Senam SKJ

Semenjak kapan ya aku sudah tahu kalau di dunia ini ada senam?. Barangkali saat aku TK atau MI. Setiap hari Jum’at, aku akan menonton senam murid-murid SD yang letak sekolahnya dekat dengan rumahku. Aku hanya mengintip malu-malu dan khusyuk memperhatikan di balik pagar tembok SD. Rasanya senang saja dapat menyaksikan gerakan kompak yang terlihat keren banget. Maklum, di sekolahku yang konon baru itu, belum ada rutinitas senam SKJ atau pun senam yang dibarengi musik plus guru senam. Meskipun rumahku dekat dengan SD, aku dimasukkan orangtuaku ke sekolah MI yang baru saja berdiri.

Bagi anak-anak kecil seusiaku yang duduk di bangku Sekolah Dasar (MI), tentunya mempunyai keinginan untuk senam seperti anak SD. Kami hanya pengen bisa bergerak-gerak indah kayak mereka yang dibarengi musik dari tape recorder “1,2,3,4,5,6,7,8”. Tidak lebih. Kami hanya bisa memendam keinginan itu dan terkadang mengajukan proposal pada guru kelas secara samar-samar. Tentu kami tak berani bilang secara terang-terangan bukan?. Saat itu, barangkali tak pernah terlintas dalam pikiran Guru2 kami untuk mengadakan senam rutinan di sekolah kami. Jangankan senam, kantor guru pun masih numpang di rumah simbah. Sudah ada guru, murid, kelas, kapur tulis dan papan tulis hitam pun sudah alhamdulillah banget.

Memang, aku pernah senam di sekolah MI. Tapi kurang asyik dan kurang sakral karena tak ada iringan musiknya. Itu pun terjadi satu dua kali selama aku sekolah di MI. Dan juga, Pak Guru kami kayaknya cuma menciptakan gerakan asal-asalan, sesuai yang Beliau mampu dan ingat. Mungkin Pak Guru ingin menyenangkan hati kami dengan mengadakan senam bareng. “Asalkan kami senang”, itu jargonnya. Meskipun dengan sangat sederhana.

Setiap jam pelajaran olahraga, teman2 sekelasku akan bermain gobak sodor, kejar-kejaran, kasti, bintangan atau jalan-jalan menyusuri desa.

Pernah suatu ketika saat jam Olahraga, aku dan beberapa teman sekelasku dilintasi ide hebat. Awalnya memang kami hanya jalan-jalan biasa di sepanjang jalan desa. Tapi lama-lama, kami sampai di pojok desa sebelah timur (Kampung Wetan). “Gimana kalau kita sekalian hiking ke gunung?”… kata salah satu temanku. Sedangkan teman-teman yang lain berkoor “iyaaa…..sepakat”. Tanpa ada yang menolak. Sesampai di sawah Jlengut, aku bertemu Pak Lik yang sedang bekerja di sawahnya. Barangkali Pak Lik keheranan melihat anak-anak MI berseragam olahraga bisa kluyuran sampai sawahnya di jam pelajaran. Setelah mengajukan pertanyaan setuntas-tuntasnya bak wartawan ahli, Pak Lik menggeleng. “Jangan lanjutkan perjalananmu Nak, bahaya!!”. Kurang lebih demikian maksud dari gelengan Pak Lik. Meskipun demikian, kami tetap bersikukuh untuk melanjutkan perjalanan mulia ini. Ditegur secara halus nggak mempan, akhinya Pak Lik geram. Sambil mengangkat kayu kecil tinggi-tinggi, Pak Lik menggiring kami supaya mau pulang. Pak Lik juga mengancam kalau kami nggak mau pulang, Beliau akan melaporkan perbuatan kami pada bapak masing-masing. Hiks… gagal lah petualangan kami di tengah jalan.

