Berjanjen, Selamat ulang tahun Kanjeng Nabi

Bulan Maulud begini mengingatkanku pada kegiatan berjanjenan di kampungku. Para ibu-ibu dan gadis berkumpul di salah satu rumah warga. Sedangkan para bapak dan jejaka bekumpul di langgar lingkungan (RT). Entahlah, kenapa istilah RT disamakan dengan lingkungan. Mamak sering bilang kalau tanggal berapa (misalnya) ada acara lingkungan. Kalau demikian adanya, artinya akan ada acara warga pada tingkat RT. Setiap RT di desaku mempunyai langgar (musholla) sendiri-sendiri. Sehingga kegiatan warga di tingkat paling kecil adalah tingkat RT. Mulai dari yasinan (membaca surat Yasin-para bapak dan jejaka), manakiban (membaca manaqib Syeikh Abdul Qadir-para bapak), berjanenan (membaca Barzanji-para ibu dan gadis), Qur’anan (membaca al-Qur’an-para muda-mudi), arisan (kumpul-kumpul sambil bawa duit-para ibu), selametan dan lain-lain.
Berjanjenan merupakan istilah yang diambil dari Barzanji, yaitu kegiatan pembacaan al-Barzanji. Selama 12 hari nonstop mulai tanggal 1 Maulud sampai 12 Maulud, orang-orang berkumpul per RT. Ada 8 RT di Ds. Sumanding atas. Dari RT 12 sampai RT 19 tumpah ruah membacakan Barzanji. Merayakan ulang tahun Kanjeng Nabi. Secara teknisnya, warga RT berkumpul dalam salah satu rumah warga. Sang tuan rumah menyediakan aneka makanan khas desa (krupuk, pisang goreng, nogosari, lapis, apem, kacang atom, criping, arem-arem, kacang rebus, lemper) plus minuman. Malam berikutnya adalah giliran rumah sebelahnya yang menjdi tuan rumah acara ulang tahun Kanjeng Nabi.
Pada tanggal 1-11, kami hanya membaca bacaan yang ada di kitab al-Barzanji. Sebenarnya dalam kitab tersebut ada 3 macam bacaan maulud. Orang-orang kampungku menyebutnya Gholib (Dziba’-alhamdulillahil qowiyyil ghalib), Al-jannatu (Barzanji-aljannatu wa na’imuha sa’dun liman yushalli wa yubarik ‘alaih) dan Jadah (Azb-alhamdulillahilladzi qad aujada min nurihi nuron bihi ‘ammal huda). Urutannya ghalibàal-JannatuàJadah, dibaca permalam. Selesai baca, sesepuh RT/petugas membacakan doa yang ada di kitab Barzanji tersebut.
Anak-anak sepertiku yang saat beberapa tahun lalu baru bisa membaca tulisan Arab menjadi langganan tetap membaca bacaan maulud yang paling awal (al-Jannatu dan Abtadi’ul, alhamdulillahil qawiyyil ghalib, alhamdulillahilladzi qad aujada) atau langganan baca bagian yang sedikit. Jika kami sudah agak sedikit besar dan ada pendatang baru/tetangga kami yang baru bisa membaca tulisan Arab, secara otomatis, kita akan mengalah. Mempersilahkan mereka membaca bagian yang paling awal dan sedikit. Siklusnya seperti itu terus. Mereka pun akan merelakan bacaannya dibaca tetangga junior yang baru bisa baca tulisan Arab. Momen-momen seperti itu adalah momen sakral bagi beberapa pihak. Para pembaca pemula/ si anak, ibunya (ma’ane) dan guru ngaji kami di lingkungan (Bu Subi). Menjadi pembaca di acara Berjanjenan sudah seperti sebuah pengakuan tersendiri di kalangan tetangga. Membuktikan bahwa anak, ibu dan guru ngaji telah berhasil mengantarkan sang anak dalam membaca apa-apa yang berasal dari langit. Hehe, sedikit melebih-lebihkan.
