Hapeku Tak Pintar

Jam sembilan malam adalah segalanya bagi kami para penghuni komplek Q. Tak terkecuali arek-arek Q6. Setiap jam sembilan malam, kami langsung bergegas mengaktifkan HP yang semula tidak aktif. Iyalah. Masak mengaktifkan hape yang aktif??? Payah. Aku pun langsung merangsek masuk kamar. Mencari HP dengan kelabakan. Maklum, aku sering lupa menaruh HP. Jadi susah sendiri kalau lagi butuh.

Hap. Hape sudah di tangan. Kupencet tombol telpon warna merah, tanda mengaktifkan kembali. Entah bagaimana dengan teman-temanku yang lain. Yang jelas, mereka juga tak kalah parah dariku. Bahkan bisa lebih parah lagi. Kami berjejer-jejer di konblok, duduk di teras depan kamar sembari memandangi layar hape masing-masing. Dari sederetan orang-orang yang memegangi hape, aku merupakan satu-satunya orang yang memegang hape tak pintar. Semua teman-temanku berhape pintar. Duh. Rasa-rasanya aku menjadi orang yang paling nestapa di dunia ini. Lebai. Biarin!

Perasaan semacam ini barangkali dirasakan juga oleh Mak Astri. Ketika pulang dari Diniyah, kami terbiasa ngobrol di sepanjang perjalanan. Mak Astri mengeluarkan segala uneg-unegnya sebagai pemiliik hape tak pintar.

“Dulu waktu sekamar sama kamu, aku belum terlalu merasakan fenomena hape pintar karena di kamar kita masih ada empat penghuni yang megang hape tak pintar. Itu dulu El. Sekarang sudah berbeda, di kamarku hanya aku yang berhape tak pintar. Baru kerasa akhir-akhir ini. Bener-bener seperti berada di pulau terpencil. sendirian pulak. Makanya kamu bikin tulisan tentang perkara ini. Biasanya kan kamu suka nulis.”

Duh kasihannya mamakku yang satu ini. Nasibnya lebih nestapa dari nasibku. Nelangsanya sungguh tak terkira. Bukan masalah bagi kami para pemiliik hape tak pintar jika kebanyakan teman-teman memiliki hape pintar. Hape pintar menjadi masalah saat ia merebut perhatian teman-teman kami dari kami. Sungguh! Hape yang katanya pintar itu menjadikan kami merasa jauh dengan teman-teman yang berada di dekat kami. Karena apa? karena teman-teman kami lebih suka berinteraksi dan ngobrol dengan teman-teman jauhnya. Teman-teman kami menciptakan dunianya sendiri. Sedangkan kami adalah dunia lamanya. Kalau sudah begitu, kami hanya bisa diam dan merenungi nasib zaman. Duhai zaman, kami para anak-anakmu merasa dipermainkan.

Memang masa sekarang adalah gelombang ketiga. Aku sadar betul akan hal itu. Gelombang yang dipenuhi komputer, teknologi maju, ekspansi cepat, eksploitasi pengetahuan, pendidikan, perangkat lunak, jualan informasi, budaya pop, data, imaji, ideologi & nilai. Namun, aku pengen bertanya. Beginikah efeknya? saya hanya merasa ada sesuatu yang tercerabut. Entah itu apa. Apakah sisi kemanusiaan manusia?. Benarkah demikian? “Duhai salah siapa?” Kata Gita KDI.

Apa karena aku saja yang belum siap hidup dalam gelombang ketiga??. wekeke. Barangkali aku lebih cocok hidup dalam gelombang pertama, masa-masa cocok tanam. Bahkan revolusinya pun sudah berlangsung pada ribuan tahun yang lalu. Rapapalah. Ternyata begini rasanya. Rasanya hidup di gelombang ketiga.

Salah satu temanku juga berhape tak pintar. Ia bilang begini padaku:

“Mbak, kita baru akan beli hape pintar kalau teman-teman kita sudah tak ada yang membalas sms kita lagi ya? Mereka tak membalas sms kita karena tak punya pulsa sms. kalau orang-orang sudah nggak pakai sms lagi, baru kita beralih kepemilikan menjadi pemilik hape pintar. wkwk. lama-lama melihat hape pintar dimana pun berada, kok tiba-tiba sudah bosen ya? Padahal kita bukan pemiliknya.”

Aneh-aneh aja temenku ini. Dialah Encop. Meskipun aneh, aku mengiyakan saja biar ia bahagia. Dari pada mendebat yang berujung pada uring-uringan, mendingan ikut jadi orang aneh aja. Haisyhhh.

Sekian dan terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s