Surat dari Yogya (Gelapnya Malam Tanpa Bintang)

Seringkali aku berandai-andai. Seandainya kamu masih di sini Tan, kita bisa sekolah lagi, menggila bareng, menyelundup di tempat-tempat asing, berlagak seolah kita adalah orang paling keren sedunia dan orang lain adalah pemain figuran, mencari vitamin-gizi, daaan tentunya menyimak cerita drama serial Radio Rakosa FM. Seandainya dan seandainya.

Tapi buat apa kita berandai-andai toh kita tidak perlu pengandaian tersebut. Kita tidak perlu menyesali keadaan kan? Oke. Aku tidak akan menyesal. Aku hanya perlu melanjutkan hidupku setelah kamu tidak berada di Jogja lagi Tan.

Kalau aku ingin berbincang banyak hal denganmu, sedang kebanyakan orang tidak mengerti dunia kita, aku akan tetap bicara denganmu. Aku akan menyambung simpul-simpul yang membuat dunia kita merenggang. Terimakasih atas kesediaanmu memikirkan hidupku di hari-hari yang lalu. Hal-hal yang tak pernah kupikirkan justru engkau yang memikirkannya, padahal itu mengenai hidupku Tan, bukan hidupmu. Sungguh terimakasih.

Sebagai rasa terimakasihku, aku akan menceritakan Drama Serial Radio yang didukung oleh artis-artis Radio ternama. Kenapa aku memilih bercerita drama ini Tan? Entahlah, mungkin drama ini telah memberikan banyak pelajaran di sekolah kehidupan.

Bagaimanapun, hidup adalah teka-teki yang tak akan pernah berakhir kecuali kalau pelaku hidupnya meninggalkan kehidupan ini. Kadang kita bisa menebak jawaban dari teka-teki hidup Tan, tapi frekuensinya kecil sekali. Kerapnya kita belum mampu mejawab teka-teki tersebut. Iya tan, segala yang tampak adalah semu dan tentu akan lenyap. Mesti dirimu bingung Tan karo tulisanku iki. Haha. Mbuh lah Tan, memang perkara-perkara semacam begini yang lagi mendominasi pikiran dan perasaanku. Dengan begitu, kita enteng Tan nglakoni urip. Hehe.

Wes lah Tan. langsung tak critani wae yo. Saiki wes episode 22, judule Gelapnya Malam Tanpa Bintang. Aku mulai ngerti n ngrungokne drama iki mulai episode 19 sing nyritakke Pangeran Sya’ir Berdarah. Sedang episode 1 sampai 18 aku nggak faham blas. Ngerti-ngerti wes tekan episode 19. Episode 20 nyritakke keluargane Prabu Kertarajasa Jayawardana (raja pertama Majapahit). Episode 20 tentang Golek Kayu Mandana (Bonekane Ayu Wandira songko kayu, golek e iku digawekne Nini Ragarunting-wong sing ngasuh Ayu Wandira, Nini Ragarunting ki wes tuwo tapi pendekar, jadi iseh kuat mengembara n lincah). Episode 21 nyritakke Pemberontakan Lembu Sora. Lembu Sora termasuk punggawa/pembesar Kerajaan Majapahit.

Tokoh-tokoh kuncine:

1) Arya Kamandanu. Dee ki panglima perang Tan. Nduwe pedang jenenga Naga Puspa. Neng kene diceritakke nek Kamandanu nduwe ilmu kanuragan sing luar biasa alias sakti. Kamandanu iso ngilang Tan. Ora ngilang nding Tan, tapi nek sikile digebrakke, Kamandanu iso langsung tekan tempat sing dituju. Iki tokoh protagonis Tan. Ksatria banget lah. Nek dirimu ngrungokne critane, mesti langsung jatuh hati neng Kamandanu. Wkwk. Saiki Kamandanu bojone Sakauni. Mbiyen bojone Kamandanu jenenge Meisin. tapi mbuh, Meisin tiba-tiba menyendiri neng desane Bapak Wong (bapak angkate Meisin). Asale, Meisin ki wes hamil karo Pangeran Sya’ir Berdarah terus anake lahir, dijenengi Ayu Wandira. Lha kan Kamandanu iku nikahi Meisin gara-gara tanggung jawab atas perbuatane kakange. Kamandanu iku adine pangeran Sya’ir Berdarah. Mbulet e Tan. Rapapalah.

2) Prabu Kertarajasa Jayawardana
3) Ramapati.
4) lembu Sora
5) Patih Nambi

Lembu Sora membunuh seorang Punggawa Kerajaan, tapi aku lupa namanya Tan. Mau tidak mau, Lembu Sora dijatuhi hukuman mati. Lembu Sora melakukan pembunuhan karena terpaksa Tan, bukan karena sengaja. Entah punya maksud apa, akhirnya Ramapati membujuk Prabu Kertarajasa supaya hukuman Lembu Sora diringankan. Hukuman yang semula adalah hukuman mati akhirnya dihukum dibuang. Artinya, Lembu Sora dibuang ke desa terpencil dan diasingkan.

