Mengayuh Sepeda

“Ketika bahan sudah terkumpul, tetapi malas menuliskannya, ada satu hal yang bisa hilang dan itu sangat penting, yakni nuansa.” Kata salah seorang penulis.

Bulan Februari memberiku sedikit kejutan. ada tetanggaku yang mondok di Krapyak, sepondok sama aku dan Encop pula. Sebenarnya sudah lama aku tahu kabar tersebut. Disusul tetangga mondok tentunya berbeda dengan disusul santri baru yang lain. Senang aja bisa melihat tetangga-tetangga yang mau belajar lagi. Karena apa? jarang sekali orang Desa yang mau menyekolahkan anaknya sampai kota-kota jauh. Pendidikan bukanlah barang antik yang menarik, apalagi menjanjikan. Makanya kalau ada tetangga yang mau melanjutkan belajar di Perguruan Tinggi maupun Peantren, aku merasa bungah.

Jam dua dini hari, tetanggaku itu sudah sampai di Pesantren. Ia diantar kedua orang tua dan saudaranya yang berperan doble sebagai sopir. Saat itu aku masih tidur di Poskestren sendirian. Encop memiscallku beberapa kali namun aku nggak denger. Pantes aja nggak dengar, orang hapeku nggak bisa bersuara apa-apa, sekedar thit-thit thit-thit pun tidak. Bisanya Cuma ketap-ketip kayak lampu lima watt yang hampir habis masanya. Dasar Hape bisu, aku merutukinya. Karena nggak mempan dimiscall, Encop langsung mendongkrak pintu Poskestren sambil bicara buanyak hal macam ibu-ibu yang ngedumel tak karuan.

Singkat cerita, tetanggaku langsung betah berada di Pesantren. Terlebih kalau bareng aku sama Encop, pasti tambah betah. wekeke. Aku dan Encop langsung memvirusi tetangga kami tersebut dengan menceritakan banyak hal. Pertama-tama, ia harus bisa naik sepeda onthel. Soalnya kalau mau ngafa-ngafain biar mudah. Transportasi di Jogja lagi sakit berat, tentu akan sulit mendapatkan bis yang cepet lewat. Dan hal itu akan sangat mengganggu kegiatan yang pengen kita kerjain.

Nama tetanggaku yang sepondok denganku adalah Idha. Beberapa hari kemudian, aku dan Encop mengajaknya untuk berlatih sepeda onthel di lapangan Minggiran. Mula-mula, aku dan Encop memegangi bagian belakang sepeda. Baru sebentar mengayuh, Idha sudah jatuh. Begitu seterusnya, beberapa putaran kaki mengayuh, sepeda yang dinaiki Idha roboh.

Hari pertama latihan, hasilnya masih jauh dari harapan. “Rapapa, Besok latihan lagi”, hibur kami pada Idha. Di hari itu, Idha nampaknya juga belum berkeinginan untuk bisa mengendarai sepeda. Hal itu tampak dari raut mukanya yang hanya menatap kami dengan tatapan kosong saat kami membujuk dan merayunya. Bujukan bahwa transportasi macam sepeda onthel bagi para pemula perantau Jogja adalah wajib hukumnya. Petuah-petuah yang keluar dari mulut kami hanya masuk-keluar di telinga Ida. Masuk keluar kanan dan keluar dari telinga kiri. Ya sudahlah. Kami tak bisa memaksa Idha. Tugas kami hanya mengajak, merayu dan membujuknya. Masalah mau atau tidaknya itu urusan Idha. Kami tak mempunyai wewenang lebih.

Namun, pada latihan-latihan berikkutnya, Idha mulai membuka hatinya untuk mau berlatih sepeda dengan legowo. Semangatnya timbul dari dirinya sendiri. Barangkali ia baru merasakan kesulitan kalo tidak bisa naik sepeda. Kemudian ia berlatih dengan semangat tanpa putus asa meski jatuh bangun ia mengejarnya (eh, itu mah lagu. Jatuh bangun aku mengejarmu, namun dirimu tak mau mengerti, kubawakan segenggam cinta namun kau meminta diriku, tak sanggup diriku sungguh tak sanggup). Helleh.

Hidup seperti sepeda yang butuh dikayuh. kalo nggak dikayuh, sepeda akan jomplang karena nggak ada keseimbangan. Begitu pula hidup, kalau nggak dikayuh atau nggak dijalankan, akan tumbang juga. Mau hidupmu tumbang karena kamu nggak mau bergerak? Hellooww.

Advertisements