Teman dari Masa ke Masa

11885173_897931076909534_3756223258858046842_n

Namaku Nor Elysa Rahmawati. Temen yang akan kuceritakan namanya Nor Sofiah. Kata “Nor” ada dalam namaku dan nama temenku tersebut. Selanjutnya akan kupanggil ia “Encop”. Karena tersemat kata “nor” dalam nama kami berdua, kami kadang dipanggil dengan “nor kuadrat” atau “nor isnaini” oleh salah seorang guru les bahasa Arab. Padahal kami bukan anak kembar dan asli terlahir dari dua pasangan suami istri yang berbeda..(eeeh taunya kita berdua malah mengundurkan diri dari les entu karena sebelum daftar ke tempat kursus, kami telah mumpunyai bayangan wuaaah kayak lirik lagu “khayalan ini setinggi-tingginya, seindah-indahnya….huwouwo”). Kataku dalam hati, ini benar2 kayak semacam kemunduran ilmu pengetahuan atau kalau dalam abad pertengahan sering dikatakan sebagai “abad kegelapan”. Hehehe. Maklum, kita berdua lagi Sok-sok-an banget.

Aku berteman dengan Encop sejak kecil, kami sama2 sekolah di Taman Kanak2 yang memang merupakan satu-satunya TK di kampung kami saat itu (lulus TK tahun 98). Saat TK, tak banyak yang kukenang darinya karena udah banyak yang kulupa. Kemudian kami melanjutkan ke MI Darul Ulum, sekolah yang baru berdiri. Semula MI merupakan Madrasah Diniah yang kegiatan belajar-mengajarnya diadakan pada sore hari. Entah alasan apa sekolah tersebut berubah menjadi MI DU. Kami adalah murid angkatan pertama. Tak ada kakak kelas maupun adik kelas di tahun pertama. Sepi banget dah pokoknya. Temen sekelasku berkisar 22 orang. hingga kelas enam, berkurang menjadi 15 orang. Membaca novelnya Hirata Laskar Pelangi mengingatkanku akan masa-masa MI dulu. Sekolah tak pakai sepatu, gurunya orang2 pintar  kampung lulusan pesantren, tak ada kamar mandi (kalau kebelet hajat, kita akan lari ke laren/kalen  belakang rumah simbahku..ups,,,souryy), nyari buah juwet atau belimbing wuluh di kebun orang dll.

Karena terkenang mereka, Kuberitahu nama temen2 MI ku itu… Mujib sang jagoan Matematika (kayak Lintang di Laskar pelangi), Luthfi yang suaranya merdu n cakep, Kholidin yang pinter gambar, Jazuli yang suka ndalang dengan wayang bolpoinnya, Fuadz keponakanku, Rina idola para adik kelas, Mb Ida yang kalem, Nia & mb As yang selalu bersama, mb Firoh yang paling rapi penampilannya, Khusnul yang paling rajin dan pintar, Fatimah penghibur kami dengan membawa buku2 nyanyian, Encop yang galak sedunia akhirat, Nely saudara sebuyutku yang pintar, cantik, dan tinggi semampai (karena tingginya ia dijuluki senteng), dan aku sendiri yang sering dipanggil temen2ku biting/lidi karena saking kurusnya.

Saat masih MI aku tak terlalu senang dengan pembawaan teman kecilku itu. Judes, cerewet, kayak bos, paling jago kelahi sama temen laki2, dan pinter mempengaruhi (maaf ya Cop…ini sekedar nostalgia masa kecil kan katamu??). ketika ia bicara (memang ia sangat mendominasi pembicaraan kalau lagi ngrumpi bareng temen2) aku sama Nelly pasti saling mencubit tanda tak sepakat atau tak suka apa yang Encop katakan. Kalau sekarang mungkin dilakukan dengan mengatakan kata “preeeet”, yang tentunya dalam hati aja. Mana mungkin bisa mengatakan dengan keras2, bisa2 nanti aku bisa dihajar/ nggak punya teman/ dibilangin emaknya.

Oh iya..pernah suatu ketika di pagi hari, saat aku baru saja tiba di sekolah, Encop menghampiriku dan menyuruhku supaya aku berkata “kowe bar nyokorne Encop kan??” pada salah seorang temenku, Rina. Aku nurut aja. Giliran Rina sampai di kelas, aku mengatakan apa yang harus kukatakan…tahukah apa yang terjadi?? Rina mrembeh-mrembeh dan air matanya keluar begitu saja, ia pulang lagi ke rumah. Waaahh.. aku bingung banget. Tak tahu duduk persoalan yang terjadi antara mereka berdua. Naasnya aku sudah terlanjut terlibat dalam masalah mereka. Tak kusangka Rina balik lagi ke sekolah, alahmaakk…Rina bawa ibunya..sekakmat.. ketar-ketir banget lah yaa pastinya kalau sudah berurusan dengan orang tua. Aku dieeeem aja, hampir mau jebol pertahanan air mataku. Ibunya Rina menghampiriku dan berkata “Rina lah melu sekolah si nduk, ojo ditukari (Rina biar ikut sekolah nduk, jangan disakiti)”. Saat itu aku kelas tiga. Pikirku saat itu dunia akan segera berakhir dan kiamat kian mendekat lantaran aku dapat masalah besar.

