Buku

Aku lupa sejak kapan aku mulai tertarik pada yang namanya buku. Di rumah, bapak punya buku cerita tentang legenda-legenda yang populer di masyarakat.  Buku legenda itu tebal dan lebar. Aku suka bukunya karena ada gambar-gambar di setiap cerita. So, aku membaca buku itu berulang-ulang kali. Kadang aku nangis membaca legenda seorang ibu yang ditinggal merantau oleh suami dan anaknya. Karena terlalu sering sang ibu menangis, akhirnya air mata ibu menjadi air sumur. Sewaktu anak dan suaminya kembali, sang ibu sudah tiada. Tinggalah sumur sebagai penanda bahwa begitu malangnya perempuan itu. Saat itu aku ndak tega aja membayangkan seorang ibu yang kesepian begitu.

Tak banyak buku yang dipunyai bapak. Seingatku, buku bapak yang menarik perhatianku adalah buku legenda tersebut dan majalah tebal. Dalam majalah itu kudapati perempuan yang memakai gamis hitam dan berkerudung hitam pula dengan ukuran yang suangat besar. Terbesit dalam pikiranku bahwa orang-orang yang pakai kerudung besar adalah orang yang baik agamanya. Saat besar nanti, aku kepingin menjadi bagian dari orang yang memakai kerudung besar-besar itu. Lambat laun malah aku ndak tertarik lagi sama kerudung besar. Apalagi setelah tinggal di Jogja. Benar-benar tidak seperti spekulasi masa kecilku dulu.

Selidik punya selidik, “perempuan2 hitam” (pakai gamis n kerudung hitam) itu adalah orang Iran. Tahu apa yang terjadi dalam majalah itu? mereka sedang berduka atas wafatnya Imam Khomeini. Waktu itu tentunya aku nggak tahu siapa Imam Khomeini itu. Aku hanya main ilmu perkiraan (kiroiyyah) aja, orang yang wafat itu pasti orang besar di Iran. Agak mustahil jika orang itu bukan siapa-siapa kalau yang berbelasungkawa sebanyak itu. Macam orang demo di kota-kota. Jangan samakan dengan demo ndink… kalau demonya anak UIN mah belum tentu massanya banyak. Tiga orang aja udah bisa demo. Kalau gitu, bayangin aja berjubelnya hadirin yang datang saat ada acara Sholawatan Habib Syaikh atau peserta Mata Najwa yang di UGM kemarin itu lho. Pokoknya bejibun dah… ckck

Sebenarnya aku mau cerita apa sih kok ngalor-ngidul ndak karuah begini. Soury2..itu semacam muncul begitu saja. Jika aku salah, maafkanlah.

Kembali pada buku. Aku memang suka beut sama yang namanya books. Mataku bisa jelalatan saat berkunjung ke Shopping, Pameran Buku, SAB, Perpus bahkan di rak-rak buku milik teman-teman yang kutemui. Setiap kali berkunjung ke salah satu kamar di Q6, pasti aku akan menyapu setiap judul buku. Kayaknya nggak bakalan bosen deh sama books. Aku baru berada pada tahapan suka buku aja lho. Kalau baca mah jangan ditanya… belum cintrong. Kalau novel boleh sih, sebisa mungkin kubela-belain untuk khataman novel dalam semalem. hmmm…

Sewaktu masih belajar di Madrasah Ibtidaiyah, aku merasa asing banget dengan yang namanya buku bacaan. Paling mentok ya buku pelajaran. Maklum, aku adalah murid angkatan pertama di MI, sehingga banyak fasilitas yang tentunya belum tersedia di sekolah kami.

Oya.. saat pelajarannya Pak Ma’ruf (Guru SKI dan ke-NU-an), beliau selalu memberi tugas kami untuk menyalin semua yang tertulis pada buku SKI maupun ke-NU-an. Sekolah hanya mempunyai dua buku. Satu buku untuk pegangan Pak Ma’ruf sebagai seorang guru, dan satunya lagi kami bawa pulang untuk kami salin saat di rumah.

Secara garis besar, pak Ma’ruf akan membagi kelas kami pada tiga kelompok. Pertama, kelompok kampung lor dan mbero yang terdiri dari Nely, Fuad, Khusnul, Encop. Kedua, Kelompok kampung kidul yang terdiri dari aku, Mb As, mb Ida, Nia, Lutfi dan Mujib. Ketiga, kelompok kampung wetan yang terdiri dari Rina, mb Firoh, Fatimah, Jazuli dan Kholidin. Jumlahnya 15 anak kan ya….

Kelompok dibagi berdasarkan jarak rumah antar murid yang berdekatan. Misalnya aku dan temen2ku yang satu kelompok tinggal di bagian utara desa, makanya dinamakan kampung kidul. Sehingga kami berada di kelompok yang sama. Begitu juga dengan kelompok kampung-kampung lain. Kami akan menyalin semua tulisan yang ada di buku pelajaran ke buku-buku tulis kami. Desaku belum cukum familier dengan yang namanya mesin fotokopi ataupun buku fotokopian. Kami berjanjian akan menulis di rumah siapa dan pada pukul berapa. Satu kelompok diberi waktu dua sampai tiga hari untuk mencatat sampai batas halaman yang ditentukan.

Karena jumlah kelompokku ada enam orang, kami akan kesulitan saat menyalin secara bersamaan enam orang. Buku sekecil itu akan dikerubungi enam anak, tentunya ada anak yang tidak bisa melihat tulisan di buku karena terhalang badan teman yang lain. Biasanya aku ngebut menulis karena buku itu nginep di rumahku. Aku dibantu mbak Ida. Ia akan datang ke rumahku dan dengan tulus membacakan buku pelajaran, sementara aku menulis dengan kekuatan maksimal. wkwkw. Mb Ida adalah teman karibku saat di rumah ataupun di sekolah. Dimana ada dia selaluuu ada aku (kayak lagunya Pingkan Mamboo), begitupun juga sebaliknya. Kita pergi sekolah bareng, belajar bareng, main bareng, kadang makan bareng, mandi bareng, TPA bareng, ngaji bareng, ke langgar pun bareng. selalu bareng dah pokokmen.

Setiap mencatat buku pelajaran di rumah, jari-jariku sampai kempes, lemes dan tergurat bekas bolpoin karena terlalu kuat kumekannya saat menulis. Kalau sudah begitu, aku akan pamer pada mamak, menunjukkan bahwa aku anak yang rajin nulis sampai jari telunjukku kempes begitu. Wakaka.  Dari guratan wajah mamak, aku bisa membaca tulisan gitu aja pamer, ra ngerti cili’anku luwih rekoso songko awakmu poo?. (sotoy)

Setelah selesai menyalin satu buku, giliran teman-temanku yang akan meminjam bukuku karena buku pelajaran harus segera dioper ke kelompok lain. Fasilitas kami memang terbatas, namun kami jarang mengeluhkan hal itu pada guru-guru kami.

Matursuwunku pada pak NurKholis, Pak Ma’ruf, Bu Subi, Bu Lati’, Bu Fat, Bapak, Pak Yunus, Pak Najib, Pak Syukron, Kak Men, Pak Lazim, Pak Kamat dan semua guru-guruku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s