Kekeku Sayang

Sudah menjadi kebiasannya setiap sore untuk tidak menulis, tidak mengumpulkan kartu kontrol dan tidak mengaji. Sudah sangat biasa baginya untuk tidak beraktifitas seperti teman-temannya yang lain. Sikap seperti apa yang harus kuambil untuk menghadapi bocah semacam Keke ini. Seolah-olah aku sudah kehabisan akal. Apalagi aku tergolong orang-orang yang tidak pandai bersiasat. Semakin deh perkara ini menghabiskan akalku. Meski demikian, aku berusaha untuk mencoba dan mencoba.

Mulanya keke bermain-main sendiri dengan uang koinnya. Uang koinnya kurebut dari genggamannya. Aku seperti anak kecil aja yang berebut mainan dengan Keke. Haha. Kubilang padanya kalau uang koinnya akan kukembalikan kalau ia sudah mengaji dan menulis. Oke. Hari itu ia menulis dan mengaji. Kukembalikan lah uangnya. Hari itu aku belum merasa kewalahan karena ia belum melawan secara frontal.

Hari-hari berikutnya Keke mengulangi kebiasan lamanya. Awalnya aku hadir di kelas kemudian memberi waktu anak-anak untuk nderes sebelum setor, nulis di papan tulis dan mendengarkan ngaji anak-anak. Tenagaku sudah tersedot untuk kegiatan wajib di kelas. Aku belum bisa memperhatikan kelakuan Keke yang entah sedang bermain apa. Satu dua kali aku meneriakinya supaya ia baca kitabnya atau nulis. Sekali dua kali juga ia mengindahkan teriakanku. Namun seringnya ia menganggap teriakanku sebagai angin lalu saja. Oke. Fine Ke.

Saat sudah mencapai puncak emosi, aku justru bersikap cuek padanya. Sebelumnya, aku sudah mengancam Keke untuk mendiamkannya kalau ia belum mau mengaji dan menulis. Ketika keke mengajakku bicara, aku diam saja dan tidak melihat ke arahnya. Saat ia bertanya ini-itu, aku juga masih diam. Saat ia berteriak-teriak di dekatku, aku juga acuh dan pura-pura tidak tahu. Aku melakukan aksi mogok bicara dengan Keke. Aku membatin, emangnya aku mau memperhatikan anak yang tidak mau diperhatikan?. Mending aku memperhatikan anak-anak yang lain saja. Ini nih buruknya diriku.

Suatu ketika saat kepalaku sudah mendidih, aku sudah tak sabaran lagi. Aku memaksa Keke untuk berjanji kalau ia bakalan ngaji dan belajar di kelas di kemudian hari. Keke berjanji (karena paksaanku) dan disaksikan teman-temannya. Maksudku, kalau ia sudah berjanji di depan teman-temannya, barangkali aja ia mempunyai beban moral di hadapan teman-temannya yang bisa menjadi pemicunya untuk mengaji. Namun apalah artinya janji jika janji tersebut adalah hasil paksaanku. Tentu anak sekecil itu belum berpikir tentang janji dan akibatnya kalau ia ingkar.

Jujur, aku merasa khawatir kalau ternyata metode ini mengajarkan hal yang salah pada Keke. Aku hanya bisa membesarkan hatiku sendiri dengan berkata “Nggak apa-apa kalau seandainya ada yang salah dengan caraku menghadapi anak-anak. Namanya juga mencoba dan belajar”. Lalu, sisi hatiku yang lain juga protes, “buat anak kok coba-coba!”.

