Shalawatan

Di PP Al Munawwir Komplek Q Krapyak Yogyakarta pasti mengadakan Dziba’an setiap malam kamis. Mb Ika membawa buku shalawatan tebal yang berisi kurang lebih 1000 judul shalawatan. Aku meminjamnya dan membuka-buka halamannya. Aku merasa terhempas seketika karena banyak kenangan yang muncul dari lagu-lagu yang kubaca. Momen saat aku masih MI dan bercita-cita menjadi vokalis rebana/shalawat, perpisahan MI, Khitobah di PP Darut Ta’lim, perpisahan Mts, dan aroma Darut Ta’lim berkelebatan di kepalaku.

Meskipun dziba’an telah usai, aku masih membuka-buka buku shalawatan di kamar. Mb Ika berseloroh dan merasa waoww banget saat aku bisa mendendangkan banyak lagu dari buku itu. Cuman karena suaraku yang pas-pasan menjadikan lagu-lagu itu tak bernada. Semuanya datar-datar saja, lurus tanpa ada gonjalan dan kelokan. Sungguh tanpa ada variasi pada tekanan suaraku. Sebenarnya aku sedih karena saat menyanyikan lagu bergenre apapun, lagu-lagu itu menjadi suara biasa. Layaknya orang yang membaca puisi tanpa intonasi. Padahal, di balik semua itu, aku adalah orang yang gemar menyanyikan lagu dengan genre yang bermacam-macam. Dangdut, Campur sari, pop mancanegara, India, Korea, Arab, Shalawatan, Rebana, Jepang….

Karena aku menyanyikan banyak lagu, Mb Ika jadi bingung sendiri. Sebenarnya aku memang bisa melagukan shalawatan atau hanya membaca tulisan Arab biasa sih. Hm…. “Mb Ika meremehkan kemampuanku nih”, aku membatin.

“Memang sih lagunya tak bernada, tapi belum tentu kalau aku nggak bisa bernyanyi to?” tanyaku pada mb Ika.

“iya deh, percaya”, jawab mb Ika kemudian.

“Mau tau nggak mbak kenapa aku tahu banyak shalawatan?”

“Nggak….” Sadisnya rekk…karena mb Ika nggak mau mendengarkan ceritaku, baiklah,,,saya akan bercerita di sini saja. Sorakin “huuu” pada mb Ika.

Suatu sore aku mendengar lantunan shalawatan dari rumahku. Aku mendengar suara-suara itu saat masih bermain di rumah Makdhe Rip. Rumahku dengan rumah Makdhe Rip dibatasi dua rumah saja. Aku kaget karena hal tersebut merupakan pengalaman pertama bagiku. Aku hanya mengira-ngira apakah suara dari tape recorder Bapak itu suara laki-laki atau perempuan. Karena apa? Karena saking merdunya, suara tersebut menjadi samar-samar antara suara laki-laki dan perempuan.

Seketika itu aku bergegas pulang ke rumah lantaran suara yang sukses membuatku penasaran. Jangan-jangan ada konser shalawatan di rumahku. Aih… itu Bapak. Aku mencecar Bapak dengan pertanyaan-pertanyaan. Itu suara siapa Pak? Laki-laki apa perempuan sih? kok nggak jelas gitu? Bapak tak menjawab pertanyaanku dengan jawaban lisan. Bapak hanya memberiku sebuah buku tipis yang berupa lirik-lirik shalawatan yang ada artinya dan sedikit foto para pemain musiknya.

Foto-foto para pemain musik dan vokalisnya memvirusi otak dan hatiku. Bukti kalau Virus itu telah merangsek pada diriku adalah cita-citaku yang berkeinginan untuk menjadi vokalis rebana maupun shalawatan. Semakin lama, kaset-kaset semakin bertambah dan tertumpuk di atas salon Bapak. Terang saja semakin banyak. Bapak selalu membeli kaset saat bepergian. Ada group shalawatan orang Magelang, al-Muqtashidah (langitan) dan kaset yang berisi lagu seperti perdamaian, Palestina, Kota Santri, Cinta Ilahi dan lain-lain.

