Habib

Namanya Muhammad Habiburrahim. Panggilannya Habib. Ia adalah anak berusia sekitar lima tahun. Habib masih saudara jauhku. Aku dan ibunya adalah saudara satu buyut. Bapakku dan simbah kakung Habib masih sepupuan. Habib biasanya memanggil bapak dengan panggilan “mbah Eli”. Habib selalu nempel pada bapak. Ada beberapa anak laki-laki kecil tetanggaku yang ngefans pada Bapak. Entah, bapak punya jimat apa kok anak-anak kecil pada nempel. Terutama yang laki-laki. Yah, maklumi saja. Bapak pengen punya anak laki-laki sejak Mamak mengandungku. Eh, sampai sekarang belum keturutan.

Dulu, Habib sering bertandang ke rumahku setiap pagi. Ia akan memasah pepaya yang dicampuri dedak yang nantinya akan menjadi pakan ayam. Ia selalu bersemangat dan fokus banget saat memasah. Aku hanya memperhatikannya. Woww..keren.. aku kagum pada kemampuannya memasah. Bapak bilang Habib bisa melakukan apa saja. Multi talenta kali ya. Disuruh manjat pohon kelapa pun bisa.

“Sungguh?”….aku memastikan pada Bapak.

“Seandainya disuruh manjat kelapa pun, pasti akan dikerjakannya”, Bapak membetulkan ucapannya yang sebelumnya sangat membombastis.

ooooh…ternyata masih “seandainya”. Kukira Habib beneran sudah manjat pohon kelapa. hehe.

Karena sudah dekat dengan bapak dan sering bertandang ke rumah, ia akan minta minuman kopi Bapak. Bapak memang minum kopi setiap hari. Kalau kebetulan bapak minum kopi saat Habib di rumahku, Habib akan bilang: “minta kopi ya mbah?”. Bapakku mengiyakan saja. Simbah Habib bilang kalau Bapak sudah seperti bapaknya sendiri. Apalagi sekarang bapaknya Habib merantau ke luar pulau Jawa. Barangkali aja ia merindukan sosok ayah di sampingnya.

Sehabis membacakan Tahlil untuk simbah kakungku di rumah simbah, Habib nggak mau pulang. Ia pengen nginep ternyata. Aku sih seneng-seneng aja kalau ia beneran mau nginep. Hmm.. sayang, ibunya nggak mengizinkan Habib nginep di rumah simbah. Aku tahu kalau ia pasti sedih banget. Memang sih kalau Habib nanti ikut nginep aku, ibunya nggak punya teman di rumahnya. Bapak Habib merantau dan kakaknya sudah tinggal di Pesantren. Kini hanya Habib dan ibunya yang berada di rumah.

Suatu ketika di pagi hari, aku mendapati Habib di rumahku. Dengan wajah lesu, muram, melas dan tanpa gairah, ia bertanya padaku.

“Kamu mau balik mbak?”

“ya iya, kenapa?”

Ia tak menjawab pertanyaanku dan hanya diam dengan wajah murungnya. Kayaknya ia sedih banget karena aku mau balik ke Jogja. hehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s