Sorogan Kitab dengan Bapak Arif

Saat mulai menulis sosok Bapak Arif, aku merasa was-was dan takut kalau tulisanku tidak bisa mewakili sosok Bapak secara pas. Tak apalah, aku hanya ingin menulis tentang beliau. Nostalgia jaman di Darut Ta’lim dulu. Sekarang adalah tahun kelima aku meninggalkan Darut Ta’lim. Kalau dipikir-pikir, waktu memang cepat berlalu. hikshikshiks

KH Ma’arif Asrory adalah Bapak bagi santriwan-santriwati Darut Ta’lim. Santri putri memanggilnya Bapak, sedangkan santri putra memanggil Pak Yai. Santri putri suka meledeki santri putra kalau mereka adalah anak tiri, kenapa tidak memanggil beliau dengan panggilan “bapak” saja? Okelah. Terlepas dari itu semua, Bapak Arif adalah Bapak kami semua.

Tahun pertama dan kedua, aku belum berhubungan dengan Bapak secara inten. Maklum lah, anak baru. Semua kegiatan santri junior dipegang oleh santri senior dan teman seangkatan yang pintar. Sedangkan santri-santri senior sorogan kitab ke Bapak. Mungkin mbak-mbak Aliyah waktu itu yang sorogan kitab ke Bapak. Seiring berjalannya waktu, usiaku juga berjalan, tambah besar. Secara otomatis, aku menjadi santri senior dan sorogan kitab ke Bapak.

Dari sorogan kitab itulah aku mulai sering berinteraksi dengan Bapak. Masa-masa paling indah adalah masa-masa sorogan dengan Bapak. Setiap jam empat sore, santri Darut Ta’lim naik ke aula untuk ngaji kitab. Santri baru menghafal jurumiyah di lantai tiga. Santri tahun kedua dan seterusnya mengaji kitab di aula.

Pemula mengaji sorogan kitab Sulamul Munajat. Selanjutnnya sorogan matan fathul Qarib, dan selanjutnya sorogan kitab syarah fathul Qarib. Santri yang mengaji syarah adalah berada di tingkat tertinggi. Kalau ada yang sudah khatam syarah, dan masih berkeinginan untuk sorogan ya monggo-monggo saja. Untuk kitabnya bisa meminta saran dari Bapak.

Selepas lulus Aliyah dan khatam ngaji syarah, aku dan beberapa temanku matur ke Bapak, bermaksud melanjutkan ngaji. Bapak menyarankan kami untuk sorogan kitab Ibriz saja, biar membantu kita dalam memahami Al-Qur’an. “Okedeh Pak, Siapp” jawab kami. Bapak sendiri yang membelikan kami kitab Ibriz. Kitab Ibriz dibeli di toko kitab daerah Kudus karena saat itu, di Bangsri masih sulit ditemukan kitab Ibriz. Kami dibelikan kitab Ibriz sepuluh Juz dari belakang, jus 21 sampai jus 30. Sorogannya pun dari belakang alias mundur, dari jus 30. Kalau sudah selesai sorogan 10 jus, baru kami akan membeli kitab Ibriz lagi.

Belum genap sorogan satu jus, aku dan Encop mendapat kabar bahwa kami diterima sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga melalui program Bidik Misi. Awalnya memang kami nggak diterima, tapi karena beberapa mahasiswa yang diterima mengundurkan diri, makanya kami ditarik menjadi mahasiswanya. Istilah lainnya, kami adalah mahasiswa cadangan.

Masa-masa setelah ini mungkin dirasa mb Hamil terlalu berat karena aku dan Encop meninggalkannya di Darut Ta’lim. Padahal yang ngaji Ibriz saat itu hanya mb Hamil, aku dan Encop. Kalau aku dan Encop pergi, mb Hamil tak mempunyai kawan lagi. Kawan mb Hamil sih banyak, namun yang senasib dalam sorogan ngaji Ibris tak ada.