Dengan kaset yang bermacam-macam itu, aku semakin berpolah tingkah bak vokalis rebana terkenal. Aku menyanyi di atas tikar dan menganggap sisir sebagai mikrofon. Tikar yang kuinjak-injak itu bagaikan panggung besar yang digunakan untuk konser tunggal vokalis beken, aku. hehe….. Aku hanya berjalan di wilayah atas tikar saja. Jangan sampai aku keluar dari panggung utama.

Tiba saatnya aku belajar di Pesantren Darut Ta’lim. Di ponpes DT juga ada kegiatan rutin setiap malam jum’at. Dwi mingguan. Kalau malam Jum’at ini membaca Barzanji, malam Jum’at minggu depan Khitobah. Sebelum acara dimulai, pengurus akan menyalakan tape dari aula sembari menunggu semua santri berkumpul. Nah… suara yang muncul dari tape tersebut adalah shalawatan. Dari hal tersebut, aku bisa mengetahui banyak shalawatan. Selain itu, aku akan merayu teman-temanku yang mempunyai kaset shalawatan supaya mereka mau membawakan kaset-kasetnya untukku dari rumahnya. Alhamdulillah, mereka mau. Thanks banget untuk mb Ana dan mb Ela.

Kaset-kaset yang berhasil kupinjam tak bawa pulang saat liburan pondok setiap bulannya. Di rumah, aku menyetel kaset tersebut berulang-ulang sampai bosan. Karena demen banget sama shalawatan, aku menyisihkan uang sakuku juga untuk mendatangi toko favoritku. Hiks… sayang seribu kali sayang karena aku nggak inget lagi nama tokonya. Toko tersebut terletak di depan jalan utama Bangsri. Toko itu menyediakan banyak kaset dan buku-buku.  Kalau sudah masuk toko entu, serasa sudah masuk ke dalam surga dunia.

Siklus kehidupanku jika dirinci dengan peta tempat, berjalan dari Sumanding ke Bangsri kemudian ke Jogja. Di Jogja inilah, saya berkesempatan untuk sering menghadiri acara Habib Syeikh. Habib Syeikh menggelar acara shalawatan di Krapak setiap tahunnya dua sampai empat kali. Yang hadir ribuan.

Kata pak Narasumber dalam acara seminar dan launching kajian Islam di Asia tenggara, fenomena Ahbabul Musthofa dengan Habib Syeikh sebagai ikonnya merupakan gerakan sufi baru di masa kini. Habib Syeikh berperan sebagai guru dan para hadirin sebagai murid secara otomatis. dalam khazanah keilmuan pesantren dan kethariqahan (sufi) diharuskan mempunyai guru yang bisa dipertanggungjawabkan sambung-sinambungnya. Namun, adanya guru dan murid dalam Ahbabul Musthafa nampaknya tidak serumit hubungan guru murid dalam dunia sufi misalnya. Nah… Habib Syeikh hadir sebagai penawar jiwa ynag kekeringan seperti kerinduan rumput terhadap air saat musim kemarau. Banyak orang yang hadir untuk ketenangan jiwa. Karena bagaimanapun juga, majlis Habib Syeikh bisa disebut sebagai majlis dzikir.  Majlisnya Habib Syeikh diisi dengan membaca shalawat dan kalimat-kalimat thayyibah lainnya. Dzikir-dzikir tersebut berfungsi sebagai penentram jiwa. Allah berfirman bahwa “Barangsiapa yang menginginkan ketenangan dalam jiwanya, hendaklah ia berdzikir”. Barangkali orang-orang yang menghadiri acara Habib Syeikh ingin supaya jiwanya tenang dan tentram.

*Kantor Kopontren, 06 Oktober 2014
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s