Kalau ada perkara macam di atas pasti akan cepat tersebar sampai penjuru kampung. Maklum, desaku merupakan desa terakhir (setelah desaku, yang ada hanya hutan2, sawah, nemer, dan gunung), akan sulit menemukan desa lain. Sampailah berita tersebut ke pendengaran orang tuaku. Ibuku diberitahu ibunya Encop ketika lagi di bus perjalanan kampung kami menuju ziarah ke makam-makam wali. Aku denger ibunya Encop bertutur namun aku pura-pura nggak denger dan cuek karena malu banget. Padahal dalam hati aku was-was kalau-kalau ibuku memarahiku. Emakku dan Emak Encop mungkin lagi ngobrolin anak-anaknya yang nuakale polll.

Singkat cerita aku melanjutkan ke madrasah tsanawiyah Hasyim Asy’ari Bangsri dan belajar di Pesantren Darut Ta’lim juga bersama empat temanku yang lain, (Rina, Encop, Mb Ida, Nelly dan aku). Jadilah kami lima sekawan yang sekelas dari TK sampai Madrasah Tsanawiyah. Sebenernya ketika di MA kami satu sekolahan, cuman beda jurusan. Aku, Nelly dan Encop bertahan di jurusan yang sama. Mb Ida memilih Imersi dan Rina masuk Jurusan IPA. Datang pulalah temen satu kelasku di MI, Nia masuk IPS. Oh iya..Fuad juga satu kelas di MA dan satu sekolah di Mts. Sekelas sama sepupuku, dijamin kelas bakalan rame. Nah, kalau sehari saja Fuad ndak berangkat sekolah bisa dipastikan kelas menjadi lesu, loyo, dan tidak ada kehidupan kayak kuburan.

Ini merupakan suatu kebahagiaan atau duka lara karena kebetulan selalu bareng Encop. Satu kelas di TPA, sekelas di TK sampai MA, duduk sebangku, sekamar di PP DT (kalau dipindah, ndelalah pindah bareng), sekamar di 6e, satu kampus dll. Untung ajalah kita ndak sekelas lagi. Namanya juga kekancan pasti ada suka-dukanya. bertengkar, berkelahi dan saling mengejek menjadi hal biasa di antara kami. Kalau kita jalan bareng atau pergi bareng pasti senyum2 tanpa henti karena ada-ada saja hal lucu yang kami ciptakan sendiri. Orang ndeso, polos, semrawut, terlantar, ucruk, melas, asyik dengan dunia sendiri menjadi ciri khas kami ketika pergi bareng. Kalau kami berada dalam satu kelompok apapun, kita menjadi kompak dan kuat. Beda ketika berjalan sendiri-sendiri karena nggak ada yang mensupport. Dulu ketika Encop masih sendiri, kebersamaan kami intens bangets. Sampailah pada suatu masa temenku menemukan laki-laki karibnya, intensitas hubungan kami agak melonggar. Ndak apa-apa barangkali sekarang adalah masanya ia memasuki fase hidup barunya.

Di Pesantren Al-Munawwir kami menempati kamar2 yang berbeda. Aku di 4a, ia di 4b. Ia pindah sekali ke 6e, aku berkali-kali pindah kamar ke 6b, q8 dan akhirnya nyusul ke 6e. Bener2 kebetulan kalau bareng lagi. Karena berada di kamar yang sama, kita sering ngobrol ngalor-ngidul ketika lagi ngrumpi berdua. Ada saja persoalan yang kita perbincangkan dan ndak ada habisnya. Kenangan di masa-masa kecil, ngobrolin tetangga, teman2, anak2 kecil kampung kami yang sudah beranjak dewasa, para tetangga yang mondok dan meneruskan pendidikannya di PT, tetangga2 kami yang kayaknya baru-baru ini sudah mengenal facebook, nasib 2 TPA di satu desa, intrik2 kehidupan orang desa, tetangga-tetangga yang berhenti sekolah, pak kyai, kenakalan2, isu2 yang berkembang di kampung halaman (bukan isu ndinnk, tapi gosip), angan-angan di masa depan, desaku beserta penghuninya di kemudian hari dll. Selalu nyambung terus dan nggak putus-putus.

Tadi malam habis ngaji sebentar, kami mulai ngobrol sambil duduk2 di teras kamar 6e. Encop ngajak sholat Isya’. “iya” jawabku. Ia berdiri duluan,  berhenti dan bersandar di pagar teras sambil terus ngobrol. Aku tetap menimpali obrolannya sampai-sampai aku ikut berdiri dan bersandar di pagar teras juga. melanjutkan obrolan tentang teman-teman kampung kami yang sudah berkeluarga. Kalau sudah duduk bareng, aku berani bertaruh kalau kami tidak akan beranjak melaksanakan apa-apa yang harus dilaksanakan. Sebenarnya obrolan itu adalah pencuri waktu kami. Namun kami tak mempermasalahkannya jika obrolan teman satu kampung halaman menjadi obat rindu pada kampung halaman. Kadang malah mengembalikan kami pada tujuan semula mengapa kami datang ke kota ini. Mengembalikan jati diri kami sebagai orang desa yang sebenernya punya elan vital yang tinggi.

Falaulaa nafara min kulli firqatin minhum thoifatun liyatafaqqahuu fid diini wa liyundziruu qoumahum idzaa roja’uu ilaihim la’allahum yahdzaruun.. semoga siapapun kita yang merantau untuk belajar menjadi bagian dari ayat tersebut. Amiin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s