Hari selasa sore aku diharukan oleh beberapa kelakuan anak-anak D2. Si kembar Humam seketika langsung menanyakan beberapa hal teknis padaku. “Bu, ini bacanya bagaimana?”. Kemudian ia langsung ke tempatnya dan mendaras juz ‘ammanya. Waktu aku menulis, ia juga langsung menulis. Padahal di hari-hari yang lalu, ia tergolong anak yang sering bikin suasana kelas gaduh. Ini anak kesambet apa sih kok rasanya berbeda gitu?. kemudian kembaran Humam yang bernama Hamam juga membuatku tercengang. Ia mengopyak-opyak Keke untuk lekas menulis. “Ayo Ke, nulis!” kata Hamam. Kudengar suaranya sayup-sayup menegur Keke. Saat Keke memintaku supaya membawakannya pensil dan penghapus di pertemuan selanjutnya, aku mendengar Humam berkomentar. “Piye sih Keke, masak iyaa Bu Guru diminta membawakan penghapus dan pensil”.

Lalu Vivia juga melakukan hal yang mengharukan meski sangat sepele. “Bu, habis ini aku shalat ya, soalnya tadi buru-buru berangkatnya, kan rumahku jauh”. “Iya Vivia, Sipp” kataku padanya sambil menunjukkan jari jempolku. Ada Ima juga yang sikapnya tak kalah mengharukan. Sore itu, anak-anak perempuan sedang bergerombol di dekat meja guru sambil menyaksikan pin yang bergambar Ben 10 milik Ima. Sekonyong-konyong Keke datang dan merebut pin dari tangan Ima. Tahu nggak apa respon Ima? Ia tidak marah sama sekali atau berucap kata-kata yang menunjukkan kekesalannya pada perbuatan Keke. Ima hanya bilang kalau pin bergambar Ben 10 tersebut untuk keke saja. Tapi ada syaratnya, Keke harus berjanji kalau ia bakalan rajin ngaji dan nulis.

Ternyata teman-teman Keke pada perhatian sama keke. Tidak cuek atau hanya menyalahkannya selalu. Mereka berusaha bagaimana caranya supaya Keke mau menulis dan mengaji. Usaha mereka tentu berbeda-beda dan sesuai dengan caranya sendiri-sendiri.

Setiba jam pulang, aku memanggil Keke supaya ia maju ke depan kelas.Kusuruhlah Keke untuk membaca Qulhu 20 kali dan al-falaq 10 kali sebagai ganjarannya karena tidak menulis (niru metode mba Pita). Awalnya, Keke tidak mau mengaji juga. Kupanggil berkali-kali tetap saja tidak menghiraukan panggilanku. Aku menghampiri tempatnya. Ia tidur-tiduran dengan santainya. Kuajak ia berbicara. “Keke, yaudah. kalau Keke nggak mau mengaji, besok Keke pindah di kelas D1 saja ya soalnya Bu Guru sudah nggak sanggup lagi menghadapi Keke”. Akhirnya ia mau mengaji.

Cara-cara yang kugunakan untuk menghadapi Keke adalah metode ancaman. Kalau ia tidak koperatif belajar di kelas, aku mengancam Keke untuk melaporkannya ke orang tua, bakal tak diemin, bahkan mau tak pindah ke kelas D1. Mungkin saja Keke membatin dalam hati “nih guru kok suka ngancam mulu sih”. Hehe. Aku juga belum tahu apakah metode ancaman ini cocok diterapkan atau tidak. Aku belum berfikir terlalu jauh, yang penting Keke segera berkenan mengaji dan belajar dengan baik di kelas. Itu mah ngambil gampangnya saja. Pragmatis sekali. Aku belum tahu apa akibatnya di kemudian hari kalau aku suka mengancam Keke. Semoga tidak berakibat buruk di kemudian hari saat Keke mulai beranjak remaja, dewasa maupun tua.

