Pergaulan Internasional

Hari Rabu temenku bertolak menuju Jakarta. Mengikuti acara simposiam yang diadakan salah satu kementrian di salah satu hotel berbintang. Temenku malas ngikutin serangkai acaranya, ia lebih memilih ndekem di perpus Kemenag. Sebagai temen yang baik, aku ya nemuin temenku itu. Kasihan jauh-jauh dari Jogja. Apalagi kalau diajak main ke perpus, aku tak sudi menolaknya. Haha

Karena hidup di masa kini butuh strategi dalam menghadapinya, temenku memutar otak untuk menyiasati keadaan siang itu. Situasi ketika perut kami mulai krucuk-krucuk berirama. Si teman meminta temannya untuk memberi kabar padanya kalau sudah tiba makan siang. Di tengah-tengah masa semedi itu, aku tak kuasa menahan rasa dingin yang muncul dari benda kotak bernama AC. Aku hanya perlu bergerak keluar ruangan untuk sekedar memperoleh kehangatan. haiyyah.

Aku memang payah menghadapi AC, seharian di JCC waktu pameran buku aja langsung flu dan pilek. Encop sih bilangnya kalau aku anak ingusan gara-gara selalu pilek. Tinggal di daerah dingin semacam Kaliurang Jogja aja langsung ngedrop dan meriang. Padahal aku terlahir sebagai anak gunung. Tepatnya desa Sumanding. Pindah ke kota kecamatan pun tak menghilangkan kebiasaan pilekku. Begitu juga ketika di Jogja dan Jakarta.

Padahal kata orang-orang, Jakarta berhawa panas dan sumuk, tapi aku selalu kedinginan di sini. Hidup dari satu tempat ke tempat yang ber-AC. Kelas, bus way, gedung2 perpustakaan. Bahkan aku harus membawa minyak kayu putih ketika belajar di kelas yang teramat dingin seperti dinginnya desaku. haha.

Lanjut ke cerita awal, aku diajak temen menuju hotel sebagai penyelundup makan siang. Masuk pintu hotel aja langsung wush-wush anginnya. Bukan anginnya nding, ACnya. Karena belum terbiasa berada di tempat elit, aku agak gemetar memasuki hotel bintang lima itu. Dasar wong ndeso.

Terlebih, temenku agak cuek orangnya jadi nggak mengarahkan aku supaya gimana dan gimana ketika di hotel. Malahan ia asyik ngobrol dengan temannya yang bertipe akademisi klimis. Kulihat sekitar, mereka semua berbeda denganku yang umbrus. Mereka adalah akademisi yang wangi, rapi, santai, cool, dan asyik. Akuuu? orang desa yang umbrus, kluwus-kluwus dan hanya toleh kanan, toleh kiri memperhatikan orang-orang. Nyaliku mengkerut. Rasanya ingin kabur menuju duniaku yang memang semrawut dan tidak beraturan. Ini mah bukan duniaku.

Aku menyaksikan beberapa orang yang terkenal. Ada pak Kamarudin Amin yang bukunya menjadi salah satu rujukan ketika belajar Hadits Orientalis jaman di Tafsir Hadits dulu. Lalu ada Pak Syafiq Hasyim, akademisi asal JEPARA yang melanjutkan belajarnya di Jerman. Pak Syafiq Hasyim mengajar di STAINU Jakarta. Untung aku belum diajar sehingga aku tak dikenali beliau. Bisa berabe kalau sudah kenal, bisa-bisanya aku di hotel itu? Padahal orang-orang bisa kesana dengan mengirim abstrak atau melalui undangan. Lha akuu? ngintil temenku, modal nekat dan tanpa rasa malu.

Muncul seorang bule yang ngobrol dengan teman-temannya temenku. Pake bahasa Inggris. Ih, pada ngomong apaan sih? aku menjadi orang yang plonga-plongo di situ. Rasanya terasing dan nggak nyaman. Orang-orang sih pada enjoy aja ngobrolnya. Temenku juga ikut menyimak meski tidak seaktif teman-temannya saat menanggapi ibu bule itu. Ibu bule tertawa, aku ikut tertawa. Menertawakan tertawanya. Padahal barangkali apa yang ia omongkan memang lucu dan penuh humor. Hanya saja, aku belum berkemampuan mengikuti alur pembicaraan yang serba inggris.

Salah seorang temennya temenku bertanya padaku, “go to her?”. Maksudnya, ia menawariku, apa aku ingin mendekat ke arah beberapa tokoh bule?. Kurang lebih artinya begini, “ameh mrono?”. Tapi karena aku belum familiar dengan “go to her?”, makanya suaraku sumbang saat menjawab pertanyaannya. “emoh”, jawabku dengan suara yang hampir tak terdengar. Itu baru pertanyaan standar. Aku juga mengantisipasi, jangan sampai pak bule samping kiriku mengajakku bicara dengan bahasa aneh begitu. Alhamdulillah. Dasarnya aku yang penakut dan tidak memiliki cukup keberanian untuk menantang dunia, jadinya malah pengen mewek sendiri.

Sebenarnya aku berani menantang dunia, tapi kalau ada temennya. Beberapa temen yang bisa diajak menggila dan tidak memiliki rasa malu adalah encop, tante dan upin. Mereka bisa bekerjasama denganku dalam memandang semua perkara sebagai perkara konyol yang selalu lucu dan unyu. Tidak serius-serius amat menghabiskan hari-hari kita. Kalau sendirian ya tidak begitu berani dan gagah. Haha

Ku wa temenku biar kita cepet balik ke kemenag. Di sepanjang jalanan, aku mengkomentari ini-itu. Kepo mengenai apa yang tadi dibicarakan teman-temannya dengan ibu bule. Ibu bule tersebut berasal dari Amerika, adik dari salah seorang aktivist jender (Gendar-bantul) yang bernama belakang Judith. Aku sih nggak berniat poto dengan ibu bule maupun poto dengan latar hotel. Bisa-bisa nanti kuaplod, lalu dianggap orang telah melakukan macam-macam. Seringkali, orang-orang menganggap kita terlalu keren, padahal aslinya mah memang keren. Bukan begitu. Abaikan!

Aku juga ngedumel dan sebal dengan kegiatan salah satu kementrian itu. Apa sih yang sebenarnya diomongkan orang-orang di acara simposium? Manfaatnya sejauh mana? Jangan-jangan, perkara yang diseminarkan sudah selesai dikaji dan beres. Hanya diulang-ulang, padahal keadaan sekarang tidak relevan membahas hal itu. “opo toh sing diomongke wong-wong? iku duwite sopo sing dienggo acara? kenopo nggak digawe acara sing luwih keren?”. Karena hanya ada aku dan temenku, kekesalanku kutumpahkan padanya. Bertanya dengan sedikit memojokkan. Kata temenku, mending duit itu buat penelitian. Aku nggak setuju. Acara itu harus menyentuh orang bawah. Tidak hanya kaum elit yang belajar di sekolah-sekolah tinggi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s