Berkunjung di Perpustakaan

-> di sela-sela ngerjain skripsi di perpus UIN

Dari pagi aku sudah duduk-duduk di salah satu kursi perpus yang paling pojok. Sudah bisa ditebak kalau masa awal-awal di perpus adalah masa nggak produktif. Mataku hanya ketap-ketip di depan layar Shera (panggilan untuk lepiku). Sesekali membuka-buka file dokumen yang kupunya. Tak sampai hati aku benar-benar ingin membukanya. hanya karena bosan dan bingung mau ngapain di perpus ini. Ini hanya semacam pekerjaan memancing apapun yang akan sedikit berguna. Lama memancing, namun aku tak kunjung mendapat hasil tangkapan. Menyedihkan bukan?? Akhirnya mataku kriyep-kriyep, aku mengantuk dan terakhir gubraaak… kepalaku terasa berat dan harus segera kuletakkan di atas meja.

Kemudian mataku terbuka kembali. Pada waktu menginjak siang, ada mas-mas yang menuju ke arahku. Ia bilang kalau pengen gabung karena mau ikut ngecharge laptopnya. Maklum, aku memang selalu stay di kursi-kursi yang banyak colokannya. Mas-mas itu basa-basi sebentar, tapi agaknya memang ia tipe orang yang suka ngobrol.

“jurusan apa mb?”

“TH” jawabku singkat.

“pinter bahasa arab ya??” mas itu sambil melirik buku yang berada di sisi kiriku.

“oh jelasss!! (dalam hati)” tapi yang keluar adalah “belum kok…” memangnya kalau tafsir hadits kudu pada pinter arab ya…huh.

Aku semakin sebal aja ditanya begitu. Pantas aja dongkol karena aku sudah membaca tulisan arab itu berulang-ulang kali. Tapi pemahaman tak kunjung datang. Kemudian aku balik tanya, sekedar ingin basa-basi juga.

“masnya paska ya??”

“lho…kok tahu?”

Ih…dari mukanya aja kelihatan. Tahu nggak sih…. anak-anak paska biasanya memang pada sepaneng dan sulit tersenyum. Suatu ketika, aku main ke perpus paska. Mati kutu rasanya. orang-orang di sana pada diem dan sibuk memandangi buku maupun layar komputer. Dengan berbekal kartu Mahasiswa Paska hasil pinjeman dari teman, aku menyelundup ke perpus paska. Pertama kalinya masuk ke sana, aku was-was, takut ketahuan kalau aku penyelundup dan masih belum terbiasa. Kupandangi aja orang-orang sekitar. Aku menirukan gaya anak paska supaya nggak ketangkap petugasnya. Dalam kesempatan-kesempatan berikutnya, aku sudah mulai rileks saat duduk di perpus paska. Pernah suatu ketika, sambil memandangi orang2 yang sepaneng, aku mengeluarkan kacang telor dari sakuku. Tanpa merasa berdosa, mulutku sibuk mengunyah kacang telor. Habisnya, melihat orang-orang yang jidatnya berkerut begitu, membuatku ingin mengunyah apa-apa yang bisa ku enyahkan. hehe

Suatu saat aku menanyakan thesis yang kucari-cari di rak, tapi ndak ketemu. Petugas perpus paska seketika langsung nanya:

“mbaknya mahasiswa S1 atau S2?”

“S1 pak…”

“kalau mahasiswa S1, saya nggak bisa membantu kecuali mbaknya bawa surat pengantar dari dosen pembimbing”

“huahuahua”….pengen njerit di deket bapak petugas perpus. Tapi aku mengurungkan niatku tersebut.

Udah lah. kembali lagi pada cerita mas-mas paska. Di sela-sela mengerjakan tugasnya, ia kembali melontarkan pertanyaan padaku yang ke sekian kalinnya.

“mbaknya dari pesantren?”

“iya, pesantren kecil di Jepara”

“mau kecil, mau besar, nggak jadi masalah. Yang penting kan ilmunya”. kata masnya

“ehm” (dalam hati)

kemudian masnya bilang “biasanya Jepara itu banyak yang penghafal qur’annya”

Aku tersentak dengan ungkapan tersebut. Bagaimana tidak? setiap kali aku memperkenalkan diri sebagai orang Jepara, tanggapan yang keluar rata-rata begini: “wah..Jepara itu yang banyak lagu dangdut koplonya itu ya?”, “pernah aku naik bis Jepara, banyak orang yang berjoget di TV bis itu”… kurang lebih seperti itu lah. Jepara terkenal dengan lagu dangdutnya, orkes dangdut atau apa saja yang berhubungan dengan dangdut. Baru sekali ini ada yang bilang kalau Jepara banyak penghafal qur’annya. Beda banget antara penghafal Qur’an dan Dangdut koplo. heheh. aku jadi geli sendiri.

Sewaktu ditanya-tanya mas paska, sebenarnya aku bisa saja berbohong kalau mau. Mengingat aku adalah termasuk salah satu orang yang pandai berbohong di lingkungan 6E selain kelima belas temanku. Kita sih tak masalah dengan latihan berbohong tersebut. kami justru mengasah kemampuan berbohong karena menuntut kami untuk “berimajinasi liar”. Insting berbohongku muncul kalau aku sedang bersuasana hati baik aja atau kalau lagi mood. Tapi kalau aku sedang ogah-ogahan dan aku ingin cuek, aku tak akan berbohong dan menjawab pertanyaan orang yang baru kutemui dengan sebenar-benarnya sesuai fakta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s