Gurutta Ahmad Fairuz Warson

Lebaran kemarin temen-teman Q nem sowan bareng-bareng ke ndalem Gus Nang. Seperti biasanya, beliau mengajak kami ngobrol dan menanyai kami satu persatu. Saat kami ingin didoakan waktu sowan, beliau pasti menjawab “sudah kudoakan selalu”. Dan akhirnya beliau tak membacakan doa untuk kami. Sedih sesedih-sedihnya sebenarnya, tapi aku mulai sadar bahwa mendoakan anak-anak sendiri memang tak hanya saat lebaran saja, namun setiap hari.

Kemudian sampailah beliau melontarkan pertanyaan padaku:

koyone aku pernah weruh awakmu neng prapatan lampu merah

Aku bingung dan mencoba mengingat-ingat kapan kejadian itu. Perasaan, aku nggak pernah melihat Gus Nang di perempatan deh. Jangan-jangan Gus Nang salah orang kali ya, aku membatin. Walaupun aku nggak “merasa” pernah di perempatan, aku tetep mencoba mengaduk-aduk memoriku. Barangkali aku yang lupa ingatan. Tapi tetep saja nggak ingat.

Woiya, aku ingat. saat itu aku duduk-duduk sendirian di salah satu bangku nol KM deket lampu merah. Belum sempat aku mengiyakan, beliau bertanya lagi:

kenopo? mumet apalan yo..terus refreshing?

“hehe” aku cengar-cengir malu.

Begitulah adanya Gus Nang. Beliau hafal setiap jengkal santrinya. Walaupun beliau tak mengenali wajah kami (kecuali kalau udah lama nyantri), beliau hafal suara ngaji kami dan mengetahui perkembangan maupun penurunan ngaji kami. Saat menyetorkan hafalan, kami tak pernah melihat wajah beliau, kami hanya bisa memandangi punggung tangan beliau yang mengetuk lantai dengan pulpen saat kami keliru melafalkan ayat-ayat-Nya. tik tik

Salah satu pesan beliau yang paling kuingat saat sowan adalah demikian: “Mumpung iseh enom, ngajine dipol-polke, sinaune dipol-polke, kabeh buku diwoco, ben ngerti seluk beluke dunyo”. Alamak… beliau peduli banget pada kami. Mengarahkan supaya kami menjadi orang yang selalu mau belajar. Belajar apapun.

Semisal ada santri yang semangat ngajinya menurun, beliau akan menanyakan keadaan sebenarnya santri tersebut kepada pengurus. Apakah ia sedang mendapatkan masalah atau baru punya pacar, kok ngajinya menurun..hehe. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian beliau terhadap kami.

Sewaktu aku masih di komplek takhassus kitab, aku bertanya-tanya setoran al-Qur’an santri Q nem pada siapa sih?. “Gus Nanang”, jawab mbak-mbak senior. Aih…tapi mana pulalah yang namanya Gus Nanang? kok nggak pernah keliatan? Saat Mas Rashid melenggang di sekitar parkiran pondok, aku bertanya pada mbak-mbak “apakah itu Gus Nanang?”. “Bukan yang itu”, beliau adalah orang kepercayaan ndalem yang setiap harinya nganter putra-putra Gus Nang. Kemudian aku hanya berooo saja..

Selama tiga bulan tinggal dan belajar di komplek kitab, sempurna aku tak pernah tahu dan melihat sosok Gus Nanang secara langsung. Aku berani bertaruh bahwa tidak semua santri Krapyak tahu siapa Gus Nanang. Padahal beliau adalah guru kami yang hebat, beliau adalah penyusun kamus Al-Munawwir Indonesia-Arab. Maklumlah, beliau adalah sosok besar, namun perannya tidak pernah terlihat karena beliau memilih jalan sunyi di balik layar.

Memang aku berkeinginan untuk masuk komplek Q nem sejak awal,  mengingat pesen Ibu Nyai di kampung supaya aku tetep meneruskan ngajiku. Banyak selentingan-selentingan yang kudengar dari temen-temen kalau Q nem itu orangnya geng-gengan dan gaya hidupnya adalah gaya hidup ala orang kota. Aku merasa terusik akan selentingan-selentingan itu dan akupun merasa was-was mengingat diriku yang berasal dari desa pelosok di salah satu kota kecil, Jepara. Tapi biarlah, bukankah itu bukanlah perkara penting? ada hal besar yang harus segera tetep dipikirkan. NGAJI.

