Tentang Sekolahku

–boleh berhenti sekolah, asalkan jangan berhenti belajar– (Gus Mus)

–sekolah untuk belajar, tidak belajar untuk sekolah– (Pak Muhammad)

Sebagai anak yang terlahir di desa, membuatku tidak banyak bertingkah alias nurut. Maklum, biasanya gadis desa cenderung polos, sederhana, apa adanya dan nriman. Barangkali itu pula yang terjadi pada diriku. Tidak mempunyai cukup pilihan untuk menentukan pilihan. Tak ada pilihan lain. Hanya ada itu saja. Demikian juga dengan sekolah-sekolah tempatku belajar.

Pertama, TK. Hanya ada satu TK di desaku saat itu. Anak kecil biasanya dipilihkan sekolah oleh kedua orang tuanya sesuai minat dan isi kantong ortu. Cerita yang paling kuingat di bangku TK adalah cerita anak kembar yang bernama Kiki dan Keke. Biasalah, satunya pinter dan disiplin. Sedangkan yang satunya berkebalikan dengan kembar pertama. Selain itu, aku masih ingat saat aku hendak lulus TK, Bu Guru mengundang tukang foto ke sekolahku guna mengambil gambar kami untuk kenang-kenangan. Saat itu hari Rabu, pakaian hari Rabu biasanya bebas.  Mamak menitipkan baju bebas pada temanku karena aku tidur di rumah simbah yang rumahnya deket dengan sekolahku. Eh tak kusangka ternyata teman-teman memakai sragam rompi hijau. hm… aku jadi terlihat berbeda dalam foto tersebut. Aku memakai kaos oblong warna putih dengan lengan pendek dan celana pendek selutut.

Kedua, MI Darul Ulum. Aku adalah murid pertama yang tak mempunyai kakak tingkat maupun adik tingkat. Percayalah, saat aku kelas satu, hanya ada satu ruangan yang mengadakan kegiatan belajar mengajar. Saat kelas dua, ada dua kelas dan begitu seterusnya sampai aku kelas enam. Karena merupakan sekolah baru, sekolahku belum mempunyai fasilitas yang memadai seperti atlas, globe, kamar mandi, perpustakaan, komputer, alat olahraga maupun patung anatomi tubuh. Sekolah kami hanya mempunyai empat ruangan kelas, beberapa guru, sedikit murid, satu kantor yang masih nebeng di rumah simbah dan satu lonceng besi. Meskipun demikian, aku bahagia banget sekolah di situ karena mendapatkan guru-guru yang tulus mengajar. Bu Subi yang merangkul kami dan selalu pengertian, Pak Nur Kholis yang selalu bercerita Abu Nawas sebelum jam pelajaran berakhir, Pak Lazim yang hebat banget di mata kami karena ejaan bahasa inggris yang beliau ucapkan. Aku berdoa semoga ketulusan tersebut masih ada dan selalu ada dalam sanubari guru-guruku. Entahlah, aku hanya merasa bahwa dunia ini keras yang dengan sendirinya dapat mengeraskan hati para penghuninya.

Ketiga, Mts Hasyim Asy’ari. Awalnya aku tak ingin sekolah di Bangsri karena hanya terletak di kota Kecamatan. Aku ingin bersekolah di tempat yang agak jauh dari rumah, Kota Kabupaten, MtsN Bawu. Saat itu belum ada kesepakatan dengan orangtua tentang dimana sekolahku nantinya. Bapak hanya mengajakku untuk mendaftar sekolah di kota. Sehabis Shubuh aku sudah bersiap  menunggu angkutan Desa yang akan mengangkut kami menuju kota Kecamatan.

Saat tiba di terminal Bangsri, Bapak membujukku supaya aku mau bersekolah di kota kecamatan saja. “Bapak gelem nuruti opo sing dadi kekarepanmu asal awakmu gelem sekolah neng kene, Aku nggak sanggup nuruti kekarepanmu nek awakmu sekolah neng Bawu (Bapak sanggup menuruti keinginanmu kalau kamu mau sekolah di sini, tapi Bapak tidak sanggup menuruti keinginanmu kalau kamu sekolah di Bawu)”, kata Bapak.  iya deh, iya. Aku menyetujui negosiasi Bapak. Habis itu Bapak langsung mentraktirku makan sate dan membelikanku kaos. Hmm.. enak juga ya, aku membatin. Masa awal-awal di Mts memang agak mudah perekonomian Bapak. Namun di tengah perjalanan, perekonomian Bapak mulai sulit. Hal itu sangat berpengaruh pada kehidupanku. Barangkali tidak hanya Bapak saja yang mengalami kesulitan ekonomi, tentangga-tetanggaku juga merasakan hal yang sama. Aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya masa-masa itu ada fenomena apa ya kok keadaan perekonomian kampungku kayak seret begitu.

Selepas lulus Mts, aku berkeinginan untuk meneruskan sekolah di Madrasah Aliyah Mranggen, Demak. Haha.. aku ingin seperti Habiburrahman el Syirazy yang dulu bersekolah di Futuhiyah. Saat itu, keluargaku belum mempunyai hand phone. Komunikasi dengan orang tua via surat yang dititipkan pada tetangga-tetangga yang kebetulan kami jumpai di pasar Bangsri.  Selang beberapa hari Mamak membalas suratku yang berisi bahwa Mamak tidak merestui keinginanku untuk sekolah di Futuhiyah karena jaraknya jauh, ditambah lagi Mamak menyarankan supaya aku masuk jurusan IPA. Waah… nggak gue banget kali Maak,,,, aku membatin. Bukan tanpa alasan Mamak menyuruhku masuk IPA. Mamak pengen supaya nanti saya bisa jadi petugas kesehatan atau apalah ketika aku besar.

IPA bukanlah minatku karena sedari kecil saya bersekolah di sekolah Agama dan belajar di Pesantren. Penguasaanku terhadap ilmu-ilmu umum sangatlah minim. Kali ini, saya bisa dikatakan tidak mematuhi orang tua, terlebih Mamak. Mau bagaimana lagi, saya menemui pilihan yang sama-sama sulit. Masuk IPA berat, kalau tidak masuk IPA, apa kata Mamak?? Hmm… aku memilih untuk masuk jurusan Keagamaan karena saya lebih demen Bahasa Arab dan ilmu-ilmu yang sealur dengan apa yang telah kuperoleh selama ini. Oke! FIX! Saya masuk MAK.

Tiba giliran di rumah, dengan berat hati saya menyampaikan pilihan jurusan saya pada Mamak. Perasaanku saat itu campur aduk antara takut melukai Mamak dan memperjuangkan semesta duniaku. Hiks….Mamak benar-benar marah saat itu. Benar-benar dunia akan segera kiamat. Saya hanya diem saja saat mendengarkan uneg-uneg Mamak. Syukur banget dah…seiring berjalannya waktu, Mamak sudah sembuh dari lukanya. Kini, Mamak  selalu mendukung apa-apa yang digandrungi anak-anaknya, meskipun seringkali sang anak harus memvirusi dan mempengaruhi Mamak terlebih dahulu. Love Mamak full dah…Hiks… kangen….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s