Hup. kembali ke Senam. Senam anak-anak SD merupakan suatu hiburan tersendiri bagiku. Aku sudah mempunyai jadwal kayak orang sibuk di hari Jum’at, menonton senam. Setiap jam 07.00 kalau nggak salah ingat, aku sudah pamit pada Mamak untuk bermain. Aku bersama beberapa teman2 sepermainan, lari sekencang-kencangnya menuju sekolahan SD. Selalu begitu di hari Jum’at.

Sekolah SD maju pesat dalam masalah persenaman. Mereka tidak berhenti pada Senam Kesehatan Jasmani saja. Mereka merambah pada senam Poco-Poco. Semakin ingin meleleh saja air mataku. huahuahua.

Setiap jam empat sore, ada guru senam yang datang ke SD untuk mengajari senam anak-anak SD. Kali ini, tidak hanya i am n the geng saja yang menontonnya. Tetangga-tetangga kami ikut serta pula. Para mamak, para bapak, para anak hadir semua. Tak ada yang absen. Aku sampai hapal beberapa gerakan dan ikut menirukannya.

Sebelum jadwal menonton senam Poco-poco jam empat, aku pergi ke TPA terlebih dahulu. Pokoknya alhamdulillah banget dah karena jadwal TPA tidak bentrok dengan jadwal menonton senam. Aku datang ke TPA pukul dua siang dan selesai pukul empat sore. Nah, kan!! pas banget skenario Gusti Allah. Masih terlintas dalam ingatan. Sepulang dari TPA, aku akan lari sekonyong-konyong koder. Menghempaskan tas TPA yang tak berdosa ke kamar sekeras dan sekilat mungkin. Wushshshshshsh …… cepat sekali aku melesat ke sekolahan SD.

Di Jogja ini, kita-kita para perantau bisa menikmati senam di setiap sudut wilayah pada hari Ahad. Misalnya nih… aku yang tinggal di Krapyak, bisa mendatangi lapangan Minggiran, Alkid maupun tanah-tanah lapang lain. Gratis. Berhubung Ahad kemarin nggak ada Estafet n Pengaosan Pagi karena ada RAK, akhirnya aku dan beberapa temanku (Tante, dk Otim n mb Lulu) mendatangi senam Jantung Sehat di depan BI. Aku dan dk Khotim bisik-bisik “kok nggak keringetan ya dek kita?”… hmmm namanya juga senam Jantung Sehat. Senam untuk para orang-orang sepuh. Mana ada keringat yang tercecer?? hehe..piis

Asyik juga tuh senam. Ada musik India (ledge2 dengan gerakan tangan terbuka ke samping kanan-kiri, atas-bawah), Cina (Faang, Sing, Hung..), Indonesia (ada syair yang indah di Malioboro…lagu cinta antara kau dan aku). Yang dateng ibu-ibu rumah tangga. Kami berempat adalah peserta termuda. Meskipun paling muda, kami paling terseok-seok sendiri dan bergerak ala kadar. Ya iyalah…orang ibu-ibu itu sudah hapal semua gerakannya tek. Setelah closing, kami diajak poto2 bareng gitu sama ibu2 energik. Kami ditanyai ini itu karena mungkin wajah kami terasa asing sendiri. Ndak papa, itung-itung juga bisa bermasyarakat lewat senam, kata dek Khotim.

Merasa belum puas bergerak, kita melanjutkan misi untuk ikut senam di jalan nol KM. Jalanan Malbor ditutup untuk kegiatan senam. Semakin asyik aja rek ternyata… Ini jenis senam aerobik yang penuh semangat. Pemandunya kocak abis dan suka ndhagel. Lagunya  pun yang lagi in. India pake lagunya Mahabarata. Pendinginannya pakai lagu Soledad…..

Soledad

It’s a keeping for the lonely

Since the day that you were gone

Why did you leave me

Soledad

In my heart you were the only

And your memory lives on

Why did you leave me

Soledad

Walking down the streets of Nothingville

Where our love was young and free

Can’t believe just what an empty place

It has come to be

I would give my life away

If it could only be the same

‘Cause I can still hear the voice inside of me

That is calling our your name..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s