Bulan Oh Bulan…

Rabu, 17 Juni 2015

Pagi tadi, saat aku bersiap-siap ke Koppontren, salah satu temanku memanggil. Kamarnya bersebelahan dengan kamarku yang hanya disekat oleh lemari-lemari tingkat dua. Di atas lemari tersebut tidak ada apa-apanya alias ruang kosong sehingga suara dari kamar 6A bisa menembus sekat-sekat dan bisa terdengar sampai kamar 6B dan 6C. Begitu pula sebaliknya. Suara-suara kami tersalurkan dengan baik dan mudah. Berbincang-bincang tidak perlu bertemu langsung. Tinggal mengeraskan suara dari dalam kamar saja.

Rupa-rupanya, ada yang memanggilku. Pelakunya mb Siwi. Berikut kira-kira percakapan yang berlangsung.

Mb Siwi : “Nak!” (Suara mbak Siwi nampaknya dari dalam kamar 6B)

Aku : “Apa mbak?”

Mb Siwi : “Bulane wes metu lhoooo”

Suara mbak Siwi mulai terdengar dari luar kamar. Aku langsung menuju sumber suara karena shock dengan pesan suara tersebut.

Aku : “Iya po? Haruse dino iki wes poso nuuu?!” (Aku setengah bertanya, setengah lagi memberi pernyataan)

Mb Siwi : “Ora bulan iku, tapi bulan-bumi”

Aku : (termenung dan hanya diam, berusaha mencerna perkataan Mb Siwi. Bulan kan memang benda yang sejenis dengan bumi, matahari, bintang dkk—Aku membatin—Piye sih mb Siwi??).

Mb Siwi : (Nampaknya ia menangkap apa yang kupikirkan, jadilah ia meluruskan perkataannya). “Maksudku Bulan-Bumine Tereliye Naak”.

Aku : “Owalah, iku tho? yowes mbak, aku ngantri sampeyan wes”

Mb Siwi : “Ora entuk. Iku buku kanggo koleksi, ora kanggo diwoco. Opo meneh disileh-silehno”.

Aku : “Wuihhh.. kejam amatt. Trus, ngapain tadi pake bilang
segala kalo nggak mau minjemin??”. Aku jadi mangkel sendiri.

Demikianlah sekelumit cerita menjelang Ramadhan. Perasaan, aku nggak terlalu mengikuti perkembangan berita-berita penentuan 1 Ramadhan. Entah berita yang berasal dari televisi, radio, medsos maupun internet. Aku cuekk habis dan nggak mau tahu pada persoalan itu. Paling-paling, yang terjadi hanya itu-itu saja. Belum-belum, aku sudah malas duluan. Ini nih tabiat burukku.
Meski aku tidak mengikuti perkembangan berita penentuan 1 Ramadhan, kenapa semesta pikiranku ikut-ikutan memikirkan bulan?. Buktinya, saat diajak ngobrolin bukunya Tereliya yang baru terbit berjudul Bulan, pikiranku langsung mengarah pada benda yang terang benderang tiap tanggal 15 itu. duh-duh-duh. Kayaknya perlu minum Aqua nih.

Aku jadi membayangkan, betapa senangnya Bulan karena mendapat tempat di hati khalayak Muslim. Terutama para pemuka agama dari tingkat lokal sampai tingkat nasional. Kedatangannya sungguh ditunggu-tunggu. Layaknya Ratu Adil saja dia. wkwkwk. Barangkali, bulan adalah benda yang dirindukan menjelang Ramadhan dan menjelang Hari Raya. Selebihnya biasa-biasa aja tuh kayaknya. Padahal, bulan selalu berbinar-binar saat menatap kita dari atas sana. Menerangi kita sepanjang malam. Sinarnya menciptakan bayang-bayang tubuh kita saat kita berjalan di bawahnya. Giliran butuh, baru dicari. Barangkali bulan balas dendam karena di hari-hari biasa kita mengabaikannya. Maafkan kami bulan.

Dari kejadian tersebut, aku jadi berpikir keras. Aku yang tidak mempunyai peran apapun dalam menentukan 1 Ramadhan aja kepikiran bulan (meskipun hanya sekelebat. hehe), bagaimana dengan para petinggi agama semacam Menag, MUI, Majlis Tarjih dkk? pasti mereka lebih kepikiran bulan dari pada orang-orang biasa sepertiku. Frekuensi kepikirannya lebih besar dari orang-orang biasa. Aku mulai menerka yang tidak-tidak. Para petinggi agama ketika melakukan berbagai aktivitas seperti tidur, makan, bekerja, rapat, berjalan dll, pikirannya selalu dipenuhi oleh bulan, bulan dan bulan. Aku jadi teringat lagu-lagu dangdut yang kira-kira cocok dengan perasaan para petinggi agama. Misalnya nih:

“Kemana pun ada bayanganmu (bayangan bulan), dimana pun ada bayanganmu (bayangan bulan), mau apapun teringat padamu, oh bulaanku” atau lagu “Tak sehari pun berlalu tanpa bayanganmu (bayangan bulan), Tak sedetik pun berlalu tanpa dirimu (diri bulan. eh..)”

Setiap menjelang Ramadhan atau Syawal, orang Islam selalu sibuk sendiri. Sibuk menentukan tanggal satu. Di Indonesia, terkadang umat Islam bisa puasa dan lebaran bareng. Tapi, tak jarang pula mereka berpuasa dan berlebaran sendiri-sendiri. Monggo-monggo kerso. Tahu nggak kenapa orang Islam di Indonesia jarang kompak dalam menentukan awal dan akhir bulan?. Terutama awal-akhir bulan Puasa dan bulan Lebaran. Tahu nggak alasannya?

Kata pak Irwan Masduqi sih karena saat menentukan datangnya bulan, para ibu-ibu tidak pernah diajak berembug. Padahal, hanya ibu-ibu yang tahu kapan datang bulan. Tapi kata pak Manshur (dosenku yang paling keren), Muslim Indonesia tidak akan pernah kompak dalam menentukan awal dan akhir bulan, kecuali kalo bulan bisa ngomong. wkwk.

Jadi terbayang lagunya Gombloh, “Kalo bulan bisa ngomong, dia jujur tak akan bohong, seperti anjing melolong, tiap hari kuterikkan, namamu”. hehe. Piis.

Maafin ane ya kawan-kawan. Sepurane lahir batin nggih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s