Pada malam puncak, tanggal 12 Rabi’ul Awal, teknis acara sedikit berbeda dan lebih istimewa. Pembacaan maulud, doa maulud, tahlil, doa tahlil dan smbutan dari salah satu sesepuh. Istimewanya lagi, ada makan malam bareng bersama para tetangga satu RT. Kami membawa nasi sendiri-sendiri dari rumah. Pada malam sebelumnya, setiap kepala membayar iuran untuk membeli lauknya (ayam, ikan laut atau telur). Setelah acara selesai, lauk yang telah dimasak para ibu pada sore harinya, dibagikan ke setiap piring. Kami para anak yang masih mengaji, menggunakan lidi bekas tusuk ikan laut sebagai pembatas dan tuding ngaji. Kata orang-orang dikampungku, lidi tusuk bekas ikan yang dimakan pada malam puncak ulang tahun Kanjeng Nabi memiliki khasiat tersendiri. Yaitu, anak-anak yang menggunakannya sebagai tuding dan pembatas al-Qur’an akan jadi pintar mengaji.
Berbeda dengan di pesantren, orang-orang desaku akan cepat bergegas selepas pulang dari langgar. Tanpa diopyak-opyak, mereka langsung cabut ke rumah warga tempat berjanjen. Kesederhanaan orang kampung terlihat jelas tanpa bisa ditutup-tutupi. Ketulusan merayakan maulud kanjeng Nabi pun terlihat jelas. Tanpa tendensi apa-apa. Barangkali mereka tidak begitu mengerti, namun mereka berusaha memaknai hubungan diri mereka dengan Kanjeng Nabi. Mereka menumbuhkan, menyirami dan menyuburkan rasa cintanya kepada Kanjeng Nabi.
Banyak bukti yang mengisahkan bahwa kanjeng Nabi begitu cinta dan peduli pada kita para umatnya. Mulai dari peristiwa Isro’ Mi’roj sampai beliau menghadapi sakaratul maut. Ketika menghadap Gusti Allah saat Isro’ Mi’roj, Kanjeng Nabi kok sempat-sempatnya memikirkan umatnya. Kanjeng Nabi matur: At tahiyyatul mubarokatus sholawatut thoyyibatu lillah. Gusti Allah menjawab: As salamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu warohmatullahi wabarokatuh (Keselamatan/ kedamaian, kasih sayang dan keberkahan Allah selalu tercurah untukmu wahai Nabi). Kanjeng nabi tidak berkenan jika segala kedamaian hanya tercurah padanya. Lalu beliau matur: As salamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahis sholihin (Kedamaian/keselamatan atas kita dan hamba-hamba Allah yang shalih).
Bayangkan. Coba bayangkan dengan semesta pikiran dan perasaan masing-masing. Bertemu dengan Gusti Allah merupakan puncak kenikmatan. Para penghuni surga saja belum puas menikmati segala apa yang ada di surga kecuali jika mereka bertemu dan sowan pada Gusti Allah. Ya Allah… saat Kanjeng Nabi berada di puncak kenikmatan masih kepikiran kita. Beliau tidak egois yang hidup untuk diri beliau sendiri. Beliau tidak selfies yang hanya menomorsatukan kenyamanan hidup sendiri. Justru sebaliknya, beliau melakukan segalanya untuk tatanan umat yang lebih beradab, untuk kehidupan umat yang lebih ringan, baik dan terarah. Melalui Kanjeng Nabi, kita bisa mengenal Gusti Allah. Betapa tidak mudah menjadi seorang Nabi. Pasti berat menjadi Nabi, beban umat sejagad beliau yang memikulnya. Duh Gusti, matur nuwun telah menciptakan Kanjeng Nabi. Kanjeng Nabi, matur nuwun telah mengenalkan Gusti Allah pada kami. Matur nuwun telah membawakan al-Qur’an untuk kami.
Cinta beliau kepada umatnya bagaikan cinta dan kasih ibu kepada anaknya. Jika anak merasa sedih, sang ibu akan lebih sedih lagi. Jika anak sengsara, sang ibu lebih merana. Saat sang anak gagal, ibu lah yang paling khawatir. Jika anak sukses dan bahagia, ibu lebih bahagia lagi. Karena apa? Perasaan ibu terhadap anak melebihi perasaannya terhadap dirinya sendiri. Melibihi perasaannya sendiri. Sudah semestinya pula kita mencintai Kanjeng Nabi dengan selalu melantunkan shalawat, membaca dan meneladani laku hidup beliau yang tersaji dalam kitab-kitab Maulud.
Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s