Pak Sopir Sinar Jaya dan Kisah Sepanjang Jalan

Dua kali ini aku bertandang ke Subang. Pertama ke rumah Tante dan kedua ke rumah Eva. Selalu ada kesan dan kenangan setiap melakukan perjalanan. Mulai dari Pak Sopir, Bus, orang-orang yang kutemui, keluarga teman, tetangga teman, pengamen dan lain-lain.

Pak Sopir Sinar Jaya. Aku, Mb Bee dan Eva duduk di kursi belakang sopir persis. Awalnya, kami hanya ngobrol bertiga tanpa melibatkan pak Sopir. Eh taunya Pak Sopir Melibatkan dirinya ke dalam obrolan kami. Okelah. Pak Sopir bertipe grapyak dan suka ngobrol. Beliau berasal dari Betawi. Nah ini nih, giliran Pak Sopir yang ngomong, aku sulit untuk mengerti karena tempo bicaranya yang terlalu cepat. Kemudian aku menanyakan ketidakpahamanku terhadap isi pembicaraan Pak Sopir pada mb Bee dan Eva.

“Neng, kalau kamu jadi orang berilmu, jangan suka menghina dan merendahkan orang lain ya! Misalnya berkata pada orang lain begini:”

“kamu bisa apa emang?”, “kamu tahu apa memang?”

“Meskipun punya ilmu setinggi apa, kalau menghina orang lain, bisa jadi tidak berkah ilmunya.”

Pak Sopir bisa menasihati kita panjang lebar karena beliau mempunyai kenangan buruk dengan orang berilmu tapi merendahkan orang lain. Orang tersebut tidak lain adalah istrinya sendiri. Istri pak Sopir menempuh pendidikan sampai jenjang strata satu, sedangkan pak Sopir tentu belum sampai strata satu. Sang istri kuliah di jurusan Keguruan, secara otomatis mengarahkannya menjadi seorang guru. Entah karena suatu apa, istri pak Sopir enggan bersalaman dengan Pak Sopir. Menurut istrinnya, dimana-mana, guru lah yang harus dihormati. Oke guru dihormati. Tapi konteksnya di sini adalah hubungan suami-istri. Setidaknya, istri bisa menghormati dan menghargai suami.

Ibarat orang membawa barang dan barangnya terlalu berat, Pak Sopir menurunkan barang bawaannya. Pak Sopir tidak tahan lagi dengan perlakuan istrinya kepadanya, mau tidak mau pak Sopir menceraikan istrinya. Pak Sopir juga bilang kalau suami suka mabuk atau melakukan hal-hal lain yang nggak bener, itu merupakan cobaan bagi sang istri. waks!

Dari sini aku mulai berspekulasi, jangan-jangan perceraian suami-istri tersebut tidak semata karena kurang hormatnya si istri. Tapi Pak Sopir  juga  ikut andil dalam tragedi ini. Wah… aku kok jadi ngarang cerita begini, bisa-bisa aku memfitnah pasangan tersebut.

Banyak hal yang aku dapatkan dari perkataan Pak Sopir. Beliau bicara banyak hal sih soalnya. Saat aku, Eva dan mb Bee diam, Pak Sopir melarang kami diam dan mengajak kami bicara lagi. Biar nggak sepi katanya.

Pak Sopir melanjutkan kultumnya lagi,

“Orang paling sengsara di dunia ini adalah orang yang nggak mempunyai suami, nggak mempunyai istri dan nggak mempunyai anak. Laki-laki mah nggak ingat apa-apa di siang hari karena sibuk bekerja. Namun, di malam hari pasti kesepian kalau tidak mendapati istri di sisinya. Orang bekerja kalau tidak punya anak, untuk apa coba? kalau meninggal tidak ada yang mendoakan. Jodoh itu misteri. Tidak bisa ditebak kapan datangnya. Secantik artis, sekaya apapun bisa jadi tidak lekas didatangi jodohnya. Desi Ratnasari kurang apa coba? Artis, cantik, kaya tapi ya belum punya jodoh”.

“Oh begitu ya?” batinku menjawab.

 

Sesampai di Kebumen, bus berhenti. Menaikkan para penumpang yang sudah pesan tiket di agen Sinar Jaya. Sesaat kemudian, ada dua remaja tanggung yang masuk ke dalam bis, laki-laki dan perempuan. Si Laki-laki kemudian membacakan sesuatu semacam puisi yang lebih cocok sebagai jeritan hatinya sebagai anak jalanan. Kukira ia pengamen yang bakalan nyanyi. tapi ia hanya membaca puisi. Duh, sudah seperti sastrawan kawak aja baca puisinya. Barangkali kalau ia ikut lomba membaca puisi, ia akan menjadi juaranya. Suaranya lugas dan tegas, intonasinya pas, isi dan pesannya mengena. Sayang, aku lupa bunyi puisinya, hanya ingat sedikit-sedikit.

 

Sekelebat ingatanku aja. Jalanan adalah kehidupan. Jangan memandangnya sebelah mata. Banyak anak-anak yang mati karena kelaparan. Melihat anaknya yang kelaparan, orang tua mana yang akan tega membiarkannya? Orang tua akan melakukan segala cara demi memenuhi hak perut anaknya, meskipun dengan mencuri. Kalau orang biasa mencuri sedikit, dijebloskan ke dalam penjara. Tapi lihatlah! pencuri kelas kakap macam koruptor itu dipersilakan masuk hotel. Adilkah semua ini?

 

Setidaknya, puisi yang dibacakan laki-laki remaja tanggung itu bisa membuka kesadaran baru bagi penumpang bus Sinar Jaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s