Nah, setiap habis mengaji, Bapak tak lupa menanyakan kabar beasiswa kami. Apakah kami diterima atau tidak. Kok lama nggak muncul-muncul pengumumannya. Memang, pengumuman beasiswa Bidik Misi molor dari tanggal terjadwalnya.

Flashback lagi. Menjelang akhirussanah, biasanya kami giat banget mengaji. Berusaha ngaji banyak-banyak biar sampai target atau khatam kitab. Akhirussanah tahun 2010, aku, mb Hamil dan Encop juga main kebut-kebutan. Ngebut ngaji. Sehari bisa sorogan ke Bapak sampai tiga-empat kali. Waktunya fleksibel, biasanya sih pagi jam 9an, sore dan malam. Sebisanya Bapak karena Bapak kan sibuk. Menyimak setoran al-Qur’an santri putra, menyimak setoran kitab santri putra, berbisnis, menyimak sorogan kitab santri putri dan lain-lain.

Saat Bapak sudah rawuh di ndalem, Bapak mengsms kami, sanjang kalau beliau sudah siap menyimak. Karena kami tak membawa Hape, Bapak sms ke hape pondok. Bunyi sms Bapak yang paling kuingat adalah begini “solik sak kancane kon ngaji jam titu”. Kami langsung terbahak-bahak saat membaca sms dari Bapak. Maksud sms Bapak adalah sopik sak kancane kon ngaji jam pitu. Yah… salah mengetik huruf. Barangkali Bapak sayah banget atau lagi banyak fikiran.

Perhatian Bapak dengan mengsms kami membuat kami merasa bahwa kami adalah anak beliau sendiri. Bapak selalu tersenyum saat menyimak sorogan kitab. terlebih kalau ada bacaan kitab yang salah. Beliau hanya senyum dan bilang “hmm”.

Sistem sorogan kitab dengan Bapak biasanya dengan lintingan semacam arisan gitu. Nama-nama santri yang ngaji sorogan ke Bapak dilintingi, kemudian dimasukkan ke sebuah kardus bekas sabun. Bagi nama yang keluar dari kardus sabun, maka ialah yang harus baca kitabnya. Dalam setiap pertemuan, pembacanya sekitar dua atau tiga santri. Saat ada dua-tiga santri tersebut salah membaca, Bapak menanyai kami satu persatu. Itu kok dibaca a,i,u, kedudukannya apa? Pertama-tama ditanyakan kepada pembacanya, kalau pembacanya belum bisa, akan dilempar ke teman-teman yang lain.

Di suatu malam, kami bertiga mengaji sampai larut. Setelah sorogan, kami tidak langsung undur diri karena Bapak bercerita banyak hal pada kami. Bagaimana beliau dulu menghafalkan al-Qur’an pakai Al-Qur’an biasa, tidak Qur’an pojok. Saat Bapak mendaras dengan al-Qur’an pojok, beliau bingung dan merasa kesulitan. ‘Waktu semono yo aku ngroso sedih banget” terang Bapak. Selain itu, beliau juga bercerita tentanng perjalanan belajar Bapak dari satu pesantren ke pesantren yang lain.
Seringkali juga Bapak memanggil kami, meminta tolong untuk membuat garis di amplop. Setelah amplop tergaris menjadi dua, sebelah ditulisi alamat Bapak dan yang sebelah ditulisi orang, toko dan alamat yang dituju. Hal-hal kecil yang membuat kebersamaan dengan Bapak inilah yang membuat bahagia tak terkira.

Suatu ketika mb Hamil pulang ke rumah. Jadilah hanya aku dan Encop yang mengaji. Saat itu tempatnya di Gladakan, sebutan untuk ndalem atas. Aku dan Encop sudah di Gladakan, kemudian Bapak naik ke atas dan duduk di depan meja kecil. Kitab belum sempat dibuka, tiba-tiba ada angin datang dengan kencangnya. Menyapu apa yang ada di ndalem atas. Sawang-sawang jatuh berguguran, membuat keadaan Gladakan sangat kacau. Hujan lebat dan angin kencang mengiringi ngaji kami. Sebenarnya kami merasa ketakutan dengan keadaan alam yang buruk. namun saat mendapati Bapak siap menyimak di depan kami, kami tak mengindahkan keadaan alam yang sekalang kabut apapun. Kami sudah merasa aman dengan keberadaan Bapak.

