Sensasi Drama Serial di Rakosa FM

“Ayo dek cepet, aku selak ketinggalan drama lho”. SMS terkirim.

Kemarin pagi aku sudah membuat janji dengan dek Nopi. Kami bersepakat untuk bertemu di malam hari. Tempatnya di Poskestren Komplek Q. “Bentar lagi ya dek?” kataku pada dek Nopi saat menjelang waktu janjian. “Iya mbak, aku tak ke kamar dulu ganti kerudung” jawab dek Nopi. Eh, kayaknya dek Nopi tidak sekedar ganti kerudung karena lama tak kembali ke Poskestren. Aku mulai gelisah sendiri dan selalu mengawasi jam di hapeku. Duh, bisa telat nih kalau dek Nopi tak segera kembali. Padahal, setelah janjian dengan dek Nopi aku mempunyai kegiatan lain yang tidak bisa diganggu gugat. Waktunya pun tak bisa dimajukan atau dimundurkan barang sedetik atau aku akan menyesali diri dan menangis semalaman. Wekeke. Lebai.

Setengah jam lagi acaranya mulai dan dek Nopi belum keliatan batang hidungnyaa??. Waks. Hello0o0owww. Cemasku semakin membuncah, debar jantungku mulai tak beraturan. Berdebar di antara janji dek Nopi dan hiburanku satu-satunya. Bagaimana pulalah ini? aku mulai tak bisa berpikir jernih dan hanya kemrungsung tingkat tinggi. Kuraih hape di depanku, mengsms dek Nopi. Berharap supaya ia lekas turun ke Poskestren. Ia tak membalas, akhirnya kumiskol ia. Sambungan nadanya putus. Dek Nopi merijek panggilanku. Beraninya ia padaku. AWWAS ya! Sayup-sayup kudengar suara dari atas Poskestren. “iya mbak, iya. Bentar lagi, ini baru mau ngambil kerudung”.

“Apa? baru mau ambil kerudung? lha tadi ngapain aja?”, aku membatin dan mangkel dalam hati. Bisa-bisa dek Nopi menggagalkan acaraku nih kalau ia telat. Saat ia sudah mendekat ke arahku, aku mulai menembaknya dengan berbagai peluru ocehan. Kenapa ia lama sekali padahal hanya ganti kerudung.

“Tadi ibukku nelpon mbak, lagian kalo hanya ketinggalan drama ya mbok biasa aja, tak akan mengurangi kebahagiaan hidup.” Jawab dek Nopi yang juga mulai kesal karena aku menjadikan ia gugup dan terburu-buru.

Barangkali dek Nopi tak memahami jadwalku setelah janjian dengannya. Kalau acaraku dengan dek Nopi telat dan mundur, aku akan ketinggalan salah satu acara paling beken searea dunia radio. Padahal acara tersebut berjadwal tetap, jam 10 malam. Artinya, acaraku dengan dek Nopi tak boleh melewati jam 10 malam dan harus selesai jam segitu.

Seusai pertemuan dengan dek Nopi, aku mulai melanjutkan senam jantungku yang tadi sempat berhenti saat berbincang-bincang dengan dek Nopi. Aku langsung mengambil hape dan manancapkan hetset yang berfungsi sebagai antena di hape berkaretku. Cuss. Kupencet-pencet saluran radio dan mataku langsung membelalak mendapati saluran radio Rakosa FM. Ini nih tempat acaraku digelar, drama serial radio.

Kali ini sudah episode ke 19, mengetengahkan keluarga Prabu Kertarajasa Jayawardana yang berlatar runtuhnya kerajaan Singosari dan berdirinya kerajaan Majapahit. Drama tersebut diputar pukul 10 malam dan disiarkan ulang pukul setengah tujuh pagi setelah ceramahnya KH Anwar Zahid. Aku baru tahu kalau di Rakosa ada drama sebagus itu sekitar dua minggu terakhir ini. Duh. Jelas sekali aku ketinggalan banyak jalan ceritanya. Bagaimana mula ceritanya sampai episode 19 aku tak tahu. Tiba-tiba sudah sampai pada cerita Pendekar Syair Berdarah, Panji Ketawang, Rapanca, Meisin, Arya kamandanu dan Sakauni yang berkunjung ke Tabib Dewi Tunjung Biru dll.  Lainnya aku tak paham. Apalagi aku belum baca cerita Majapahit, membuatku semakin bingung dan penasaran aja pada jalan ceritanya.

Sebelum jam 10, sejam sebelum acara berlangsung, perasaanku sudah tak menentu. Berharap kalau drama serialnya diputar secepat mungkin. Aku sudah tak sabaran lagi menunggu. Ingin langsung menyimak ceritanya. Kegiatan lain yang kulakoni sudah tidak fokus lagi. Pikiranku tak tenang dan tak bisa berkonsentrasi melakukan aktivitas lain mulai jam 9 malam. Artinya, dalam rentang satu jam tersebut aku tak bisa melakukan apa-apa. Hanya bengong menunggui drama serial. Kadang, sembari menunggu jam 10, kugunakan untuk ngaji al-Qur’an. Sayangnya, Ngaji Qur’an pun hanya di bibir. Pikiranku sudah melayang-layang dan mengira-ngira kelanjutan cerita dari drama serialnya.

Senang saja pada drama serial di radio. Karena memang acara tersebut adalah salah satu hiburan yang bisa kunikmati selain ndengerin musik-musik di radio. Segala hiburanku hanya seputar dunia radio. Kupingku aja sampai budeg gara-gara disumpel hetset saban hari. Mau tidak mau, aku meloadkan speaker radio biar tak merusak gendang telinga. Di sisi lain, hal itu justru mengganggu teman-teman yang lain karena saking berisiknya.

