Kelas Serpihan

Serpihan hati ini, kupeluk erat. Akan kubawaa, sampai ku matii. Menahan rasa inii, sendiriaan. tak tahu apa yang… lagunya Agnes

Aku ingin menamakan kelas ini sebagai kelas serpihan. Alasan yang pertama, Pak Guru kami suka sekali melebih-lebihkan perkara. Agak mellow juga, kalau mendengar kata “serpihan” kan ada bau-bau mellownya gitu. Apalagi serpihan hati yang dinyanyikan Agnes. Pas banget untuk menggambarkan kelas Pak Ginanjar.

Kedua, di sini kami mempelajari serpihan-serpihan kesejarahan Nusantara yang terbentang dari ujung ke ujung. Data-data yang dikaji belum mudah diakses karena masih terserak dimana-mana. Kadang, kita sulit melacaknya karena data-data itu masih tersimpan di masing-masing pribadi. Untuk perkara yang masih langka dikaji aja, Pak Dosen sudah cap-cus mengetengahkannya. Apalagi perkara-perkara yang bejibun datanya. Dijamin makin cap-cis-cus.

Kelas ini diampu pak Ahmad Ginanjar Sya’ban. Waktu perkenalan, beliau tidak menceritakan latar belakang pendidikan, keluarga dll. Nama pun kayaknya nggak beliau sebutkan. Setelah kepo ke fb dan berspekulasi di kelas, nampaknya beliau alumni Lirboyo dan Al-Azhar. Selebihnya, aku belum tahu informasi beliau.

Pak Ginanjar tipe pembelajar yang demen mendengar pendapat dari mahasiswanya. Beliau memaksa kami ngomong karena beliau juga ingin belajar. Pak Gin seringkali mempublikasikan hasil penelitiannya di facebook. Penelitian atas naskah-naskah nusantara. Beliau melacak keberadaan naskah, mentahkik dan membacanya. Kemudian menuliskan hasilnya dan disebarkan ke alam internet.

Beliau masih muda. Teman-temanku, para bapak sampai terdiam karena tidak tahu apa yang musti diucapkannya dalam rangka mengkomentari penjelasan pak Ginanjar.

Masalah kajian sanad intelektual Nusantara merupakan kajian yang masih baru. Pak Azyumardi Azra barangkali termasuk salah satu tokoh kunci yang membuka hutan sanad intelektual Nusantara dengan “Jaringan Intelektual Nusantara Abad 17 dan 18”. Di kelas juga nampaknya belum ditemukan kajian sanadnya secara mapan. Pak Dir dan Pak Gin pun belum menjelaskannya secara detail. Untuk operasionalnya sih sudah dilakukan penelitian. Pak Ginanjar sudah menampilkan hasil temuan-temuannya.

Namun, untuk konsep dan bangunan ilmu sanad ini nampaknya belum menemukan bentuknya. Belum dijelaskan, sanad yang dimaksud seperti apa. Kajian sanad sangat familiar dalam ilmu hadits dan tarekat-tarekat. Ada orientalis yang mengkaji sanad hadits. Juynboll bersemedi di perpustakaan Leiden selama 40 tahun. Ia tidak mau mengajar dan berkegiatan lain. Juynboll hanya meneliti hadits dan hadits, selama 40 tahun boi. Mantapp.

Ditemukan teori projecting back yang bilang bahwa sanad hanyalah hasil buatan ulama pengumpul hadits. Ulama pengumpul hadits inilah yang membuat-buat sanad. mencari legalitas dari nama-nama yang sekiranya bisa dipertanggungjawabkan sampai kanjeng Nabi. nah kan?

Dengan mempelajari teori-teori sanad orientalis, kita bisa mencontoh pola-polanya. Supaya apa? konsepsi ilmu sanad ulama nusantara bisa kuat. Jika dikemudian hari ada orang lain (akhor/other/outsider) yang mempertanyakan kembali kajian sanad ulama Nusantara, seketika kita tidak langsung goyah dan roboh. karena apa? bangunan keilmuannya sudah kuat tak tertandingi kaya semen Gresik. Eeea. #TolakPabrikApapun #AsingGoToHell #TolakPabrikSemen #IklanGratis.

Maksudku, siapa yang berkemampuan dan berkemauan membangun fondasinya kalau bukan mahasiswa Paska STAINU Jakarta? Kalau kita saja angkat tangan, bisa-bisa orang lain akan mengangkat tangan dan kakinya. Kabuuur.

Secara praktek, sudah. Tinggal konsep dan teorinya aja. Mau merumuskan bareng-bareng? Duh, sebenarnya saya pengen memiliki teman belajar yang konsen meneliti kenusantaraan. Lalu, kira-kira siapa yang bisa diajak jalan bareng? Semacam komunitas gitu. Coba lah nanti mencari-cari.

Menjadi tanda tanya besar, Bedanya sanad di setiap cabang keilmuan itu bagaimana? Masak iya, kita bisa memukul rata pada semua keilmuan? Tarekat, ulama nusantara, hadits, fiqih, nahwu dll. Jadi menarik nih kajian ini. Membantu sekali.

Meski aku belum bisa mengikuti alur perkuliahan Pak Ginanjar karena meloncat-loncat, aku tetap saja mendengarkan dengan seksama. Apa yang disampaikan beliau meliputi sejarah nusantara, ulama-ulama Nusantara yang berkiprah di kancah internasional, Kyai-kyai Nusantara, Jaringan dan mata rantai keilmuan ulama Nusantara, naskah-naskah yang belum mendapat tempat yang layak dan lain-lain.

Asrama Mahasiswa Nahdlatul Ulama, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
13 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s