Ulam Lele

resep-masakan-ikan-lele

Aku akan bercerita tentang lele. Mendengar kata lele membawa ingatanku ke sebelas tahun silam. Saat itu aku duduk di kelas lima Madrasah Ibtidaiyah. waktu itu pak Yunus, guru pelajaran Bahasa Jawa memberikan PR pada kami untuk menerjemahkan aksara jawa yang meliuk-liuk hurufnya bak penari jaipong itu ke tulisan huruf latin biasa. Oke, kami mengerjakannya. Seminggu kemudian kami membawa buku PR kami. Pak Yunus menunjuk mb Idha untuk menuliskan hasil pekerjaannya ke papan tulis. Mb Ida maju ke depan dan menulis jawabannya. Bunyi jawabannya begini “ulam mele-mele”. Pak Guru senyum-senyum aja melihat jawabannya. Harusnya, jawaban itu adalah “ulam lele”. Karena aku dan mbak Ida saat itu belum terlalu mudeng tentang tanda mati (pepet) beserta operasionalnya, makanya kami belum mengerjakan PR itu dengan benar.

Okelah, aku akan melanjutkan ceritaku. Paragraf di atas hanya selingan. Intinya, kemarin hari Rabu kami bertujuh berkumpul di rumah Rifa’i yang di Jogja. Temanku satu ini keren banget to punya rumah sendiri. Karena punya rumah sendiri, menjadikannya selangkah lebih maju dari kita-kita dalam menjalin hubungan. Ckckck. Acara itu tak sekedar kumpul2 aja, melainkan dilangsungkan dalam acara syukuran wisudanya Fathur, temen sekelas kami yang telah resmi menjadi Sarjana Hukum. Temanku keren-keren to?

Aku dan Encop memutuskan datang lebih awal. Siapa tahu cowok-cowok itu nanti ke pasar sendiri untuk membeli bahan-bahan yang akan dimasak. Waks… Lucu nggak sih mendapati Rifa’i, Aslam n Fathur di pasar sedang tawar-menawar sayuran, beras, bumbu2 dkk? Nggak tega aja ngeliat mereka kayak orang melas sedunia. Mereka terpekur dalam nestapa, begitu kata Gita KDI.

Saat Encop dan aku tiba di rumah Rifa’i, sebagian bahan olahan seudah tersedia. Aku melongok sebentar ke dapur yang lenggang. Kudapati ada kerupuk, kangkung, beras dan bumbu-bumbu. Waaah,,, cowok-cowok itu benar-benar sudah ke pasar. Pengen ngakak sakjane, tapi yoweslah rapapa. Mereka baik sekali. Aku harus menahan kikikan tawaku yang hampir meledak. Wakaka

Khalim beberapa saat sudah tiba. Kami menyambutnya dengan wajah ceria dan senyuman lebar penuh kelegaan. Tentunya sambutan yang kami berikan bukan tanpa maksud. Iyalah, aku nggak tahu nasib makan-makan waktu itu kalau tak ada Khalim. Siapa sih di antara kita yang bisa masak? Khalim adalah satu-satunya yang bisa diandalkan. Seketika itu juga, Khalim kita daulat sebagai kepala chef.

 

Kami berlima (aku, Encop, Khalim, Aslam n Rifa’i) melanjutkan pekerjaan nangkep lele. Kami tak sabar menunggu Fathur n heni tiba, so kita melakukan apa yang harus kami lakukan tanpa mereka berdua, setelah sebelumnya aku n Encop memetiki sayur kangkung. Kami harus menunggu air kolam dikuras dulu supaya memudahkan kita dalam menjerat lele-lele.

 

Sembari menunggu air berkurang dengan sendirinya, kami foto-foto dulu. Memang sekarang lagi zamannya narsis atau selfi. Apapun yang kita lakukan rasanya ingin kita perlihatkan pada orang-orang melalui media sosial semacam fb dkk. Kamipun termasuk anak-anak muda yang terjangkit virus narsisme tingkat akut. Hehehe. Selain itu, ada alasan sebagai dokumentasi katanya. Anyway..kita tak usah terlalu memperdebatkannya.

