“Bu guru juga lariiii” teriak Miko

Sepulang dari Koppontren, aku mampir ke Diniyah. Berniat untuk mencari gambar dan googling gratis. Berhasil memperoleh gambar, aku melanjutkan perjalanan ke FC 3M. Di pertigaan toko merah (Toko Kelontong pak Dawam), aku mendengar namaku dipanggil seorang bocah.
“Bu Elisa, mau kemana? aku mau ikut ke rumahmu Bu”
“Eh Miko, iya Mik. Tapi kita ke FC dulu ya”
Miko menunggang sepedanya yang kebesaran. Sekali dua kali ia menurunkan kakinya ke tanah, mengantisipasi tinggi badannya yang tidak sampai untuk memedal sepeda jika harus duduk di sedel sepeda. Kuajak Miko untuk membeli es teh deket fotokopian. Kuberikan dua lembar uang dua ribuan. “Ini Mik, Miko yang bilang ke Simbah ya, es teh 1, es jeruk 1”. Keberanian Miko untuk memesan es tidak muncul juga akhirnya aku yang memesan. Sengaja kutinggalkan Miko di penjual es supaya ia berlatih untuk berani menghadapi orang.
“Mik, tunggu es nya di sini ya. Aku mau ngambil fotokopian dulu”.
Kupaksa ia untuk menunggui es yang telah dipesan. Sengaja memang. haha. Sebentar kemudian ia menyusulku di fotokopian. Sambil cengar-cengir ia menyeruput es jeruknya di bawah siang yang amat terik. Membuatku semakin kemecer aja melihat Miko yang minum es jeruknya. Namun ada yang ganjal dengan Miko. Ia hanya membawa sebungkus es jeruk. Es teh untukku mana? aku membenak dalam hati.
“Lho Mik, es tehku mana?” hmm… “sana ah balik lagi ke Simbah”. Ia bergegas menuju warung es.
Kemudian aku pun menyusulnya lalu bertanya pada Miko, “Mik, sudah bilang ke Simbahnya belum?” aku hanya memastikan kalau Miko sudah memesan es teh untukku. Haha. Tapi barangkali pertanyaanku tersebut mengusik Simbah penjual es yang kemudian menjawab pertanyaanku, “sudah ya le, mbok yang sabar”. Tidak Miko yang menjawabku melainkan sang Simbah. Aku hanya merasa malu karena tidak sabaran menunggu es teh Simbah. Maklum lah, kalau penjualnya Simbah2 mah bisa dipastikan kalau pelayanannya sangat sellow. Itu lho, semacam adegan slow motion kayak perjuampaan dua sejoli di film2 India.
Selepas menerima es teh dari simbah, aku mengajak Miko kembali ke Diniyah untuk memasukkan gambar ke dalam map absen. “Pulang yuk Mik..” ajakku pada Miko. “Nanti tak boceng pake sepedamu”. Kemudian aku menyuruh Miko naik di boncengan belakang, sementara aku berusaha menjaga keseimbangan sepeda agar tidak goyah.
Kaki kananku kunaikkan ke atas pidal, Miko menjerit dengan keras, “Bu, aku mau turun aja aahh. nggak usah dibonceng bu guru”. Aku bisa menebak apa isi hati Miko, pasti ia takut tak bocengin gara-gara kayuhanku yang tidak mantap kayak ada lindu gempa bumi.
“Eh, nggak usah takut Mik, yang penting kamu berani aja tak boncengin. Pasti nanti nyampe pondok kok”, aku berusaha meyakinkan Miko. Akhirnya Miko pun termakan bujuk rayuku meski melewati beberapa kejadian yang mengerikan untuk anak kecil seukuran Miko.
Dua bungkus es yang kami beli, kutaruh di setang bagian kiri. Baru sampai depan warung bu Berkah, kedua es tersebut menjatuhkan dirinya begitu saja. Barangkali lebih baik terjun dari pada jantung kedua es tersebut copot gegara diboncengin aku. Sepeda yang kunaiki oleng beberapa waktu karena aku dan Miko tertawa tak terhingga. Rasanya seperti naik motor saja, padahal naik motor adalah perkara yang membuatku tidak mampu menghadapi jalanan dengan optimis.
“Nah, sampai Mik. ini pondokku. Ayo masuk”
“Nggak ah bu”
“Lha terus ngapain kamu bela-belain nganter bu guru ke pondok kalau nggak mau masuk?”
“Nggak apa-apa, yang penting aku tau pondok bu guru biar nanti aku bisa memberitahu Hamam-Humam”
“Ada apa dengan Hamam-Humam kalau tahu pondokku?”
