oh Supplier dan Mobil Box

Siapakah sosok yang berhasil membuatku senam jantung tiap hari? supplier dong. Duh.. keren banget dah sosok supplier ini di hadapanku. Mampu membuat hidupku penuh ketakutan siang malam. Lebay. Selain supplier, ada sesosok lagi yang bisa membuatku sesak napas tiap kali melihatnya di jalan. Apa itu? mobil box. Itu lho mobil pick up beratap buat ngankutin barang. Begini cerita detailnya:

Tiap hari aku mesti berinteraksi dengan dua sosok tersebut. Dalam sehari, aku bisa bertemu lima supplier, bahkan lebih. Kalau mobil boxnya sih hanya menyapaku dari jalan seberang. Tapi tetap saja boi, meski bertemu tiap hari, kenapa hatiku belum bisa terbiasa? Selalu aja deg-deg-an kalau supplier-supplier itu datang. Padahal, aku sudah menjalani pertemuan ini selama lima bulan. Sekarang masuk di bulan keenam malahan. Kenapa belum lekas terbiasa dan enjoy? jangan-jangan hatiku yang bermasalah karena bisa ketakutan sedemikian rupa. Bahkan ketakutanku terhadap agama (misalnya) tidaklah sehebat ini. Atau perasaanku saja yang sudah kebolak-balik. Rasa takut terbesar kok ditujukan pada supplier dan mobil box. Aneh-aneh aja tuh orang. Bukan tuh orang deh, tapi ni orang. Kan aku yang lagi aneh. hehe

Dalam keadaan lapang maupun sempit kayaknya sama aja. Supplier dan mobil box tersebut, selalu menakutkan. “Hidup kok dibuat repot sama ketakutan” kata Gus Dur. Yah. Meskipun demikian, hidup harus tetap berlanjut. Waktunya makan, makan. Waktunya setor, setor. Waktunya tidur, tidur. Waktunya bermain, bermain. Waktunya shalat, shalat. Begitupun dengan aktivitas kehidupan yang lain. Separah-parahnya perjalanan hidup, hidup kudu dijalani.

Dengan melakukan aktivitas rutin itulah, setidaknya akan membalikkan hati pada perasaan baik. Kegiatan-kegiatan harian barangkali bisa menormalkan lagi perasaan yang kacau balau. Rasa takut, sedih, kecewa, benci, putus asa dan yang sealiran bisa jadi akan membaik lagi setelah kita menjalankan hidup sebagaimana mestinya.

Jadi inget lirik lagu dangdut “Liku-liku”.

#hidup penuh liku-liku
ada suka ada duka
semua insan pasti pernah merasakannya

#jalan hidup rupa-rupa
bahagia dan kecewa
baik buruknya sudah pasti ada hikmahnya

#susah senang dia datang silih berganti
bagai roda-roda yang t’rus berputar
hadapilah resapilah hidup ini
jangan terlena jangan putus asa

Seringkali aku mengidentifikasi rasa takutku pada supplier2 itu bermula. Barangkali selama ini aku hanya memikirkan hidupku sendiri tanpa mau memahami kehidupan supplier. Padahal kehidupanku tidak berdiri sendiri namun berkaitan juga dengan kehidupan orang lain. Makanya aku mencari cara supaya aku bisa berdamai dengan para supplier. Tidak merasa benci maupun ketakutan. Caranya, aku menyelami dan membayangkan diriku sebagai supplier. Aku mah sekarang bekerja untuk diriku sendiri dan tidak untuk orang lain. Enteng kan hidup macam begini? coba bayangkan supplier2 itu, mereka adalah para bapak yang punya anak-istri, para ibu yang punya anak, lelaki-wanita dewasa yang menabung untuk mempersiapkan pernikahan dan berbagai macam posisi dengan kebutuhan hidup yang tidak sedikit.

Menyelami kehidupan supplier ini kulakukan tidak lain supaya aku bisa berdamai dengan diriku sendiri. Tidak lebih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s