Pak Nur Kholis

(Kop, 16 Nov 2015)

Foto diatas diambil saat kami kelas 6 MI. Mungkin setelah ujian. Ada satu tukang foto dari tetangga desa yang sengaja diundang untuk mengabadikan gambar kami. Berdiri di tengah, Pak Nur Kholis. Guru kehidupan kami.

Pada tahun 1998, berdiri sebuah institusi pendidikan dasar di desaku bernama Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum (MI DU). Aku adalah murid pertama yang tidak memiliki kakak tingkat maupun adik tingkat. Banyak hal yang absen dari sekolah kami.

Meski demikian, aku bangga pernah menimba ilmu di MI. Pak Nur Kholis, kepala sekolah pertama yang penuh budi pekerti. Aku dan teman-teman sekelasku selalu menunggu jam terakhir tiba, jam-jam dimana pak Nur Kholis menceritakan kehidupan Abu Nawas yang penuh humor namun sarat makna. Barangkali pak Nur Kholis berharap, agar murid-muridnya kelak tidak hanya pintar sekolahan, namun pintar di sekolah kehidupan juga.

Kami secara otomatis membunyikan alarm “Paak, Abu Nawas” saat jam pulang tinggal beberapa menit. Pak Nur Kholis menghentikan pelajarannya lalu memulai bercerita Abu Nawas. Cerita Abu Nawas tersebut sifatnya berseri dan akan disambung pada pertemuan berikutnya. “Yaaaa” Kami berseru kecewa ketika cerita belum selesai namun Pak Nur Kholis sudah memberi aba-aba pada kami untuk berdoa tanda belajar-mengajar hari itu telah usai. Tentu kita harus rajin berangkat sekolah kalau mau mendengar kelanjutan cerita Abu Nawas.

Sekarang, guru-guru MI-ku sudah banyak yang melakukan sertifikasi. Syarat utamanya adalah melanjutkan belajar di PT atau mencapai usia standar sertifikasi. Pak Nur Kholis tidak berkenan sekolah di PT hanya untuk sertifikasi. Lalu, guru-guru muda menganjurkan beliau untuk ikut serta sertifikasi. Mengingat usia beliau yang sudah sepuh dan lama waktu pengabdian beliau di MI sudah mencukupi persyaratan. Ada yang tahu apa yang dikatakan pak Nur Kholis menanggapi usulan guru-guru muda tersebut? Ah, tentu kalian tidak tahu apa yang dikatakan pak Nur Kholis. Kan kalian bukan orang yang memiliki hubungan dengan MI DU atau dengan desaku, Sumanding. Beliau hanya bilang “Tidak perlu, biar yang muda-muda saja. Apalagi aku memang tidak berniat memperoleh itu sedari awal”.

Menurut penuturan Bapak, Pak Nur Kholis termasuk salah seorang yang memprakarsai berdirinya Madrasah Diniyah (MD/ Sekolah agama pada sore hari) di Desaku. Madrasah didirikan dengan niatan untuk membekali anak-anak desa kami dengan pelajaran agama. Pada pagi hari, anak-anak bersekolah di SD dan belajar di Madrasah Diniyah sehabis Ashar. Saat itu jamannya pak Harto. Hal-hal yang berbau keagamaan dibatasi geraknya, termasuk Madrasah Diniyah desa kami. Selain itu, kepala sekolah SD memiliki perbedaan pandangan dengan mayoritas masyarakat desa. Beda sih biasa, namun ketika perbedaan membuat hati kotor yang berbeda, lain lagi urusannya.

Entah apa yang terjadi saat itu, namun pihak SD membuat kegiatan tambahan pada sore hari yang sebelumnya tidak ada. Padahal di sore hari, anak-anak desa harus belajar di Madrasah Diniyah. Lama-kelamaan, hal itu meresahkan guru-guru Madrasah. Sejak tahun 1996, KBM di MD tidak bisa kondusif lagi sehingga pada tahun 1998, MD bertransformasi menjadi MI yang KBMnya dilakukan pada pagi hari. Hal ini dilakukan untuk menyiasati bagaimana anak-anak desa bisa belajar agama dan ilmu-ilmu lain secara bersamaan.

“Pak Nur Kholis, terimakasih telah menjadi guruku. Engkau adalah setitik terang yang selalu dan akan selalu menyala dalam hatiku. Sungguh, terimakasih.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s