Bapak Kunci

Sesiang itu, situasi mengharuskanku untuk meminta tolong Bapak Kunci untuk membuka paksa sebuah ruangan. Dilematis sekali memang. Kalau nggak dibuka paksa, gimana kalau ada orang yang bertamu. Tapi kalo dibuka paksa, bagaimana reaksi penunggu abadinya. Jangan-jangan aku akan disate hidup-hidup. “Tamat riwayatmu Ell”, aku bergidik sendiri membayangkan apa yang bakalan terjadi padaku.
Melalui perdebatan diri yang sengit, akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi Bapak Kunci. Bapak Kuncinya lagi nggak di tempat kerja. Hanya ada Bapak reparasi jam yang stay di sana. Bapak Reparasi mengajakku bicara. Bertanya apa maksud kedatanganku. Sebelum maksudku terutarakan, Bapak Kunci datang. Beliau bertanya juga apa maksudku mendatanginya. Aku agak malas menjelaskan panjang lebar. Lagian tadi Bapak Kunci kemana aja waktu aku menjelaskan maksudku pada Bapak reparasi. Rasa-rasanya kepalaku sudah mendidih.
“Okelah-okelah”, kata Bapak Kunci. “Tapi aku harus ke rumah seorang Ibu terlebih dahulu karena beliau tadi sudah membokingku duluan dari pada sampean”, lanjut bapak Kunci.
“Lha ibunya mana Pak?”
“Lagi masuk toko mbak”
“Wah, gimana ya Pak? Soalnya ini penting sekali karena menyangkut hidup dan mati seseorang. Bagaimana kalau Bapak ke tempat kami terlebih dahulu, baru kemudian ke rumah ibunya?”
“Ya nggak bisa mbak. Harus urut dong. Yang datang duluan yang dilayani duluan”
“Aih. Bapak segitunya amat sih. Bagaimana kalau saya minta izin ke ibunya untuk membawa Bapak ke tempat kami terlebih dahulu?”
“Kalau begitu ya nggak apa-apa mbak. Monggo-monggo saja”.
Ketika seorang ibu-ibu muda keluar dari toko, aku langsung menghampirinya atas isyarat Bapak Kunci. Sejurus kemudian aku mengutarakan maksudku. “Bu, bagaimana kalau Bapak Kunci ke tempat saya terlebih dahulu Bu?. Ini penting banget. Darurat sekali Bu.” Aku merayu ibu muda nan ayu tersebut dengan wajah termelas yang kupunya.
“Iya mbak, nggak apa-apa. Silakan!”
“Hiks. Terimakasih ibu, ngapunten sekali nggih” Aku menyempurnakan aktingku.
“Iya mbak, nggak apa-apa. Santai aja”.
Dasar akal bulus. Setiba di tempat kejadian, Bapak kunci langsung mengeluarkan segala persenjataan berupa segerombol kunci, besi kecil, obeng dan yang sejenisnya. Deg-degan sekali saat menunggui Bapak Kunci. Pertama-tama, Bapak kunci memasukkan segerombol kunci satu per satu ke pintu ruangan kecil tersebut. “Apakah pasti ada satu kunci yang bisa membuka pintunya Pak?” tanyaku pada Bapak Kunci.
“Ya nggak mesti si mbak, biasanya kebetulan saja”.
“Oh, ibaratnya mungkin seperti main dadu atau trial n error. Bapak hanya coba-coba ya?” Aku bertanya dalam hati.
Aku agak sedikit sedih mendengar pernyataan Bapak Kunci. Beberapa menit yang lalu, aku mengandaikan bahwa sebuah pintu seperti sebuah hati. Hati juga butuh kunci yang bisa membuka dan membawa seseorang masuk ke dalamnya. Tapi bagaimana pula kalau ternyata tidak ada yang menjamin kalau ada sebuah kunci yang bisa membuka sebuah pintu. Kalau begitu, berarti hati tidak mesti mempunyai pemegang kuncinya juga dong. Kalau nggak ada kuncinya, selamanya hati akan tertutup. Kalau selamanya tertutup, rasa-rasanya sebuah hidup akan terasa hambar. Kasihane rek.
Segerombolan kunci yang dibawa Bapak Kunci tak ada yang pas. Semuanya nihil. Kemudian Bapak Kunci memasukkan besi kecil untuk mengukrek-ukrek lobang kunci. Setelah sekian lama diukrek-ukrek, ceklek bunyi pintu terbuka. Duh, leganya. Padahal tadi aku sangat was-was jangan-jangan pintunya nggak bisa terbuka. Meski nggak ada satu kunci yang bisa membuka pintu ruangan kami, setidak-tidaknya dengan bantuan tukang kunci, pintu kami dapat dibuka lagi. Barangkali demikian juga dengan hati yang nggak bisa dibuka dengan sebuah kunci, dengan pertolongan Yang Maha Kuasa tentu hati dapat terbuka sedikit atau lebar-lebar.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s