Barulah aku mengetahui Gus Nanang saat aku mengikuti tes masuk Q enem. Itu adalah pertama kalinya aku bisa menyaksikan Gus Nanang dengan mata kepalaku sendiri. Walaupun hanya punggung tangan beliau yang kulihat. Gus Nanang sendiri yang menyimak kami. Tahun-tahun pertama di Q enem, aku merasa jauh dengan yang namanya sosok Kyai. Bagaimana nggak merasa jauh kalau ngaji kami tak berhadapan langsung, tidak pernah membersihkan ndalemnya, tidak pernah dingendikani, tidak pernah disapa, tidak pernah bertemu langsung dan lain-lain. Waktu itu aku merasa seolah-olah tak mempunyai sosok Kyai yang amat dekat. Astaghfirullah…

Lambat laun aku baru bisa menyadari bahwa kedekatan bukan hanya dari kedekatan fisik saja. Ada kedekatan yang lebih hakiki, kedekatan emosional yang berasal dari dalam hati. Aku baru benar-benar merasakan kedekatan ini baru-baru saja. Saat sosok guru telah menancap kuat dalam sanubari kami, ada perasaan-perasaan yang sulit digambarkan. Misalnya suatu saat aku sudah berniat untuk tidak ngaji karena malas dan kasur telah melambai-lambaikan tangannya ke arahku dengan maksud supaya aku tidur, aku tak menghiraukannya. Padahal aku tak ingin ngaji, aku sudah merencanakan aksi bolos ngajiku sejak semalam, tapi aku tak berdaya akan tarikan sesuatu yang tak pernah kuketahui. Entah apa dan siapa yang mendorongku supaya aku tetap mengantri sehabis shubuh. Duhai nasib, padahal aku benar-benar ingin nggak ngaji.

Saat kedekatan dari hati telah kami rasakan, kami selalu senang mendengar apapun yang berkenaan dengan Gus Nang. Entah itu nasihat-nasihat yang beliau sampaikan melalui pengurus, pesan-pesan Gus Zaki saat ngaji yang sering menyinggung Gus Nanang dengan penuh teka-teki, cerita dari mbak-mbak senior maupun cerita dari mbak-mbak ndalem yang tentunya banyak tahu tentang kehidupan beliau. Kami selalu antusias dan mendengarkan semuanya, semua hal tentang guru kami.

Beliau adalah guru kami yang sangat perhatian pada santri-santinya, paling sabar sedunia dalam menghadapi kami, beliau paling pusing memikirkan nasib ngaji kami (kami malah merasa tak mempunyai beban apa-apa…sungguh durhaka), beliau yang selalu dan selalu ada untuk kami sejak jam enam sampai jam sepuluh (pernah sampai jam sebelas juga), beliau yang selalu bertanggung jawab atas kami, beliau yang dapat menerima kami apa adanya, beliau yang menegur kami dengan halus saat kami melewati batas kewajaran, beliau yang mencontohkan kami ketulusan berbagi, beliau yang mengajari kesopanan dan kesantunan, serta beliau yang selalu kami tunggu kehadirannya melewati gang kecil menuju tempat kami menyetor.

Saat khaul dan khataman pondok, tanpa kusadari air mataku mulai turun berjatuhan. Aku bertanya keras-keras dalam hati dimana kah kini engkau berada Gus? hatiku perih entah kenapa. Para khotimat yang berada di panggung bisa berada di panggung karena jasa Gus Nang. Beliau adalah guru kami menyetor bacaan al-Qur’an, beliau adalah penghubung kami sampai Rasulullah SAW . Namun para hadirin ndak tahu kalau guru kami adalah Gus Nanang. Beliau tidak berada di atas panggung untuk mendampingi para khotimat atau memberikan ijazah pada kami atau berfoto bareng kami. Jangankan berada di panggung, berada di majlis khataman pun kurasa tidak. Bagaimana pulalah beliau bisa berada di majlis khataman kalau majlis tersebut hanya diperuntukkan bagi para ibu-ibu.

Selesai acara khataman, aku kembali ke pondok dengan salah satu temenku, sebut saja Upin. Saat mendekati ndalem, kami berpapasan dengan Gus Nang dan Gus Kholid. Tanpa kusadari, aku dan Upin akhirnya balik badan mengikuti beliau dari belakang macam penguntit saja. Upin yang kebetulan membawa HP kameranya tak mau melewatkan moment tersebut. Ckrek kamera HP Upin berbunyi. Kami senyum-senyum puas serasa habis mendapatkan air segar saat matahari terik.   Kami memotret Gus Nanang dari belakang, jadi tubuh bagian belakang saja yang kelihatan. Mana mungkin kami berani mengambil gambar dari depan..

Kini terjawab pulalah pertanyaanku selama ini. Pertanyaan yang kerap kali muncul saat mengikuti hormat khotmil Qur’an. Baik saat mengikuti khataman pondok Nurussalam, Pondok Ali Ma’sum maupun Al-Munawwir sendiri. Saat aku duduk manis di majlis khotmil Qur’an, aku pasti teringat Gus Nanang. Dimana Gus Nang berada saat para santrinya diwisuda al-Qur’an? Ternyata beliau tidak pergi kemana-mana kawan, beliau hanya berada di ndalem.

Itulah guru kami yang tanpa kata tapi banyak makna bagi kehidupan kami sejak saat kami mulai tinggal di Krapyak. Ustadzi, anta qod ‘allamtani…. Saat santrinya berhasil, beliau lebih bahagia dibanding para santri-santrinya. Terimakasih telah menjadi guru lahir batin bagi kami. Sungguh terimakasih. Semoga Gusti Allah selalu melindungi dan meridhoi beliau. Amiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s