggantikan pekerjaan simbah. Walaupun hanya menunggui, aku yakin bahwa simbah sudah merasa cukup senang didatangi cucunya.

Wahai engkau para cucu…. bersegeralah mengunjungi simbah-simbahmu! cukup hanya mendatangi saja, beliau akan merasa senang. Nggak usah bayak pertimbangan!!. Segeralah berkunjung!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s