Sok Ngartis

Sewaktu masih di Jogja, aku selalu megendarai pit onthel (bluepithel/ blue pit onthel/ pit onthelku yang berwarna biru) kemana-mana. Aku lupa kapan persis waktunya. Saat keberadaanku di Koppontren Al-Munawwir atau di Salsabila 3 Banguntapan (Salbang). Kebiasaan ketika libur sekolah pada hari Sabtu dan Miggu, aku mencari makanan di sekitar Krapyak pada siang hari. Entah ke indil Hasan, bu Seksi, pak Lengko, warung Tenbi maupun Cuiri. Aku dibonceng Mb Hanif dengan pit onthelnya bu Nyai.

Bonceng-membonceng adalah hal biasa bagiku dan bagi mb Hanif karena kami berdua adalah perawan kere yang tidak bisa mengendarai dan memiliki motor honda. Mau tidak mau, kami selalu menggunakan jasa pit onthel. Kami tak mempermasalahkan hal itu, sampai terjadilah suatu peristiwa yang meggemparkan dunia komplek Q dan Al-Munawwir.

Di Instagram Al-Munawwir, terpasang gambar sepasang teman yang berboncengan pit onthel. Mereka adalah mb Hanif dan aku. Lalu, siapa pula yang mengambil gambar kami yang pas sekali? kecuali di bagian tertentu. Ternyata, diam-diam ada yang mengambil gambar kami dengan sembunyi-sembunyi. Pelaku yang kami duga adalah anak Al-Kandiyas karena poto kami pertama kali dipublikasikan di IG Al-Kandiyas. Admin IG Al-Munawwir menangkap momen baik dengan poto kami itu. Jadilah Admin IG Al-Munawwir meregran poto kami di IG AL-Munawwir. Dalam kisaran dua harian, liker poto itu mencapai 700 orang. Gile bener.

Ketemu temen sekomplek di manapun berada, aku dan mb hanip dicie-cie jadi artis. Keadaan ini malah membuat hidupku tidak tenang dan tidak sebebas dulu. Jangan-jangan, di jalanan nanti ketemu orang yang pernah lihat poto itu dan menuding-nuding ke arah kami sambil bilang “hoey, itu orang yang di IG Al-Munawwir kemarin deh kayaknya”. Duh, kalau begini caranya kami jadi parno sendiri. Pasalnya, kami belum siap menjadi artis dadakan yang terkenal gitu.

Lalu, aku menyiasati keadaan ini dengan memakai penutup wajah saat kemana-mana. Mengantisipasi kalau-kalau ada orang yang mengenali kami, kemudian berebut minta tanda tangan. kan jadi repot sendiri. Temen-temen sampai geleng-geleng kepala melihat kepedeanku yang terlalu tinggi. Bukannya terlalu pede, hanya ingin merasakan ketenangan hidup saja. Soalnya setelah itu aku merasa terbayang-bayangi. Takut dikenal banyak orang.

Tenang boi, nyatanya, sampai pidah ke Jakarta pun tidak ada seorang pun yang meminta tanda tangan padaku. Nggak ada orang yang menunjuk-nunjuk ke arahku sambil bilang begini-begitu. Itu hanya berada dalam khayalku belaka. Tanpa pernah terjadi dalam kehidupan nyata. Haha

Kejadian ini berulang lagi. Entahlah, perasaanku ini sering aneh dan berlebihan saat merespon sesuatu. Kali ini aku merasa jadi artis beneran. Meski di tingkat kelas yang beranggotakan 20 orang saja sih kalau semuanya masuk. Padahal seringnya mah belasan orang. Di kampus kecil pula. Dasarnya memang diriku yang sering merasa jadi artis.

Ceritanya begini, di kelas itu aku cewek sendirian. Dikerubungi 18 mahasiswa dan 1 dosen laki-laki. Bagaimana rasanya? Rasanya ya itu, jadi artis. Tidak banyak bertingkah dan hanya diem pun jadi sorotan, apalagi kalau banyak tingkah. Otomatis jadi bullian sepanjang abad. Aku mencoba bertahan berada dalam keadaan ini. Semoga tetap betah dan lekas enjoy. Beberapa kali terbesit ingin boyongan dan pulang ke kampung, mending ikut mamak ke sawah aja. Atau bersih-bersih rumah, membantu orang tua. Haha. Kalau lagi pening sih. Sebisa-bisanya, aku tetap bertahan meski pengen jejeritan. hyaaaakk. teng-teng-teng. Pedang Naga Puspa, punya Kakang Kamandanu.

Ada salah seorang dosen ahli tahkik naskah nusantara yang ilmunya luar biasa. Beliau bercerita saat shalat jama’ah di masjid Bogor. Beliau tidak menaikkan celananya alias isybal. Pak dosen dikritik habis-habisan oleh takmir masjid yang sudah sepuh. Kritik itu dilancarkan sehabis shalat, pak dosenku dipanggil. Pak dosen hanya nunduk dan khusyuk mendengarkan.

Setelah selesai dikritik, pak dosen mencoba berargumen bla-bla-bla. Dengan hati-hati dan menjaga hati takmir sepuh, pak dosen menjelaskan kalau dulu itu keadaannya begini dan begini. Takmir sepuh nampaknya bisa menerima penjelasan pak dosen.

Pak dosen melajutkan ceritanya dengan jurus pamungkas di kelas kami “kalau bicara dengan orang-orang begitu secara lembut, mereka bisa menerima kok. Lama-lama juga akan luluh, seperti menakhlukkan hati perempuan”… ennnnah kan!! apa kubilaaang? Pak dosen lalu melirik ke arahku. Temen-temen ya hanya ger-geran di kelas setelah itu. Pinter aja menyangkut-pautkan keterangan mata kuliah dengan pembulian atas diriku. Disitulah aku merasa garing sendiri dan pengen pindah entah kemana. Memang nggak enak kok jadi artis atau pusat perhatian. Percayalah! Aku sudah merasakannya.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
07 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s