Dalam perjalanan menuju desa pengasingan, Lembu Sora dan keluarganya hanya berjalan mengendarai kereta tanpa diiringi prajurit. Ramapati memang serakah Tan. Dia memerintahkan Rawedeng dan teman-temannya untuk mengikuti Lembu Sora. Tidak hanya mengikuti Tan, tapi Rawedeng menghasut orang supaya mau membunuh Lembu Sora. Tapi karena Lembu Sora adalah orang pintar dalam pertempuran, akhirnya orang yang dihasud kalah melawan Lembu Sora. Orang yang dihasud bertemu dengan Rombongan Rawedeng, trus dibunuhlah orang tersebut. Cara membunuhnya pun kejam Tan. Orang-orang tersebut diikat di bawah pohon lalu ditusuk dengan pedang.

Rawedeng mengejar terus Lembu Sora Tan sampai akhirnya ketemu dengan Lembu Sora. Rawedeng mencegat Lembu Sora dan terjadilah pertempuran antara Rawedeng dkk dengan Lembu Sora. Karena saking banyaknya prajurit yang dibawa Rawedeng, Lembu Sora keteteran juga Tan. Hampir saja tumbang kalau seandainya tidak dibantu oleh Mantri Parakrama, Patih Emban dan Demungwira. Putra pertama Lembu Sora yang bernama Lembu Giring meninggal dalam perjalanan.

Ada anak panah yang mengenai Lembu Giring, entah di bagian tubuh yang mana. Panahnya beracun. Mula-mula, Lembu Giring belum langsung meninggal. Ia sempat diobati oleh Mantri Parakrama yang menggunakan dedaunan yang diracik sendiri. Tapi takdir tak bisa dielakkan kan Tan? Lembu Giring mati saat ditawari minum oleh Nyai Lembu Sora (istrine Lembu Sora).

Kamu tahu nggak Tan kalau orang-orang yang membantu Lembu Sora adalah pemberontak di mata Majapahit. Demungwira adalah pemimpin pemberontakan tersebut. Demungwira telah membunuh mahesa Taruna yang tak lain dan tak bukan adalah putra dari orang yang dibunuh oleh Lembu Sora. Lembu Sora sudah mengingatkan Demungwira agar tidak terjebak oleh hawa nafsunya. tapi saat itu Demungwira tidak bisa memerangi dirinya sendiri sehingga ia membunuh Mahesa Taruna. Demungwira merupakan anak buah Lembu Sora saat masih di Majapahit. karena mereka membunuh itulah Tan, mereka diusir atau merapatkan barisan untuk memberontak Majapahit.

Lembu Sora bertanding melawan Patih Nambi. Secara ilmu kanugragan, Patih Nambi berada di bawah Lembu Sora. Mereka bertarung secara sengit dengan mengayunkan pedang masing-masing. Tang-ting tang-ting bunyi pedang yang saling menyerang. Nambi sudah mulai lelah dan lengah. Pedang Lembu Sora sudah hampir mengenai Patih Nambi kalau saja tidak ada bayangan-bayangan berwarna biru.

Lembu Sora terpelanting jauh. Patih Nambi pun kaget. Beberapa prajurit roboh dan tumbang setelah kedatangan bayangan-bayang biru Tan. Bayangan biru tersebut muncul dari Pedang Naga Puspanya Arya Kamandanu. Ternyata Kamandanu lah yang menyelamatkan Patih Nambi. Saat itu, Kamandanu bilang pada Lembu Sora:

“Paman, awalnya saya tidak berniat masuk ke dalam gelanggang peperangan. Tapi saya tidak sampai hati menyaksikan Paman Lembu Sora membunuh Paman Nambi”

“Kita memang teman baik Kamandanu. Bahkan aku menganggapmu sebagai anakku sendiri. Tapi Itu dulu Kamandanu. Sekarang keadaannya sudah lain. Kita harus melanjutkan peperangan demi Majapahit.

“Paman, sekarang saya akan memberi kesempatan pada Paman, Patih Emban dan Mantri Parakrama untuk meninggalkan medan perang ini. Tolong pergilah paman!”

“Sombong sekali kamu Kamandanu. Kamu telah menginjak-injak harga diri Lembu Sora. Kita ini Ksatria. Jadi lakukan segala kewajibanmu, panggilan hidupmu dan darma baktimu sebagai seorang ksatria. Dulu aku menaruh hormat padamu Kamandanu, tetapi kenapa kamu masih membawa-bawa kepentinganmu. Tugasmu sekarang adalah melanjutkan peperangan sebagaimana layaknya Ksatria. Ayo. Lawan aku. Kalau kamu tidak mau memulai, baik aku yang akan menyerangmu duluan. Hyaak-hyakk”

Tan, awalnya pengen nulis cerita lengkapnya. Tapi karena kemalasan diri yang sangat akut, ceritanya belum selesai. Aku lupa detail ceritanya. Pun sekarang Rakosa radio tidak memutar drama serial ini lagi. Jadi sori banget ya Tan, tulisan ini tentu akan membuatmu kebingungan. Ini lagi buka2 tulisan, ternyata ada bagian ini. Jadi kukirimkan saja padamu tanpa mengedit dan menyempurnakan ceritanya. Ups. Sengaja.

Perpusda, 23 Juli 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s