SOWAN PAK KH. ZAKY HASBULLAH

Setelah fiks boyongan dari pondok, aku berpamitan pada Gus Zaky. Meminta restu dan maaf atas segala lakuku terhadap beliau. Aku sudah mempersiapkan pidato kenegaraanku pada Gus Zaky. Biar lancar jaya ketika matur. Seperti pidato perpisahan dan pamitan para santri, pertama-tama mengutarakan silaturrahmi, mohon maaf atas segala khilaf dan salah, terimakasih telah diajar dan diberi kesempatan berada di Diniyah Ali Maksum.

Baru sampai poin ketiga, aku merasa ada yang mendarat di kepalaku.

“bug”. Aku tersentak.

Melayang sebuah bantal kursi. Rupa-rupanya, Gus Zaky melemparkan bantal ke arahku. Seketika nuansa sowan berubah, yang awalnya mellow dan sendu menjadi kocak dan cair. Aku langsung tertawa dan cengar-cengir sendiri. Terlupa, aku tadi matur sampai mana.
Dengan gaya beliau yang gokil, Gus Zaky bertanya apakah aku sudah tidak suka lagi sama beliau, kok aku mau boyong.

Sebenarnya agak takut sih saat sowan, mengingat beliau bisa membaca wajah dan pikiran kami. Shwaaa. Semuanya kelihatan. Pikiranku yang busuk dan licik ini juga terbaca oleh beliau. Makanya aku was-was.

Lebih mendalam lagi, beliau mempertanyakan tujuanku kuliah. “Tujuanmu opoo?”, adalah pertanyaan yang selalu Gus Zaky ulang-ulang. Pengulaan pertanyaan menandakan bahwa beliau ingin tahu apa tujuanku kuliah lagi yang sebenarnya. Jawabanku sangat standar dan normatif, “pengen belajar pak, tunggile keranten angsal beasiswa”. Klise sekali. Masak belajar harus nunggu beasiswa? Dasarr tidak berniat belajar sungguh-sungguh. Kritikku pada diriku sendiri.

“Kalau bener pengen belajar, bukumu sepiro? satu lemari ono?”, lanjut Gus Zaky.

“Hehe, kalau lemari kecil nggih wonten”, jawabku retoris.

Disitu aku juga berpikir dan tersentak, apa yang sebenarnya kuinginkan dari melanjutkan belajar di perguruan tinggi ini. Kalau mau belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Pak Zaky tergolong orang yang cenderung pada kehidupan setelah kehidupan di dunia ini. Apa yang akan kulakukan dengan S2 merupakan perkara yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan setelah kehidupan. Barangkali begitu. Aku sangat menyadari betul, namun apa salahnya mencoba belajar.

Aku belum sampai pada pemikiran model seperti ini. Yah, masih kedonyan dan penuh ambisi. Ada saja keinginan-keinginan yang terbenak dalam kepala. Ingin ini, ingin itu yang tak akan berkesudahan sampai kiamat. Mbah Munawwir tidak kuliah, pak Zaky juga belum S2. Tutur Pak Zaky.

“S2 ki ketoro kendonyane”, tembak beliau. Aku sudah membatin bahwa S2 adalah perkara duniawi. Eh, Pak Zaky malah terang-terangan ngendiko demikian. Jadi shocking soda aja. Haha. Pak Zaky melihat apa yang akan kulakukan ini adalah hal yang sia-sia, tidak bernilai dan sangat sepele. Lagi-lagi, aku hanya senyum-senyum sendiri meski apa yang akan kulakukan dinilai pak Zaky sangat rendah. Aku tidak keberatan.

Justru, aku bahagia dengan keadaan tersebut. Seolah-olah pak Zaky sangat terbuka dan care terhadap hidupku. Menertawakan tujuanku sedemikian rupa. Hal yang kuanggap besar ternyata sangat kecil di mata pak Zaky. Bisa jadi malah tidak terlihat sama sekali. Aku tidak mempermasalahkannya karena aku merasakan keakraban dengan guruku tersebut.

Beliau yang selalu mengarahkan kami, bagaimana seharusnya kami bersikap ketika kami menggauli Al-Qur’an saban hari. Laku apa yang semestinya dilakukan dan laku apa yang semestinya dihindari. Tentu aku akan sangat kangen dan haus akan nasihat-nasihat beliau. Bukan hanya sekedar nasihat, melainkan nasihat hati. Bagaimana hati kita harus melangkah. Beliau yang mengajarkan bagaimana sikap kami pada guru kami, Gus Nang. Juga kepada AL-Qur’an, kami harus bagaimana. Akhlak dan pendidikan hati adalah kuncinya. Pun kepada Kanjeng Nabi, kami harus bagaimana. Tentu dengan penjelasan yang penuh analogi dan imajinasi. Ngaos Pak Zaky menjadi sangat hidup. Semoga bisa menghidupi hati kami senantiasa.

Jadi teringat apapun yang berkaitan dengan Pak Zaky deh. Saat aku menjadi sie sima’an yang bertugas membuat minuman untuk ustadz saat Diniyah lailiyah, aku sering deg2an aja. Betapa Pak Zaky adalah penikmat kopi tingkat tinggi. Kalau racikan kami tidak pas, kami akan dikomentari macam-macam. Dan aku termasuk orang yang sering dikomentari gara-gara racikan kopiku yang tidak beraturan. Rasanya aneh dan tidak mantap. Kurang gula apa kurang kopi. Pokoknya ada aja yang kurang dan yang lebih. Rasanya malu banget dikomentari Pak Zaky di depan temen-temen. Seolah-olah, Pak Zaky adalah ahli perkopian nasional. Kalau dikomentari enak, kami bisa melambung. Kalau dikomentari sebaliknya, kami jadi ciut. Wkwk

Asrama Mahasiswa Jakarta, 24 September 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s