Pak Radhar dan Pak Mansur

Kami berada di kelas pak Radhar selama 3,5 jam. Dari jam 13.00 sampai jam 16.30. Lantas, apa saja yang terjadi di kelas selama itu? Banyak hal, seperti yang sudah-sudah. Pak Radhar mengajari kami bagaimana mencari kesejatian diri. Kalau sudah menemukan kesejatian, kita tahu posisi kita dimana, dan kami pula tahu apa yang semestinya dilakukan. Hanya kesejatian yang mengetahui kesejatian. Setidak-tidaknya, kalau kita belum bisa memperjuangkan hidup keluarga, masyarakat ataupun bangsa, kita bisa memperjuangkan diri kita. Inilah orientasi dari kuliah-kuliah Pak Radhar. Goal dari permaianan ini.

Beliau kuliah di Prancis, bacaannya luas, memiliki 106 folder di laptop (setiap folder terisi beberapa folder turunan, data yang tidak akan selesai dibaca selama 5 tahun), budayawan dengan jam terbang tinggi, memiliki konsep kebangsaan yang aduhai sakti, tidur tiga jam dalam sehari meniru pendiri kerajaan Saudi (Ibn Saud), memiliki data-data yang langka mengenai sejarah Nusantara, berada di luar sistem, keras usaha dll.

Aku menyamakan beliau dengan tokoh bernama Mpu Ranubaya, temannya Mpu Hanggareksa (Bpk dari Kakang Kamandanu). Mpu Ranubaya adalah pandai besi yang membuat senjata untuk para prajurit Singasari. Mpu Hanggareksa dan Mpu Ranubaya merupakan adik-kakak seperguruan yang duet mempersenjatai prajurit kerajaan. Mpu Ranubaya tokoh di balik layar dari keperkasaan prajurit. Ia tidak berniat mengabdi pada Raja Kertanegara, hanya ingin membantu Mpu Hanggareksa yang tidak lain adalah adik seperguruannya dulu. Mpu Hanggareksa di kemudian hari pensiun dari membuat senjata karena beliau tidak ingin melihat karyanya (senjata) dilumuri darah ribuan orang yang tidak berdosa. Mpu Hanggareksa mengajak Mpu Ranubaya ke Istana Singasari, mendapat penghargaan dari Raja Kertanegara. Mpu Ranubaya tidak mabuk kehormatan dan kekuasaan, lebih baik ia mabuk tuak saja. Mpu Ranubaya enggan ikut serta ke Istana.

Kurasa, Mpu Ranubaya dan Pak Radhar adalah pemain-pemain di bawah panggung. Mpu Ranubaya dan Pak Radhar merupakan tipe orang yang memiliki idealitas tinggi dan keras dalam menyikapi dunia ini. Saat mengambil studi di Prancis, Pak Radhar ingin dibimbing oleh Derrida atau Bourdieu dalam menyelesaikan tugas akhirnya. Kalau tidak Derrida ya Bourdieu, dua orang itu, titik. Sayang, kedua orang yang dikehendaki Pak Radhar termasuk orang yang berpengaruh dan padat kegiatan di Prancis, tidak memiliki waktu lagi. Pak Radhar dikasih rujukan Derrida pada salah seorang murid terbaik Derrida. Pak Radhar pulang begitu saja ke Indonesia, karena tekadnya harus salah satu diantara Bourdieu atau Derrida, tidak mau yang lain. Kalau tidak itu ya itu, Tidak kepada yang lain. Yah, itulah salah satu contoh kecil dari idealitas Pak Radhar.

Pada pertemuan pertama, putri Pak Radhar berumur 3 tahun yang berpipi tembem ikut Pak Radhar. Namanya juga anak kecil, pasti tidak betah berada di kelas lama-lama. Sang putri merengek macam-macam, ingin pulang, ingin ketemu ibunya, minta dipangku Pak Radhar. Dengan tegas pak Radhar bilang pada putrinya kalau sang putri harus duduk seperti semua orang, seperti kami-kami para murid Pak Radhar.