“Mungkin nanti bisa nanya-nanya mengenai UTS”
“Hah. Cuma gitu doang?” aku membatin.
Sehabis Ashar, aku telah dibonceng mb Aam menuju UGM. Namun, di gang sate pak Marzuki, aku kembali mendengar namaku dipanggil. Oi-oi ternyata bocah-bocah D2 nekat menjemputku ke pondok. Mereka adalah Miko, Hamam-Humam dan Arman. Sebenarnya aku merasa terharu dan nggak enak sama mereka karena berbuat segitunya padaku. Sedangkan aku malah mau pergi karena memuaskan dahaga sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah janjian sama mb Aam. Terpaksa mereka kembali lagi ke Diniyah dengan hati yang kosong.
Rabu, 25 November 2015
Setibanya di pintu masuk kantor, aku melihat ibu Rama sedang dikerubungi bocah-bocah D2. Kutemui beliau, lalu mengalirlah cerita kalau Rama enggan pergi ke Diniyah karena ada perang dingin diantara Rama dengan Abiyyu. Biasa lah, namanya juga bocah-bocah cilik, tentu hal-hal semacam itu sudah menjadi hal wajar. Sebelumnya, aku pernah menenangkan Rayan yang mengamuk pada Humam dkk. Sekali dua kali memang melelahkan menghadapi mereka, tapi seringkali juga aku senang tak terkira.
Pertama kali aku bergabung dengan bocah2 D2, seringkali aku merasa fustrasi. Aku sulit sekali beradaptasi dengan mereka. Bayangkan saja kawan, aku orang yang sepi, nggak pandai bicara alias selalu beletotan saat bicara, pasif, tidak banyak bergerak justru dihadapkan dengan bocah-bocah yang nonstop rame, aktif, selalu bergerak dan berpolah tingkah. Benar-benar membuatku keteteran. Di suatu masa, aku merasa tak berdaya lagi menghadapi mereka yang berkebalikan 180 derajat dengan diriku. Aku ingin bertukar kelas dengan Pak Mukhlas atau Bu Ilhia. Sempat terbesit pikiran demikian.
Rabu itu kelas berjalan seperti hari-hari yang lalu. Menulis, mengaji, tikror hafalan, bermain petak umpet. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba Miko dan Rozak saling dorong. Pasti ada sebabnya, tapi keadaan itu tak memberiku kesempatan untuk melacak penyebab aksi saling dorong tersebut. Kukira peristiwa itu sangat wajar seperti perang dingin anak-anak seusia mereka. Tak kusangka selanjutnya, ternyata Miko berubah menjadi brutal. Aku membujuknya supaya ia bersikap kalem. Kukatakan padanya bahwa Miko anak baik yang tidak pendendam, Miko juga harus sabar seperti yang dikatakan Simbah penjual es selasa kemarin.
Badan Miko masih kaku, tanda-tanda kalau emosinya belum menurun. Ia masih diliputi amarah pada Rozak, matanya menyala-nyala sembari mendelik kayak orang kesurupan saat melihat Rozak. Beberapa temannya menutupi matanya dengan harapan supaya Miko tidak melihat wajah Rozak. Kusuruh Rozak pulang lebih awal, siapa tahu emosi Miko cepat reda. Teman-temannya juga menenangkan supaya Miko lekas istighfar dan sabar. Segala sesorah teman-temannya tidak dihiraukan Miko lagi. Ia kalap menghadapi dirinya sendiri. Kudekap badan Miko yang tambun. Beberapa kali aku sempoyongan, ada anak-anak yang ikut memegangi tubuhku supaya aku kuat menahan Miko yang sedang kalap.
Miko meronta-ronta dari dekapanku, ingin meloloskan diri dan mengejar Rozak. Padahal pintu kelas sudah dikunci Asiyah, namun Miko memang sedang dikuasai sisi jahat dirinya. Ia mencoba membuka paksa pintu yang telah terkunci. Aku mengalami perang batin antara menghadapi Miko sendiri atau meminta bantuan pak guru. Kebetulan ada pak guru yang lewat saat aku memegangi tubuh Miko. Tapi nggak sampai hati aku memperpanjang urusan. Biarlah perkara ini kuhadapi sendiri, dari pada berbuntut panjang jika aku melaporkan pada pak guru.
