Islam Nusantara, i am coming

Aku pergi ke jakarta tanggal 14 september. Mengawali hidupku sebagai mahasiswi paska STAINU program Islam Nusantara. Entah apa yang akan aku pelajari disini. Aku hanya berpikir keras, jangan-jangan, aku kuliah untuk mempelajari dan mencari hal yang tidak ada. Sia-sia sekali kan? di posisi ini, barangkali aku sangat pragmatis dan praktis. Ingin mempelajari sesuatu yang kelihatan dan nyata manfaatnya. Ini nih kurang baiknya. Tidak demikian yang kumaksud. Aku hanya menyayangkan bila kuliah menjadi hal yang sia-sia untukku dan juga lingkunganku.

Seperti pertanyaan dari Pak Zaky kemarin. Tujuanku kuliah untuk apa? Beliau menyangsikan dan meragukan hal-hal yang akan kutuju di bangku kuliah. Begitu pula dengan mas Zia yang… keren banget. Justru aku tidak bisa menulis hal-hal positif mengenai kehidupan ketika sudah kuliah karena pikiran dan tenagaku tercurahkan untuk hal-hal yang berbau akademik.

Okelah tak mengapa. Kujawab pertanyaan pak Zaky secara normatif saja. “ingin belajar”, kataku. Yaudah, kalau mau belajar ya tinggal belajar yang bener disini. Aku dibayar untuk sekolah dan belajar. Jangan menyia-nyiakan orang yang telah membiayaiku dengan keringat dan jerih-payahnya. Rakyat Indonesia.

Jurusan Islam Nusantara belum familiar di telinga masyarakat umum. Masyarakat masih bertanya-tanya, Islam Nusantara itu apa, masuk keilmuan apa, kalau lulus gelarnya apa. Sungguh hebat sekali, aku yang tidak bisa menjawab apa yang dipertanyakan orang-orang. Ironis sekali ya?? Ironis bangett.

Bangunan dan pondasi Islam Nusantara belum kuat. STAINU dibawah NU mencoba membangun pondasi dan bangunan Islam Nusantara. Nampaknya, pondasi tersebut masih dalam proses pembangunan. Belum selesai membangun pondasi. Pondasinya aja belum, apalagi bangunannya. Kurang lebih demikian apa yang kuamati selama satu minggu keberadaanku di Jakarta ini. Tapi aku senang berada di dalam proyek pembangunan ini. Aku ikut membangun. Semoga kedepannya, aku konsisten ikut membantu. Tidak sekedar koar-koar di awal saja. Apalagi hanya bualan sesaat. Semoga tidak demikian.

Barangkali aku bisa membayar hutangku pada rakyat Indonesia dengan belajar tekun, membaca banyak literatur, mencari dan melacak keberadaan naskah-naskah nusantara, daan memformulasikan Islam Nusantara. Taraaa.

Bagaimanapun juga, harus kuingat kuat-kuat bahwa aku disekolahkan rakyat. Tidak disekolahkan secara cuma-cuma dengan dikasih duit. Aku dihutangi. Aku sekolah dengan berhutang pada rakyat. Meski rakyat tak akan menagih uangnya padaku, setidak-tidaknya aku tahu diri untuk mengembalikan apa yang telah kupinjam dari rakyat. Meski dengan bentuk yang berbeda, yang penting sebanding dengan jerih payah rakyat. Ingat selalu akan hal ini El.

Semoga aku bisa mengembalikan apa yang bukan hakku pada pemiliknya. Islam Nusantara untuk keutuhan bangsa. yeyeye

20 September 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s