Kelas Koplo 2

Kami keluar dari kelas Pak Radhar pukul 16.35. Jakarta gerimis. Untung sudah membeli payung dari pasar deket asrama seharga 25.000. Berwarna biru, warna kesukaan. Aku berjalan menuju asrama sambil menikmati tetesan air hujan. Entahlah, hanya berjalan kaki, tangan kanan memegangi payung dan tangan kiri membawa air mineral Vit dari Pak Radhar. Aku berlagak seolah menjadi orang yang paling bahagia sedunia. Langkah-langkah kaki ringan. Bibir mudah sekali mengembang. Toleh kanan-kiri adalah pemandangan menakjubkan.

Di jalanan komplek, aku mendapati anak-anak kecil yang bermain kejar-kejaran di tengah gerimis. Terdengar anak yang ingin berperan menjadi polisi, namun dibantah oleh seluruh temannya. Anak kecil itu dipaksa berperan menjadi maling dan seluruh temannya menjadi polisi. Aba-aba “satu, dua, tiga! Lariii”… anak kecil pemeran maling dikejar-kejar semua bocah pemeran polisi. Peristiwa begitu itu membuatku merasa waow. Dunia ini memang seru dan asyik. Apalagi dalam suasana gerimis yang mendukung. Menikmati dan menjalani hidup terasa mudah.

Masih terngiang-ngiang apa yang disampaikan Pak Radhar. Pak Radhar telah memasang granat di dalam hati dan pikiran kami. Setiap detik, granat tersebut bereaksi. Kalau kami tak bisa mengendalikan granat itu dengan baik, granat yang telah terpasang dalam diri kita akan meledak. Diri kita hancur termakan bom waktu.

Hari ini banyak yang masuk, mencapai 18 orang. Mantap. Biasanya tidak sebanyak itu. Pak Radhar melanjutkan orasi kebudayaannya yang selalu asyik dan bikin penasaran.

Pertama-tama, Pak Radhar memetakan cara berpikir orang-orang di dunia ini berdasarkan kondisi alam. Orang kontinental dan orang bahari. Kontinental memiliki wilayah dataran 70% dan lautan 30%. Sebaliknya, bahari terdiri dari 70% lautan dan 30% daratan. Nuswantoro termasuk yang mana nih? Bahari dong. Dahulu kala, moyang kita adalah pelaut handal yang memiliki kemampuan menghadapi laut, berlayar dan berdagang, menguasai lalu lintas laut. Lalu datanglah wong Londo dan sekutunya yang memaksa kita beralih haluan dari kelautan menuju cocok tanam. Pemaksaan dilakukan untuk memenuhi pasokan rempah mereka aja sebenarnya.

Sistem kemaritiman yang merupakan potensi Indonesia dilenyapkan secara sengaja oleh kumpeni dari ingatan kita. Identitas kita sebagai orang bahari digantikan dengan identitas orang sawah, bercocok tanam, agraris atau semacam itu istilahnya. Cara berpikir kita pun seperti orang kontinen, padahal kita orang bahari. Dengan begitu, tidak ada kecocokan antara cara berpikir dan identitas kita. Nggak nyambung dan tidak pas.

Sebenarnya, hal ini juga tergolong perkara baru bagiku. Masalah maritim dan agraris ini. Aku hanya mendokumentasikan penjelasan pak Radhar, tanpa mengkritik dan menyeleksi karena aku belum berkemampuan untuk melakukannya. Bagaimana bisa? Aku belum punya data. Jangankan data, baca buku-buku yang berkaitan aja belum. hehehe. Soalnya, tadi pak Radhar juga berpesan bahwa diri ini tidak perlu banyak tingkah dan banyak tipu. Tidak usah ngomong kalau nggak punya data. Cukup mendengarkan saja. Itu merupakan kerendahan hati yang mulia. Masak melontarkan pernyataan tanpa dasar, hanya ingin terlihat menjadi orang yang berpengetahuan dan keren. Kalau belum tahu ya belum tahu aja. Simpel kan sebenarnya? Kita ini terlalu lama menipu diri sendiri.