 

Saat air tinggal beberapa senti, Rifa’i menyeser beberapa lele kemudian melemparkannya ke tanah, dekat kaki-kaki kami berpijak. Kami berhaha-hihi, menjerit-jerit layaknya perempuan kota yang shock melihat pemandangan yang jijik. Padahal kami asli berasal dari desa. Mungkin sekedar memenuhi uji kelayakan sebagai perempuan. Kalau nggak jerat-jerit saat melihat sesuatu yang menakutkan barangkali tak bisa disebut perempuan. Pada moment2 seperti ini, laki2lah yang mengambil peran besar seolah-olah seperti pangeran kesiangan. Khayalan ini setinggi-tingginya, seindah-indahnya…qiqiqi

 

Usai sudah kita menangkap ikan. Kemudian kamipun memindahkan lele-lele yang menggelapar di tanah ke dalam ember yang sudah dikasih air dan garam secukupnya. Bukan kami ndink, hanya Rifa’i dan Aslam yang bekerja. Sudah kubilang sebelumnya, kami para perempuan bertingkah laiknya perempuan kota. Kita Cuma memandangi aja.. yups, betul-betul-betul. Kami berniat membunuh lele-lele itu secara perlahan-lahan. Alangkah malangnya lele-lele itu karena merasakan siksaan tak terkira. Terlebih karena mereka tak lekas mati sehingga belum bisa menikmati indahnya surga. Huwouwo. Saat tutup ember kubuka, lele-lele itu masih meloncat-loncat kayak sirkus yang main akrobat dan keluar dari pengasingannya menuju gegap-gempitanya dunia.

 

Heni dan Fathur tiba juga. Setelah melalui dialog dan perdebatan panjang, kami akhirnya memutuskan dan memberi kehormatan pada Fathur supaya ia memukul kepala lele. Kami tak sanggup lagi melihat lele-lele yang tak berdosa itu tak mati-mati. Keputusan itu bertujuan supaya lele-lele itu tidak merasakan penderitaan lebih lama lagi. Kasian mereka, lelah karena terlalu lama menderita. Terlebih menjadi lelenya Rifa’i, itu adalah kesialan tersendiri (Ups…soury. tapi aku harus berkata jujur di sini). Pasti nggak enak menjadi lelenya Rifa’i karena tak pernah dikasi makan ataupun tunjangan-tunjangan lain yang bisa membuat kehidupan lele lebih sejahtera sebagai makhluk piaraannya.

 

Setelah lele-lele itu terkulai lemas, kami bersemangat untuk mengeluarkan kotoran-kotorannya. Beberapa lele masih ada yang hidup. Lagi-lagi semangatku menyala-nyala saat aku melihat ulek2 dan dan berinisiatif untuk memecah kepalanya dengan ulek2 entu (percayalah kawan!! Sekali iniii saja.. serasa aku sedang memainkan peran psikopat yang membunuh dengan penuh kebencian..jiakakak). berhasil. Mereka semakin tak berdaya aja. So…kita memasukkan lele ke dalam siklus kehidupan berikutnya. Secara garis besar, lele2 itu lahir, tumbuh besar, diseser, dibunuh, dimasak dan dimakan. Kayaknya seperti itulah siklus kehidupan lele-lele. Selamat ya telah memasuki fase terakhir dalam hidupmu di dunia. Semoga kalian lekas mendapat tempat terbaik di sisis-Nya..amiiin. okelah, aku males melanjutkan cerita ini. Sebenarnya masih banyak reka adegan yang tak bisa terekam dalam tulisan ini. Bagi bolo-bolo sableng yang nggak puas, silakan meneruskan ceritanya sendiri-sendiri. Aku lebih tertarik menceritakan lele-lele itu ketimbang enam temenku yang malang ini..

 

Daaa… ditunggu makan2 berikutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s