Kemarin waktu Isra’ Mi’raj, rombongan SMP IT Kholiliyah berkunjung ke SMP Ali Maksum. Mengadakan studi banding. Sebagai pengasuh Pesantren, Bapak tentu ikut serta. Mendapati Bapak di kursi depan dengan meletakkan mustaka beliau di atas meja membuat diri ini tak tega. Pasti Bapak sayah banget karena melakukan perjalanan panjang. Terdengar pula dering telpon Bapak yang dihubungi seseorang. Bunyi hape Bapak tak berubah, masih sama seperti yang dulu. Khas bunyi Hape Nokia yang trilulit-trilulit. Tak ada yang berubah dari Bapak kecuali usia beliau yang semakin sepuh.

Saat di SMP Ali maksum, aku dan Encop tidak bisa bertemu Bapak karena beliau tampak sedang bercakap-cakap di telpon. Kemudian kami hanya menunggu untuk bertemu beliau sampai Bapak selesai menelpon. Oke. Namun, setelah itu kami tak mendapati Bapak lagi di sekitar SMA Ali Maksum. Bapak sudah berjalan menuju bis rombongan.

Tak apa, aku dan Encop nanti bisa menyusul ke Gembira Loka. Setelah menyerahkan titipan mb Fitri ke kang Rokid, kami berduduk-duduk ria di pelataran Gembira Loka. Nggak masuk karena nanggung. Sebentar lagi rombongan akan keluar, eman banget to buang-buang uang dua puluh lima ribeng? mendingbuat beli es cendol. Saat duduk-duduk, aku dan Encop memarahi diri masing-masing. kenapa kita sering berbuat salah dan kurang pantas.

setelah memarahi diri sendiri, kami juga harus memaafkan diri kami masing-masing. Jadilah kami berloncat-loncat di bawah pohon beringin. Terparkir deretan mobil bagus di bawah rindag beringin. Semakin pas aja dijadikan background poto loncaat-loncat.

Aku saling bertukar peran dengan Encop. kalo aku jadi poto modelnya, Encop jadi potografernya. Berlaku juga sebaliknya. Capek memotret dan bergaya, kami putus asa. Kenapa hasil jepretannya jelek dan burek? Itu mah karena model dan tukang potonya sama-sama kurang becus. Yah sudahlah. Kemudian kami menelusuri toko-toko yang berjejer di Gembira Loka. Puas mengitari toko dan kaki mulai pegal-pegal, kami berniat untuk kembali ke tempat duduk, menunggu Bapak.

Baru berjalan beberapa langkah, aku digeret Encop untuk mendekat ke sebuah tempat. Dari kejauhan, aku sudah melihat senyum Bapak. Oi. itu Bapak, aku ingin menjerit. Awalnya, Bapak tidak melihat kami. Namun Gus Humam yang berjalan bareng dengan Bapak, menunjukkan bapak pada keberadaan Kami. Rasa-rasanya aku pingin menangis.

Kami bertanya kabar Bapak dan hal-hal kecil lain. Kemudian, Bapak juga bertanya beberapa hal pada kami, mengenai khataman, ngaji Qur’an, pondokku, pondok di Jogja seberapa ketat, kehidupan kita di Jogja (keuangan paska beasiswa-ed) dll. Bapak juga menasihati kami seputar ngaji al-Qur’an. “Kalau khatam langsung ditinggal, bisa jadi Qur’annya kocar-kacir. Yah, tetap usahakan untuk istiqamah”.

Setelah merasa cukup mengobrol dengan kami, Bapak menyudahi obrolan dan ngendika “yo wes yo, aku tak bali nang bis”
“nggih Pak” jawab kami,

Bapak Ma’arif Asrory selamanya adalah Bapak bagi kami, para santri-santrinya.

Koppontren, Juni 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s