Pretty, Riwayatmu Kini

Pretty, kini kau telah kehilangan pesonamu. Kau yang sekarang bukanlah kau yang dulu. Banyak perubahan drastis dalam hidupmu. Sungguh merananya kau hidup di dunia yang seringkali mengerikan ini. Barangkali, bagimu hidup segan tapi mati tak mau. Sungguh!!! hal tersebut merupakan posisi yang dilematis bin sulit. Janda beranak pinak yang tak sanggup menghidupi puluhan anaknya. Memang hidup begitu keras Pretty. Mungkin itulah salah satu alasan kau menelantarkan anak-anakmu. Kau mengasingkannya ke atap ndalem Kyai kami. Entah apa maksud perbuatanmu. Kami tak tahu dan hanya bisa menerka-nerka.

Demikianlah gambaran hidup Pretty saat ini. Ia adalah kucing yang sudah menetap di asrama kami selama beberapa tahun. Kami telah terbiasa dengan kehadiran Pretty. Awal kedatangan Pretty ke Q6 disambut baik oleh gawagis kami. Mereka yang masih SD memberikan perhatian yang lebih terhadap Pretty beserta anak-anaknya. Kami pun turut berbahagia karenanya.

Di suatu malam, Pretty dengan perut buncitnya hendak menginap di Kahyangan lantai 3. Penghuni Kahyangan tak ada yang mau menerimanya. Mereka menolak semua. Alasannya masuk akal dan cukup bisa dibenarkan. Takut pup atau pipis sembarangan. Maklum, dalam dunia Pretty tak mengenali yang namanya kamar mandi, toilet dkk. Iyalah.. Pretty dan Bleky menganggap kasur-kasur kami sebagai WC. Sungguh teganya kalian berdua pada kami!!! Sekedar curhat ya… daripada aku mangkel n dongkol tanpa henti pada Duo Bleky-Pretty. kasurku telah dipipisi entah Bleky entah Pretty sebanyak kurang lebih lima kali. Belum lagi kasur temen-temen yang lain. Salah apa?? teganya engkau lakukan.

Karena seluruh penghuni sepakat untuk tidak menerima Pretty, Pretty akhirnya turun ke lantai dua. Kali ini sasarannya adalah 6e. Penduduk 6e biasa-biasa aja. Tidak menolak, tapi juga tidak menerima. Ekspresi datar dan cuekk. Mereka tak punya firasat buruk apapun terhadap Pretty. Nah! nah! Pagi-pagi sekali telah tersiar kabar bahwa Pretty telah melahirkan anaknya yang entah ke berapa sodara-sodara!!!.

Banyak orang yang ingin menyematkan nama cantik pada putri kecil Pretty. Mb Desti memberinya nama Najahti karena untuk mengenang sejarah rapot-rapot ngaji yang terukir tulisan “Najahti” dari Gurunda kami yang terhormat. Nila Putri memberinya nama “Diego” supaya agak kerenan dikit jadi kucing. Namanya banyak sehingga kami bingung mau manggil dengan nama yang mana. Intinya, mereka sepakat bahwa putri kecil Pretty adalah anaknya yang pertama. Terang saja, karena kami belum pernah menyaksikan anak-anak Pretty yang lahir sebelum2nya.

Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya biasa saja. Itulah yang kurasa dari fenomena Pretty melahirkan. kami sangat antusias dengan lahirnya anak pertama Pretty. Semua penghuni 6e akan merasa bahagianya berkurang kalau sehari saja tidak menyapa Najahti. Aku pun demikian. Selepas pulang dari kampus atau dari manapun, aku mengudang Najahti dengan ocehan-ocehan tak karuan seperti ngudang bayi orang. Saya menanyai ini-itu yang tentu tak dipahami Najahti. Biarlah! temen-temen juga mengajaknya bicara yang bukan-bukan. Tentang ibunya yang suka pipis sembarangan atau ancaman kalau ibunya nggak diperbolehkan main ke 6e lagi. Pokoknya selalu ada cara untuk menghibur Pretty dan Najahti. Oh… bukan kami yang menghibur mereka berdua. Merekalah yang menghibur kami setelah menjalankan rutinitas yang melelahkan. hehe… Thanks banget ya Preet…

Seiring berjalannya waktu, Pretty sering melahirkan. Di kelahiran yang kedua dan seterusnya, kami tak banyak menggubrisnya. Biar mereka mau apa terserah. Kami tak peduli. Asal jangan merepotkan kami aja. Kami acuh pada Pretty dan anak-anaknya, kecuali beberapa teman yang bener-bener sayang aja pada Pretty. Justru akhir-akhir ini, Pretty sering terusir dari kamar 6A sampai 6F, plus lantai tiga. Pantas saja karena Pretty selalu bertandang ke kamar-kamar kami saat jam makan petang. Entahlah, kami merasa terganggu dengan kunjungan Pretty. Sudah kukatakan sebelumnya bahwa Pretty yang sekarang bukanlah Pretty yang dahulu. Dulu ia adalah kucing yang menawan, anggun dan elegan. Tapi sekarang apa? Ia sudah macam kucing pesakitan. Ditambah lagi matanya yang hilang satu membuat kami semakin ehm aja.

Kuceritakan padamu sekalian. Satu mata Pretty hilang entah kemana. Kata temen-temen sih dimakan bakteri. Kami shock aja melihat Pretty dalam keadaan yang mengenaskan. Tubuhnya semrawut dan super kurus. Jalannya lambat seolah-olah tak kuasa menahan beban hidup. Ia pun tak berdaya untuk menyusui kelima anak barunya. Anaknya diasingkan ke atas atap. Padahal atap itu tinggi banget, atap bangunan dua lantai je.  Seringkali anaknya meraung-raung di pinggir atap. Seakan mereka ingin bunuh diri di usia sedini mungkin dengan cara terjun dari atap. Tapi sungguh malang nasibnya. Meskipun anak-anak Pretty sudah ada yang pernah jatuh sebanyak dua kali, mereka ternyata masih hidup. Allah belum berkehendak mencabut nyawa anak Pretty.

Kurasa, kini Pretty hanya merasakan kesedihan dan duka lara yang tak terkira. Tak pernah kujumpai wajah Pretty yang sumringah seperti dulu kala. Kata Canberries, dalam benak orang-orang, barangkali ia telah tiada. Zombie.

Tahukah kau Pret… terkadang aku merasa seperti zombie. Mayat hidup. Hidup hanya sekedar hidup. Tak lebih dan tak kurang. Di saat-saat seperti itulah aku merasa tidak sendiri. Ada kamu. Makasih ya Prett…. Melihat keadaanmu yang sedemikian rupa dramatisnya membuat kepedihanku agak meringan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s