Jakarta

Tak pernah kubayangkan, begini jadinya. Sekarang tinggal di Jakarta, kota yang tak pernah terbenak dalam hati dan pikiran. Eh sekarang kok malahan di sini. Alhamdulillah ‘ala kulli hal

Aku ke Jakarta tanggal 14 Oktober 2016 denagn menumpang kereta. Saat itu aku belum tahu akan tinggal dimana, yang penting nyampe kampus aja. Mau tidur di emperan kampus pun aku tidak masalah. Ada beberapa teman yang tinggal di Jakarta namun mereka jauh dari kampusku. Di dalam kereta, aku baru mengkontak nomor yang dikasih temannya temannya temanku, Mbak Dewi.

Ceritanya begini. Aku punya temen, namanya mas Puguh. Ia mengaji pada Pak Kyai Najib, santri khuffadz yang tidak tinggal di Pondok. Aku dan mas Puguh sama-sama kerja di Obral Buku Jogja sebagai admin toko. Aku dan Aryana sift siang, sedang mas Puguh sift malam. Mas Puguh kenal Pak Agung, mantan lurah pondok khuffadz yang sedang belajar di Islam Nusantara STAINU Jakarta. Mas Puguh memberiku kontaknya Pak Agung.

Aku bertanya kos di Jakarta pada Pak Agung. Sayang ia tidak banyak tahu tempat kos-kosan atau asrama. Karena tempat tinggalnya jauh dari kampus. Aku dikasih nomornya Mas Fuadul Umam, temannya Pak Agung yang biasa ngurusin tempat tinggal mahasiswa. Bukan nding, mas Fuad adalah orang yang berada di lantai dua, berkutat dengan sekretariat UNU dan asrama. Cerita belum selesai sampai disitu, aku dikasih nomornya Mb Dewi, salah satu senior di Asrama Mahasiswa.

Kuwea Mb Dewi, bertanya apa aku bisa tinggal di Asrama. Jawabnya bisa, alhamdulillah lega sekali rasanya. Aku membawa satu tas gendong dan kopor besar yang membuatku sempoyongan membawanya. Beban kopor itu terlalu berat. Untung ada bapak-bapak yang membawakan koporku. Kulihat beliau juga sempoyongan, meski tidak sesempoyongan diriku. Artinya, kopor itu benar-benar berat. Bapak Madura mengantarkanku sampai tempat-tempat Bajai.

Di dekat jalan raya itu aku kebingungan caranya memberhentikan bajai. Apa pasal karena kendaraan terlalu rapat berjejer-jejer, mengantri jalan di jalanan yang macet. Naik Gojek juga agak sulit, mengingat koporku yang akan memenuhi tempat di motor bapak Gojek. Giliran mendapat bajai, sopir bajai bilang kalau nggak mau mengangkutku ke Matraman karena jalannya putar balik, padahal macetnya minta ampun. Aku salah mengambil rute, aku harus jalan ke arah yang yang tidak perlu putar balik.

Mau menyeberang, mobil-mobil yang berhenti di jalan tidak memberiku celah untuk lewat dengan menyeret koper segede itu. Sebenernya aku geli antara ingin nangis dan tertawa. Nangis karena mau nyebrang aja rasanya susah, apalagi harus menenteng kopor besar. Semakin membuatku ingin nangis. Kemudian, aku geli melihat diriku dalam keadaan ini. Entah apa pasal, kok rasanya lucu sekali mengalami peristiwa ini.

Pertama kali menginjakkan kaki di Ibukota, belum kenal siapa-siapa, menenteng kopor besar, mobil macet parah, bingung dengan jalan2 di Jakarta yang muter-muter plus tubuhku yang tidak seberapa besar. Sampai-sampai ada salah seorang pengemudi mobil yang memintaku berhati-hati. Paling-paling, orang yang melihatku merasa kasihan karena terjepit diantara mobil-mobil.

Yasudah sampailah aku di jalan seberang. Akhirnya aku bertanya ke pedagang kaki lima, kalau mau ke Matraman, aku harus naik bajai yang menuju arah mana. Kurasa, tidak ada kendaraan yang berjalan santai di Jakarta. Semuanya melaju dengan cepat, termasuk bajai-bajai. Aku bingung caranya menyetop bajai, akhirnya bapak PKL itu yang memanggil “bajai!!” dengan suara keras.

Bajai mendekat ke arahku, kami tawar-menawar ongkos jalannya. Sopir bajai menyebutkan angka 30ribu, sedangkan aku menyebutkan angka 20ribu. Kami bersepakat di angka 25ribu. Kami melaju dengan santai, bajai mah nggak bisa banter jalannya meski sudah gas poll. Haha. Melihat Masjid Matraman dan di sebelahnya adalah kampus kecilku, STAINU membuatku bernafas dengan teratur lagi. Alhamdulillah.

Aku bilang ke Mbak Dewi kalau aku sudah sampai depan kampus. Oke deh. Aku diantar menuju Asrama yang katanya cukup 5 mrnit jalan kaki. Tapi karena membawa barang berat, kami mencegat bajai lagi menuju Asrama. Begitu saja ceritanya. Saat menjalaninya, rasanya heroik dan fantastis sekali. Setelah diceritakan kok biasa saja. Haha

Di Minggu kedua, aku pergi ke JCC. Ada pameran buku internasional. Aku melihat-lihat stand buku dari Malaysia. Eh tanpa sengaja, ada Dedi Mizwar yang sedang melihat-lihat di sampingku. Ckrek, ambil poto artis. Seharian kami berada di JCC. Ada Rano Karno yang sedang membedah bukunya. Melihat Rano Karno, aku langsung menerobos ke barisan terdepan, langsung duduk-duduk di samping panggung tanpa rasa malu karena capek berdiri dan jalan. Melihat Si Doel tuh rasanya Jakarta banget. Haha. Betawinya mantapp.

Rano Karno, pemain Si Doel Anak Sekolahan yang filmnya kerap kutonton waktu KKN di rumah Pak Bambang. Betapa film Si Doel adalah gambaran anak sekolahan yang hidup di realitas kehidupan. Keduanya sering berjarak, bagaimana menyikapi jarak yang terbentang tersebut? Itu alasan kenapa aku suka nonton film Si Doel. Selain karena gue banget yang orang desa, film itu mengajarkan hidup yang baik dengan moral yang baik. Sayang, temanku yang bernama Duroh itu tidak kenal film Si Doel, makanya ia biasa-biasa aja. Tidak memiliki perasaan yang sentimentil atau semacamnya. Haha

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
17 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s