Pak Radhar ingin menyadarkan dan merombak cara berpikir kita. Beliau akan menampilkan betapa jahannamnya cara berpikir positivistik, materialistik dan yang sebangsa. Cara berpikir yang diagung-agungkan bangsa kita. Padahal cara berpikir semacam itu cocok dipake orang kontinental. Lha kita ini orang bahari, ngapain ikut-ikutan orang kontinental? Karena kita tidak mengenali diri kita sendiri, kita menjadi chaos, dis-orientasi, dis-location dan dis-dis yang lain. Kita menjadi terasing dengan diri kita. Identitas kita telah disembunyikan dalam-dalam. Jadi bingung sendiri mau kemana kita bawa langkah kaki ini. Latar belakang kabur, latar depan melarikan diri. Haha

Bangsa kita tidak melahirkan alpabet dan tulisan. Kita meminjam tulisan hanacaraka, palawa dll dari bahasa sanskrit. Juga budaya dan sejarah. Penjajah kita bertahap dan berbeda-beda bentuk. Pertama, kita dijajah kolonialisme purba, India. Kedua oleh kolonialisme modern dengan portugis, Inggris, Belanda dkk. ketiga dijajah oleh kolonialisme postmodern yang diwakili oleh Amerika, Korea, Jepang. Aku hanya ingin bertanya, kenapa nafsu menguasai begitu tinggi dari jaman alif?? Tak habis pikir aja, apa yang dicari orang-orang?

Narasi ini barangkali sangat singkat dan tidak nyambung diantara masing-masing bagian karena aku belum memahami secara keseluruhan. Ada bagian-bagian yang masih bolong-bolong. Sebenarnya, perkara satu dengan perkara lain sangat berkaitan. Tapi karena aku belum mampu menyambung simpul-simpulnya, jadi terkesan tidak ada sangkut pautnya sama sekali. Tidak mengapa kata Pak Radhar. Karena dengan kebolongan dimana-mana, diri kita berkewajiban mencarikan tambal yang bisa menambali kebolongan kita. Itu gunanya belajar.

Menarik lagi dari pak Radhar, beliau tidak membawa alat dan sarana seperti laptop, ppt, diktat ke kelas. Beliau memang tidak akan memberikan diktat maupun menunjukkan buku-buku referensi. Karena diktat itu akan membuat pak Radhar menjadi diktator atas diri kami. Pesan beliau, “Milikilah diktatmu sendiri. Jadilah diktator atas dirimu sendiri. Karena musuh terbesarmu ada di dalam dirimu. Google sudah mengakuisisi 5 juta buku untuk perpustakaannya. Masalahnya ada pada diri kalian, malas baca saja. Haha”.

Lalu beliau juga menyinggung orang-orang yang menimbun kekayaannya melalui cara-cara satanic seperti Bill Gates, Mark facebook, George Soros dll. Mereka adalah orang-orang yang berlimpahkan harta. Bagaimana cara mereka memperoleh uang-uang itu? Itu pake cara kerja iblis, setan. Bukan berarti iblis dan setan yang sejenis tuyul atau perewangan. Mungkin semacam sistem yang telah mengendalikan dunia ini melalui dunia virtual dan embuh apalagi. Aku belum begitu paham, baru ada sedikit bayangan. Masih berkaitan dengan imperium barangkali.

Orang-orang itu memiliki banyak yayasan filantropi di banyak negara. Kesannya, mereka menyumbang dan beramal untuk orang banyak. Kepedulian sosialnya joss. Memang mau apa lagi? Mereka mendapatkan harta dengan cara satanic, nggak mau dong setelah mati dikenal sebagai iblis juga? Ennah, kegiatan amal itu untuk menutupi topengnya saja. Aslinya sih setan, tapi bagaimana caranya bisa terlihat sebagai malaikat. Kurang lebihnya demikian.

Ada sekitar 30 ciri orang kontinen yang berbeda dengan orang bahari. Sedemikian jauhnya penjelasan pak Radhar, lagi-lagi pasti tidak jauh dari dua tema besar. Kontinental vs bahari. Orang bahari itu tidak pernah menulis karena tidak ingin mengabadikan perkara atau peristiwa. Orang-orang yang mengabadikan setiap momennya dengan berselfi ria adalah ciri-ciri orang kontinen. Haha

Pak Radhar nampaknya berhasil membawa pikiran kita pada puncak penasaran. Kami merasa begitu tegang di kelas, shock berat. Tiba-tiba pak Radhar mengakhiri semua ini dengan menyisakan banyak pertanyaan di benak kita. Ternyata itu memang disengaja pak Radhar. Penjelasan atau cerita yang memiliki ending atau akhir dari sebuah jawaban akan mengarahkan kita pada keadaan berhenti, statis, tidak mencari tahu kelanjutannya. Beda ketika kita mengalami ketegangan yang dahsyat, eh sudah berakhir begitu saja. Dengan bekal rasa penasaran itu, kita akan bergerak, melacak dan terus mencari. Ini yang diinginkan pak Radhar.

Sayangnya, meski pikiran kita lagi menggebu-gebu di kelas, berkeinginan kuat untuk mencari simpul-simpul, begitu keluar dari kelas, kita kembali pada kehidupan semula. Tanpa berpikir bahwa semua ini adalah tanggung jawab kita sebagai bangsa.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II no. 7 Jakarta Pusat
08 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s