Selain karena radio merupakan hiburanku satu-satunya, suara para pengisi suara drama tersebut benar-benar mantap. Meski tak melihat adegannya, aku bisa merasakan sensasi adegan melalui suara-suara itu. Saat ada pengintai, aku ikut deg-degan dan kuatir. Ingin supaya yang diintai (dalam cerita ini, pelakunya adalah Meisin) berhati-hati dan awas melihat sekitar. Saat suruhan Ramapati mendahului Arya Kamandanu-Sakauni untuk menemui Dewi Tunjung Biru, aku ikut geregetan pada suruhan tersebut. Bagaimana tidak geregetan kalau mereka adalah orang jahatt yang menghalang-halangi Arya Kamandanu membawa Dewi Tunjung Biru ke Majapahit untuk mengobati sang Prabu. Sedemikian menariknya drama serial bagiku. Suara para pengisi suaranya memiliki power, intonasinya pas, merdu dan sudah ahli banget. Misalnya suara sang Prabu ada power bijaksana dan ketegasan. Suara Sakauni sang pengembara wanita terdengar lincah dan emosian. Masing-masing suara sudah pas dengan karakter tokoh yang dimainkan. Pembawa ceritanya juga oke punya. Orang tersebut pintar sekali mengaduk-aduk perasaan pendengar. Ia membawakan suasana dari masing-masing adegan. Pendengar radio bisa-bisa sampai terbawa suasana antara tegang, senang, mendukung, mengumpat dll.

Selain itu, dialog-dialognya juga penuh makna dan filosofi. Para pendengar bisa belajar bagaimana menjalani kehidupan dari sandiwara radio itu. Misalnya cuplikan dialog saat Meisin berbicara dari hati ke hati dengan Sakauni mengenai Kamandanu, “Kita memang memiliki dunia ini, tapi kita tidak bisa memiliki rahasianya”. Ada juga ucapan Kamandanu saat menasihati Panji Ketawang, “Allasan. Kamu selalu mengemukakan alasan tanpa mau belajar memperbaiki kesalahan.” Isi dialognya tidak asal dan bernilai tinggi.

Artis-artis pengisi suaranya adalah Feri Fadli (Kamandanu), Ivone Rose (Sakauni), Elly Ermawati (Meisin), Rio (Panji Ketawang) dkk. Sedangkan pembawa ceritanya adalah Adi Suhasta (Kalau pendengaranku nggak salah).

Suatu ketika, aku dapat jadwal ronda malam. Iseng-iseng aku memencet-mencet saluran radio. Eh, tahu-tahu ada sandiwara Tutur Tinular di Radio Swadesi. Cerita dan para pengisi suaranya sama persis dengan sandiwara di Rakosa. Bedanya, cerita di Swadesi masih awal-awal, sekitar pergolakan cinta segitiga antara Meisin, Arya Kamandanu dan Sakauni. Ayu Wandira pun masih bayi. Sedangkan di Rakosa, Kamandanu sudah menikah lagi dengan Sakauni dan Ayu Wandira sudah beranjak kanak-kanak. Keren dah, meski di Rakosa aku tidak mendengarkan ceritanya sedari awal, aku bisa mendengarkan cerita awalnya di Swadesi pada pukul satu siang atau satu malam. Dengan begitu, sandiwara di Swadesi dan di Rakosa akan membentuk cerita yang utuh bagi pendengar sepertiku.

Gara-gara sandiwara Tutur Tinular di dua radio tersebut, di kamar aku suka membicarakannya tiap waktu. Aku mengajak setiap penghuni 6A berbincang tentang Tutur Tinular. Aku tidak peduli apakah mereka paham atau tidak, apakah mereka suka atau tidak. Yang penting, mereka mau mendengarkan kelanjutan cerita dari dua radio tersebut melalui mulutku. Hehe. Aku memang egois dalam hal ini. Barangkali mereka ogah-ogahan mendengarkan ocehanku yang tak kenal waktu itu.

Untungnya, temanku yang bernama mb Umi KNQ adalah orang yang mengetahui banyak isi dunia. Hal-hal remeh temeh sampai hal-hal besar diketahuinya. Dari rahasia bunga Anggrek sampai harga tiket dan jadwal keberangkatan kereta pun ia tahu. Tak mengherankan sekali kalo ia pun tahu cerita tentang Tutur Tinular sejak ia masih kanak-kanak. Kupaksa ia untuk mengaduk-aduk memori kanak-kanaknya. Memori yang berisi tentang jalan cerita Tutur Tinular. Saat aku tidak paham sambung-sinambung ceritanya, kutanyakan hal tersebut pada mb Umi. Kejam sekali aku ini. Oh, memang kejam.

Bagi teman-teman yang berkenan atau sekedar ingin tahu, monggo dicek di radio Rakosa atau Swadesi. Sementara ini, aku masih bingung dengan jadwal sandiwara di Swadesi. Pernah aku mendengarnya pukul 2 siang, 1 malam dan 1 siang. Entah jadwal sebenarnya jam berapa. Tapi yang di Rakosa berjadwal tetap kok. Jam 10 malam lebih dikit atau setengah tujuh pagi untuk siaran ulangnya. Sedangkan channel radio Rakosa adalah 105,3 FM. Monggo-monggo disekecaaken.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s