Di sore berikutnya, aku mendapati buku kontrol yang ada namanya Keke. Rasanya waow sekali mengalami kejadian ini. Jarang-jarang Keke mengumpulkan buku kontrolnya. Di lain sisi, sebenarnya hal ini termasuk sisi baik Keke. Ia bisa mengaji tanpa membawa buku kontrol karena Keke telah menandai halaman ngajinya. Ngajinya pun sudah lumayan lancar. Kalau diterangkan masalah cara baca Al-Qur’an, ia juga cepat paham. Ia hanya malas dan sak karepe dewe. Kembali lagi ke cerita buku kontrol. Di kepalaku sudah bergeming tanda tanya besar terhadap buku kontrol Keke yang sudah tertumpuk rapi di antara buku kontrol teman-temannya. Namun, aku tidak segera mengeluarkan tanda tanya besar tersebut dari kepalaku. Biarlah fenomena tersebut menjadi teka-teki hidupku.

Eh tahunya Keke sudah menjawab teka-teki hidupku tanpa kuminta. Ia mulai bercerita sendiri—yang tanpa kuminta itu—kalau ia akan mendapatkan hadiah bakso Pak Sarwan kalau ia mau mengaji dan menulis. Pantas saja buku kontrol Keke sudah terpampang di mejaku. Di lain pihak, aku justru semakin penasaran, kok Pak Sarwan kenal Keke? Apalagi sudi memberi Keke bakso. Sedekat apa hubungan Keke dengan Pak Sarwan? tanda tanya besar di kepalaku semakin besar saja. Meski penasaran banget, aku berusaha bersikap cool di hadapan Keke. Jangan sampai Keke curiga kalau aku bertanya macam-macam. Jadilah aku menimpali ceritanya secara wajar dan datar, “Oh, gitu ya Ke? Tapi kan kamu cuma menulis dua baris. Nanti tak bilangin Pak Sarwan biar kamu dikasih bakso yang kecil segini saja (sambil menunjukkan jari kelingking). Makanya tulisannya diselesaikan Ke, biar baksonya utuh satu mangkuk.”

“Bu, bukan Pak Sarwan yang mau kasih bakso. Tapi Ibukku yang beli baksonya Pak Sarwan sebagai hadiah aku mau ngaji dan nulis”
“ehm, gitu ya Ke? yaudah, berarti aku nanti bilang ke Ibukmu biar kamu dibelikan satu butir bakso saja, kan tulisanmu cuma dua baris”. Aku meralat ucapanku. wkwk. Malu pada diri sendiri, ternyata aku ehm… haha.

Kali itu, aku menulis kata “good” untuk tulisan yang tidak selesai dan menulis “very good” untuk tulisan yang selesai sebagai ganjaran anak-anak yang menulis. Tentu Keke dapat tulisan “good” karena hanya menulis 2 sifat wajib bagi Allah. Namun, di bawah tulisan “good”, aku menuliskan kalimat pendek yang berisi ucapan terimakasih kepada Bapak dan Ibu Keke atas dukungan yang diberikan pada Keke. Aku juga menulis kalau sore itu Keke sudah mulai menulis dan mengaji, semoga Keke semakin giat belajar dan mengaji. Kubilang pada Keke supaya menunjukkan tulisan tersebut pada kedua orang tuanya. Eh malah dibaca sama Keke. Entah apa perasaan dan reaksi Keke saat itu. Di sore berikutnya, Keke nampaknya mulai menganggapku ada, bukan hanya angin yang pasti berlalu. Alhamdulillah.

Terkadang aku juga melihat ke dalam diriku sendiri. Meraba-raba jangan-jangan aku yang belum oke ketika tampil di kelas. Barangkali hubunganku dengan anak-anak pas jika diwakilkan dengan salah satu kalimat apik nan sarat makna yang pernah kubaca “Kalau kamu tidak menarik, kenapa menyalahkan orang yang tidak tertarik?”. Dalam hal ini, yang “tidak menarik” adalah aku dan “yang tidak tertarik” adalah anak-anak.

Dengan menceritakannya, saya berharap pada teman-teman untuk berkenan memberikan beberapa wejangan supaya saya menjadi orang yang sedikit “menarik” di mata anak-anak. Senang sekali bila itu terjadi. Saya belajar banyak hal dari njenengan-njenengan. Matur Nuwun semuanya. hehe. Piis.

Koppontren, 22 Agustus 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s