Sebagai pendamping kelas yang belum mempunyai cukup pengalaman, aku bingung menghadapi anak-anak yang sedang naik pitam. Untuk meredam emosinya, cara seperti apa yang harus kutempuh? demikianlah kegundahanku. Pernah aku melihat ibu-ibu yang menciumi anaknya saat sang anak menangis kejer. Lambat-lambat tangis bocah tersebut berhenti. Barangkali si anak telah bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Lalu mencul pertanyaan apakah aku perlu menciumi Miko biar amarahnya melunak. Namun, aku berpikir dua kali untuk menciumi Miko. Pertama, dia bukan anak kandungku. Kedua, bagaimana reaksi anak-anak lain saat melihatku menciumi Miko. haha. Dia anak laki-laki dan aku perempuan. Tentu akan mendapatkan kecaman keras. Kemudian, aku hanya perlu mendekap tubuh Miko sekuatnya, mengelap air matanya serta mengelus kepalanya. Berharap ia lekas berdamai dengan dirinya sendiri.
Kelas dalam keadaan tidak kondusif seperti kapal pecah. Anak-anak berada dalam posisi semrawut. Mereka bertebaran di sana-sini. Ada yang duduk-duduk tidak peduli menghadapi kebrutalan Miko, ada juga yang berupaya keras untuk membantuku. Meski dalam keadaan tidak kondusif, aku meminta anak-anak untuk membaca doa setelah belajar. Mereka berdoa dengan hati yang was-was. Aku pun ikut berdoa dalam keadaan masih memegangi tubuh Miko. Kakiku gemetar, begitu pula saat membaca doa ternyata bibirku juga gemetar. Entah perasaan seperti apa yang kualami saat itu. Takut, khawatir, penuh harap dan cemas campur-aduk jadi satu.
Setelah berdoa, aku menyalami bocah-bocah D2 satu per satu. Agaknya, badan Miko tidak sekaku tadi. Kubimbing Miko menuju kantor guru, kududukkan di sofa, kusodorkan segelas air putih dan kutawarkan potato. Berhasil. Miko sudah mulai bisa senyum melihat Kenan yang main kursi beroda tiga dengan Asiyah dan Ima. Tanda-tanda Miko sudah baikan. Kutinggal ia melakukan tugasku. Sampai tugasku usai, Miko belum dijemput orang tuanya.
“Lho Mik, kok belum dijemput”
“Nggak papa bu, rumah Miko tu deket dari sini. Sudah biasa pulang sendiri kan Mik”, sahut salah seorang pak guru.
“Ooh, kalau begitu ayo Mik pulang”, kuajak Miko beranjak dari kantor.
Meski sudah sembuh dari lukanya, aku merasa nggak tega melihat Miko pulang sendirian. Aku hanya ingin memastikan kalau ia baik-baik saja sampai rumah. Rumah Miko berada di samping Masjid Muslimat. Dalam ukuran tertentu bisa dibilang dekat lah. Sampai di teras rumah, aku melambaikan tangan pada Miko, sekedar dada-dada. Kuteruskan langkahku menuju pondok melewati komplek T dan belakang komplek L. Belum sampai di depan komplek T, Miko sudah mensejajariku dengan sepeda kebesarannya. Kutanya ia hendak kemana.
“Mau membantu bu”
“Mau membantu apa Mik?” dalam hati aku beragumen bahwa bantu-membantu dan tolong-menolong hanya ada dalam kamus anak-anak desa yang akan membantu tetangganya memasukkan jagung/pakaian/padi yang di jemur saat musim hujan begini. Waktu itu memang habis hujan deras dan masih menyisakan rintik-rintik hujan. Kukira Miko mau membantu tetangganya melakukan apa gitu, seperti yang dilakukan anak-anak kecil di desaku.
“Mau membantu bu guru, supaya bu guru nggak kehujanan”. Waks. Ternyata Miko bermaksud mengantarku sampai pondok, ingin memastikan bahwa aku nggak akan kehujanan di tengah jalan.
“Lho, tapi kamu nggak bawa payung Mik, gimana kalau nanti kamu yang justru kehujanan?”
Barangkali ia baru menyadari niat baiknya tidak akan berjalan lancar. Ia bingung namun tetap memaksaku terus berjalan. Ia menggiringku dengan sepedanya. Baru sampai di samping rumah pak Kelik, rintik-rintik hujan tersebut berubah menjadi hujan deras. Kukatakan pada Miko supaya ia lekas balik arah. Kali ini ia tidak menolak permintaanku. Pontang-panting ia mengendalikan sepeda kebesarannya. “Cepet Miik,,,, lariii”
Sayup-sayup kudengar suara Miko, “Bu guru juga lariiii”.
Di tengah hujan yang mengguyur semakin deras, aku terus berlarian sampai pondok. Bahagia sekali rasanya bisa bertemu dengan anak-anak seperti Miko.
Koppontren, 28 November 2015
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s