Dadu Ketela

..Rabu, 11 Maret 2015 pukul 13:35 di toko HS Camilan.

Siang itu aku dan mbak Astri habis menjenguk mb Siwi yang lagi menginap di RSI Hidayatullah. Sehari setelah itu, mbak Asli terjadwal sebagai peserta ujian. Makanya beli  cemilan, supaya yang nyimak nggak ngantuk.  wekeke. Aku hanya mengantar dan ikut masuk ke toko sembari liat-liat mana makanan kesukaanku. Aku hanya membatin dan mengidentifikasi jenis-jenis cemilan favoritt. Yah… hanya mengiventarisasi makanan-makanan itu tanpa berniat membelinya. Tentu Dadu Ketela berada di urutan teratas. Capek berkeliling toko tanpa membawa hasil sebungkus pun cemilan, aku langsung menyandarkan badanku di pintu dekat kasir. Duh pegelnya kakiku.

 

Hap. Seseorang menyodorkan dua bungkus Dadu Ketela ke arah kasir. Woi…. kukira hanya aku saja yang suka Dadu Ketela di dunia ini. Ternyata ada juga yang suka selain aku. Belinya dua bungkus lagi. Pasti entu orang lebih maniak lagi dariku. Sempet haru sebentar mendapati teman sesama penyuka Dadu Ketela. Padahal, aku punya kenangan buruk terhadap Dadu Ketela ini.

 

Setiap pulang dari Jogja, Bapak sudah menungguku di pemberhentian terakhir bis. Bapak selalu stay sambil celingak-celinguk tiap kali ada bis yang berhenti. Mengulum kecewa kalau mendapati orang lain yang turun, kok bukan anaknya yang turun??. Aku hanya perlu siap-siap berdiri saat mendekati jembatan kembar Bagor. Kemudian mendarat beberapa menit setelah diteriaki kondekturnya supaya keluar dengan kaki kiri terlebih dahulu. Memang sih teriakan itu bertujuan untuk keselamatan kami tapi nggak usah keras-keras keleus teriaknya. Membuat pekak telinga aja. Duh senengnya melihat Bapak dan adikku Lisa yang sudah duduk di atas jok motor. Mereka senyum-senyum simpul gitu melihat anak dan mbaknya yang pulang dari kota. Setelah dekat, kami bersalaman, khas salaman anak-bapak dan adik-kakak. Sejurus kemudian, aku sudah membonceng motor Bapak. Sungguh menyenangkan dan mengesankan sekali setiap dijemput Bapak.

 

Namun, sesampai di rumah, ada kejadian yang menggesek hatiku. Saat itu aku mengeluarkan beberapa jajan yang kubawa dari Jogja, salah satunya Dadu Ketela. Seketika itu aku dibuat kaget oleh komentar Bapak. “Wong ndeso kok nggawani telo songko kutho” kurang lebih demikian seloroh Bapak saat beliau melihat Dadu Ketela yang kubawa.  “Aih… biarin sih pak, kan aku suka telo, besok deh tak bawain makanan orang kota”. Demikian jawabku pada Bapak. Hiks. Kenapa Bapakku sendiri justru kurang merestui Dadu Ketela sebagai makanan cemilan yang paling ehm?. Sedihnyoo daku.

 

Meskipun Bapak kurang respek terhadap Dadu Ketela, toh tak melunturkan rasa sukaku terhadap Dadu Ketela. Kalau bepergian kemana-mana, Dadu Ketela selalu kuajak ikut serta. Sudah seperti pacar sendiri. Lengket. Tapi tak apo, menyaksikan mas-mas berambut gondrong bak seniman kawakan yang beli Dadu Ketela membuat cintaku pada Dadu Ketela semakin subur. Aku hanya mengamati mas-mas gondrong tersebut dari ujung kaki sampai ujung kepala. Bener-bener keren dah. Helm oblong, rambut gondrong, kacamata bening bulat kecil, tatapan tajam, kaos oblong, celana licin, sendal semacam karfil bertali dan tentu mobil bebek angkatan lama. Semuanya tampak bersih dan rapi. Yah…seniman necis.

 

Setelah membayar Dadu ketelanya, mas Gondrong membawa dua bungkus Dadu Ketela tersebut tanpa plastik. Bener tuh mas Gondrong, nggak usah minta plastik kalu nggak benar-benar butuh. Memperbanyak sampah aja, padahal tanpa plastik pembungkus itu pun sampah sudah numpuk. Yesseleeh…. Peduli lingkungan sedikit kek. Dimulai dari hal kecil, diri sendiri dan sekarang juga. Sesampai di deket motor yang juga antik seperti dirinya, mas Gondrong membuka sebuah tempat di samping badan motornya. (Aiiiish… aku mah nggak tahu istilah-istilah onderdil motor. Jadi bingung sendiri mau njelasinnya dengan istilah apa.)  Mas Gondrong membuka tutup tempat tersebut. Aku membisiki mbak Astri yang sudah membayar belanjaannya, “mbak, itu kok bagus banget sih motornya, ada tempat begituannya” (sambil menunjuk tempat yang dibuka mas Gondrong). Eh orangnya denger, tuh kan jadi galak orangnya. Aku sih bisik-bisik dengan suara keras. Kan kedengeran.

 

Gas ditancapkan, mas Gondrong cabut, aku dan mbak Astri cekikikan. Duh, pemandangan menarik.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s