Mulutmu, Harimau. Serem !

Dengan lisan, kehidupan rumah tangga sepasang suami-istri bisa bahagia. Namun dengan lisan juga, kehidupan rumah tangga sepasang suami-istri bisa menderita. Tinggal pilih yang mana. Demikian kata penceramah agama dalam acara mantenan yang pernah kudengar. Nabi telah mewanti-wanti umatnya. “Barang siapa yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam saja (kalau belum bisa berkata baik)”.

Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa bahwa lisanku dan juga lisan teman-temanku telah saling menyakiti. Lisanku menyakiti temanku. Dan begitu juga sebaliknya. Aku belum tahu siapa yang memulai duluan. Yang jelas, aku dan temanku merasa tersakiti karena lisan masing-masing dari kita.

Untuk menjadi orang baik perlu upaya dan usaha keras. Tidak hanya cukup dengan itu. Kita harus bisa menahan diri saat mendengar perkataan teman-teman. Jangan langsung mereaksi karena kita tak tahu reaksi kita yang akan keluar. Bisa jadi kita langsung nyolot jika mendengar perkataan teman kita yang tidak pas di hati. Alangkah lebih baik jika kita menerima perkataan teman terlebih dahulu. Diam aja dulu. Ajaklah pikiran kita untuk mencerna maksud dari perkataan teman. Karena bisa jadi teman kita tak bermaksud menyakiti, tapi karena sudah terlanjur nyeplos, makanya ada yang merasa disakiti. Hm.. jadi harus berhati-hati juga nih saat ngobrol maupun guyonan. Komentarnya nanti-nanti aja lah…. kan tidak harus secepat kilat to untuk berkomentar??? Di facebook aja kita dibebaskan untuk ngasih komentar dan tidak ngasih komentar. Pilih yang enak aja lah yooo….

Ucapan yang dimaksud pembicara mungkin A. Tapi terkadang si pendengar menangkap maksud bahwa si pembicara itu menginginkan B. Sebagai pendengar, perlu sekali untuk mengetahui latar belakang yang berkaitan dengan si pembicara. Dengan mengetahui berbagai hal yang berkenaan dengan si pembicara, barangkali dapat meminimalisir sakit hati bagi si pendengar. Wah… saat menulis ini, aku merasa sedang bermain-main dengan hermeneutika. Asyik dah… Hermeneutika menjadikan seseorang untuk tidak cepat marah dan emosian. Pahami dulu, Baru komentar! Barangkali demikian maksudnya.  Seseorang berkata “iya” atau “tidak”, berkata “ini” atau “itu” pasti ada alasannya. Memang agak ribet sih… tapi ini demi kebaikan bersama ee. Enjoy aja…. boleh kok guyon atau ndagel sepuasnya, asal dengan orang yang pas dan dalam kondisi yang pas pula. Daaannn… tidak kebablasan juga kali ya??

*Kopontren, 06 Oktober 2014

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s