Haiyyah Kalian

Aku bergabung dengan kalian di penghujung periode karena keadaan mengharuskan demikian. Awalnya memang berat, namun aku tak punya wewenang untuk menghindar, apalagi  menolak. Dari situlah cerita kita dimulai dan kita sebagai pelakunya. mb Maila, dek Ithul, Bu Icha, Nyonya, Maruko_Chan, Mak Astri (Asrama Putri kata pak Zaki), mb Ika dan aku. Jujur saja, aku masuk ke kamar pojok dekat pintu dengan berat hati dan kepala kosong. Biarlah arus yang membawaku. Begitu kataku.

Tadi malam kepalaku dikerubungi kata-kata. Kalau tidak diceritakan di sini, barangkali hidupku tak akan tenang. Kata-kata itu sudah seperti segerombolan lebah yang bergeming di kepalaku. Hidupku tanpa direcoki kata-kata pun sudah memusingkan, apalagi kalau dihantui kata-kata yang akan merangkai cerita kita. Jadilah aku menulis semua ini. Biar kalau kita tak bisa bersama lagi, aku bisa sedikit lebih lega.

Malam Ahad kemarin adalah malam terakhir bagi kita (untuk mencurahkan rasa rindu di dada, esok kalian pergi lama kembali..syalala lala) secara formalnya. Kita saling berucap selamat atas keberadaan kita di kamar pojok dekat pintu itu. Setelah itu, aku jadi berpikir-pikir kalau malam Ahad itu tak sepenuhnya melegakan. Melegakan iya, tapi di sisi lain juga menyesakkan napas.

Di sini aku hanya ingin meminta maaf atas laku-lakuku yang keterlaluan terhadap kalian. Terutama laku-lakuku saat malam-malam yang bagiku sangat sakral (malam Senin ada Pak Ihsan, malam Kamis ada Pak Muslih dan malam Sabtu ada pak Zaki). Saat beliau-beliau sudah rawuh, aku jadi kemrungsung sendiri. Was-was, jangan-jangan  di lantai tiga belum ada orang. Aku hanya merasa tak enak body pada guru-guru kita. Memang sudah menjadi adat di wilayah kita kalau segenap masyarakat Q6 baru naik lantai tiga setelah ustadznya naik terlebih dulu. Ibaratnya, guru yang butuh murid. Duh, sudah kebolak-balik dunianya.

Hatiku semakin kemrungsung dan bergemuruh ketika mendapati kalian masih berada di kamar pojok dekat pintu. Entah masih pada ngaffain aku nggak tahu. Kalau aku ini geledhek (petir), rasa-rasanya aku ingin menyambar kalian. Kalian masih beruntung karena aku bukan manusia sakti seperti yang kuhayalkan tadi. Saat meracik minuman untuk guru kita, di hadapan kompor gas itulah aku ingin menitikkan air mata. Apa karena aku cengeng atau terlalu sensitif? aku kurang yakin. Yang jelas aku pingin nangis dan marah. Marah pada kalian. Kemudian aku membesarkan hatiku sendiri dan berbicara pada diri sendiri “Biarlah Ell… temen-temenmu itu kan sudah dewasa, pasti mereka punya alasan yang bertanggung jawab atas perbuatan lahirnya, mereka tentu cukup mengerti”.

Meskipun begitu, rasa marahku tak lekas lenyap. Yang ada, aku justru menyimpan dendam, “nanti diemin mereka aja saat di kamar”. Namun seringkali aku tak kuasa membalas dendamku. Aku tak bisa membendung kejailanku terhadap mereka. Kalau aku diam, aku nggak bisa geplak sana geplak sini. colek sana colek sini. Akhirnya aku benar-benar tak bisa balas dendam. Namun di malam sakral berikutnya, aku mengulangi apa yang terjadi di malam sakral sebelumnya. Pak Guru datang, kemrungsung, was-was, meracik unjukan,  melihat kalian, marah, rencana balas dendam dan kembali jail lagi. Maafkan aku jika aku salah.

Di kamar pojok dekat pintu itu berpenghuni delapan orang. Empat punya HP smart dan yang empat punya HP non smart. Aku tergolong pemilik HP yang non smart banget. Saat berada di kamar dengan pemilik2 HP smart, aku merasa sepi sendiri. Aku hanya ketap-ketip menatap HP non smartku yang tentunya sangat sepi kayak hatiku. Paling keren cuma sms yang mampir di Hpku. Aihh… mereka pada sibuk dengan HP masing-masing. Di kamar itu aku merutuki HP smart yang lagi trend. Karena apa? HP yang katanya pintar itu justru menjauhkanku dari teman-teman yang secara dzahir berada di dekatku. Mereka merasa asing denganku tapi akrab dengan orang-orang yang sejatinya berjarak jauh.

