Dunia Akademik

Genap dua minggu aku tinggal di Jakarta. Mengikuti perkuliahan yang belum membentuk sebuah pondasi. Bayanganku masih abstrak tentang dunia akademik. Aku memang pernah sangat jatuh cinta pada dunia akademik. Ketika semester empat, lima dan enam di Tafsir Hadits UIN Sunan Kalijaga. Aku menikmati hidupku di Tafsir Hadits. Dunia akademik sedemikian mengasyikkan saat itu. Tentang mata kuliah yang waw, pemikiran-pemikiran yang baru bagiku, mufassir-mufassir yang oke punya, tokoh-tokoh Barat yang tekun meneliti dan belajar, dosen-dosen yang berilmu. Aku terkesima.

Beberapa waktu ini, aku mempertanyakan banyak hal. Menuntut jawab atas segala tanya. Kenapa kehidupan akademik sedemikian garingnya. Aku mengalami perang batin. Kelabilan berpikir barangkali. Dunia akademik berada di menara gading. Sedangkan kehidupan realitas entah berada dimana. Dunia akademik semacam membuat jarak dengan realitas. Ada tembok pemisah. Kesenjangan antara kehidupan akademik dengan kehidupan nyata sangat jauh. Dan aku sempet bingung dan goyah hidup dalam kehidupan akademik.

Aku memang suka belajar, namun kalau belajarku ini akan menjauhkanku dari realitas, aku juga pikir-pikir lagi. Ogah aja. Benar kata seseorang yang tak kutahu namanya di facebook, “Sekolah membuat mereka pergi tak pernah kembali. Semakin jauh dari realitas, dan watak asli manusia yang apa adanya, bloko, nerimo”.

Pendidikan kita memang begini sejak SD. Kita aja yang baru nyadar sekarang-sekarang ini. Kata mas Zia, jurnalis Al-Munawwir. Aku sempat terpengaruh akan gagasan dan gerakan nyata mas Zia dalam banyak hal. Utamanya di bidang pendidikan, pemberkuasaan desa, pesantren dan kehidupan itu sendiri tentunya. Dengan membaca tulisan-tulisannya, aku menjadi tidak ingin belajar di gedung tertentu. Aku ingin belajar mandiri. Tidak tergantung pada institusi. Tapi nyatanya aku belum mampu belajar mandiri. Seringkali mogok dan tidak beraturan. Belajar memang harus ada gurunya supaya tidak bingung di belantara keilmuan. Mungkin begitu.

Pak Ihsan pernah mewanti-wanti kami supaya kami tidak menjadi orang berilmu yang berada di menara gading. Harus membaur dan menyatu dengan masyarakat dan kehidupan. Betapa sangat dilematis sekali.

Aku hanya menyangsikan diriku. Mengira-ngira, jangan-jangan aku mempelajari perkara yang sia-sia, memperdebatkan dan mempermasalahkan hal yang tidak ada. Hm.. sayang sekali, mengahabiskan umur saja. Aku hanya merasa bahwa di dunia akademik ini, hanya ada isu, wacana dan embuh apalagi. Tentunya hal abstrak. Kalau masih abstrak sih tak masalah. Jadi masalah ketika sudah menjadi absurd. Haha.

Namun kata Mb Niswah, tidak ada yang sia-sia dari ilmu. Inilah titikku bertolak. Belajar dan menuntut ilmu. Semoga kedepannya, aku tidak menjadi terasing dari realitas setelah bergaul dan berinteraksi dengan ilmu dan buku-buku. Aku tidak boleh melupakan dan mengabaikan realitas. Solusi dari mas Zia, ikut berkegiatan di masyarakat sekitar. Terpikir olehku untuk mengikuti rutinan yang kudengar di masjid deket asrama. Ayo mulai sowan-sowan ke tetangga dan Bu RT.

Oh ya satu lagi, ada hal yang menarik dari tulisan Kirana di blognya. Kirana adalah putri pertama bu Dina Sulaeman, pakar hubungan internasional dan Timur Tengah. Mumpung berada di kampus, tempat-tempat dimana kita bebas berdiskusi, maka manfaatkan semaksimal mungkin. Karena apa? Diskusi-diskusi di luar kampus bisa dibilang tidak legal dan tidak memiliki otoritas. Sewaktu-waktu bisa digusur aparat. Haha.

Asrama Mahasiswa Matraman Dalam II, Jakarta, 05 Oktober 2016

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. mufiezanima says:

    Is….. nice word 😍😘
    Kangen dirimu.

    Like

    1. Kene dek dolin2 ng jakarta. Sekalian gawakke indil hasan. Wkwk

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s