Dua hal itu sih yang sebenernya sangat mengganjal hati. Tapi tak apa. Mereka teman-teman yang baik. Aku belajar banyak dari mereka.

Kak Maila, kita sering bertengkar dan adu mulut. Tapi percayalah aku ngefen berat padamu. Kamu adalah perempuan tangguh (ajari aku tuk jadi perempuan tangguh, terlalu lama ku bersembunyi, manatap matahari pun aku tak mampu… huwouwo-Sheila).

Mak Astri, saban hari aku bercerita padamu mengenai banyak hal yang mungkin bagimu nggak menarik. Aku tak peduli, karena bagiku semuanya menarik. Di sepanjang perjalanan ke Diniyah pun aku banyak mendominasi obrolan dan engkau khusyu’ mendengarkanku. Meskipun bualanku sangat kekanak-kanakan, engkau tetap mau mendengarkan. Terimakasih atas segala pengertiannya.

Dek Ithul, bagiku, kamu adalah orang yang keren karena sampai membangunkanmu pun aku tak kuasa. Wkwk. Tak apa, barangkali dengan tidur panjangmu itu kamu bisa melihat dunia luas tak berbatas dalam mimpimu.

 

Bu Icha, nama aslimu Bu Ita. Karena aku sangat lebay, melafalkan huruf te sampai bilang Che. Hallah biarin. Kamu adalah orang yang lurus dan aku sangat tertarik untuk meledekimu setiap kita berjumpa di kamar. Sampai pada suatu masa, kamu jadi orang yang sering meledekku. Padahal, dulu kamu selalu anteng bu setiap kuledek, apa aku telah memvirusimu menjadi orang yang teramat jail?.

 

Markucan, kamu adalah teman yang sangat cuekk dan cepat menjadi autis kalau memandangi Hpmu. Meskipun begitu, kamu adalah teman yang peduli. Kuingat saat nyonya  menghadapi badai hidup, ia tak mau makan dan hanya merem-melek tak berdaya. kamu memarahinya, bahkan sampai membangunkannya, kamu memaksanya makan. Sepahit apapun hidup, makanan tetap harus dimakan supaya kehidupan tetap bisa berlanjut sebagaimana mestinya.

 

Mb Ika dan nyonya, kalian adalah korban favorittku. Rasanya hidupku kurang asyik kalau dalam sehari tanganku tak mampir ke badan kalian. Jari-jariku suka menari-nari ke dapan mata kalian. Kalian menjadi geli dan kemudian melakukan serangan balik terhadapku. Kurasa, akhir-akhir ini kita sama-sama menghadapi goncangan hidup. Mb Ika yang matanya tidak sempat normal dan selalu sembab. Pagi nangis, siang nangis, nelfon nangis, cerita nangis. Barangkali saat itu, menangis merupakan aktivitas  terbarunya. Padahal ia bukanlah pelaku utamanya, namun tetap saja, kamu adalah orang berhati lembutt (huweekk).

 

Begitupun denganmu nya, awalnya aku tak paham kenapa hari-hari itu aku melihat awan mendung di wajahmu. Kamu diam, dan setiap kujaili, kamu tak mereaksi apa-apa. Sungguh aku jadi geregetan sendiri dibuatnya. nggak seru kan menjaili orang, tapi orang dijaili cuek??. Saat kutanyakan pada mb Maila terkait sebab yang menorehkan awan mendung di wajahmu, mb Maila menjawab dengan jawaban yang nggak enak banget. Sungguh itu bukan jawaban yang nyambung, bahkan itu tak ada sangkut-pautnya dengan masalahmu. Tahukah kau jawabannya?. “Kamu belum dewasa”, kata mb Maila. Benar kan? tanyanya apa, jawabnya apa. Benar-benar nggak asyik si Maila.

 

Sore itu aku juga lemas. Berjalan dari Diniyah yang biasanya ringan, saat itu terasa berat. Aku terduduk lemah di depan poskestren. prett. Kemudian menangis sesengukan di tempat yang tak terjangkau orang lain. Aku juga mengalami goncangan hidup. Bu Ita memergoki mataku yang bendhul-bendhul.  “Yelah, ngapain mbak nangis?  wuihh.. mb Elysa mah nggak pantes nangis, biasanya kan tampil ceria dan jingkrak-jingkrak”, komentar Bu Ita. “Biasa bu, dapat goncangan hidup, rapapalah nangis, nanti juga sembuh sendiri, goncangan hidup hanya mampir sebentar, ia nggak akan bertahan lama, kan cuma numpang lewat, pasti berlalu”. Aku sok-sokan ngeless.

 

Yah.. bentar lagi kalian nggak di kamar pojok dekat pintu lagi. Maaffin ane yak… jangan kapok jadi temenku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s