Putri Pak Radhar berhenti merengek dan duduk di salah satu kursi. Sebentar kemudian, kepala sang putri sudah lenggiat-lenggiut, mengantuk daan tertidur dengan kepala yang jatuh-bangun. Aku yang melihatnya merasa tidak tega, ingin kutidurkan di karpet saja. Kasihan sekali bocah itu. Pak Radhar barangkali juga tidak tega, namun beliau tidak bereaksi secara berlebihan. Beliau hanya mengedipkan matanya ke arah kami, memberi isyarat mengenai anaknya yang terkantuk-kantuk. Hanya sebatas itu. Contoh lain dari ketegasan beliau.

Siang itu, Pak Radhar terdiam agak lama dengan badan yang coba dirileks-rilekskan. Padahal beliau terguncang hebat atas pertanyaan dari salah satu teman kami. Teman kami bertanya apakah sejarah yang dituturkan Pak Radhar merupakan sejarah yang terlalu diunggul-unggulkan dan tidak berdasar pada fakta?. Setiap negara mengunggulkan sejarahnya sendiri. Apakah sejarah Indonesia menurut Pak Radhar juga begitu? Korea yang merupakan negara baru aja mengklaim dirinya sebagai negara yang berperadaban kuno. Di Indonesia, apakah kasusnya juga sama?

Aku pernah merasakan hal ini ketika di kelas Pak Manshur. Masa-masa ketika banyak kegundahan yang terjadi. Kegundahan Pak Mansur atas dunia ini. Juga dunia akademik yang telah berjarak jauh dari idealitas pak Mansur. Benar-benar telah berbeda jauh dari rel/ gambaran dunia pak Mansur atas zaman ini. Salah satu alasan Pak Mansur jarang masuk kelas. Suatu ketika beliau menceramahi kami dengan banyak hal. Untung kami bukan mahasiswa kedokteran, kalau iya mahasiswa kedokteran, kami bisa membunuh banyak pasien dengan keteledoran kita dalam merujuk pada data. Alias ngawur.

Pak Mansur mengampu mata kuliah Studi Kitab Tafsir. Beberapa dosen menulis uraian tentang kitab-kitab tafsir yang dibukukan. Mahasiswa-mahasiswi Tafsir Hadits mengandalkan buku tersebut karena memuat banyak hal. Hal terpenting adalah, buku itu memudahkan kita. Jarang sekali kita merujuk pada kitab asli. Hanya pada sumber-sumber kedua, tulisan orang lain tentang Kitab Tafsir tersebut. Hal inilah yang membuat Pak Mansur geram karena kita tidak berdasar pada data primer yang kuat. Cuma katanya dan katanya. Dunia akademik sedemikian mengenaskan di mata Pak Mansur. Muda-mudi sering memantengin medsos dan sekilas saja mantengin buku-buku. Padahal akses sekarang sangat mudah. Kenapa kualitas mahasiswa masa kini menurun?

Dimana elan vital kita sebagai mahasiswa. Pak Mansur membacakan ayat Al-Qur’an, “falaula nafara min kulli firqatin minhum thoifatun liyatafaqqahuu fid diin, wa liyundziruu qaumahum idzaa roja’uu ilaihim la’allahum yahdzaruun”. Bagaimana kita bisa menyeru, mengkabarkan, dan memberi tahu masyarakat kalau kita tidak sungguh-sungguh dalam belajar. Padahal, kita termasuk segolongan yang tidak pergi berperang secara fisik. Kita adalah bagian dari sekelompok orang yang belajar agama (kehidupan). Bagaimana kita akan mempertanggungjawabkan semua ini? tanggung jawab kita atas seruan Gusti Allah.

Gusti Allah telah membekali kita dengan akal, hati, fisik dan psikis. Gusti Allah tidak pernah main-main memberikan keempat komponen, kita saja yang main-main atas semua anugrah ini. Ujar Pak Radhar. Beliau juga menyayangkan sikap kami yang oportunis. Ingin menyerap apa yang telah diserap Pak Radhar dengan segala jerih payahnya. Kita malas berproses , berpeluh-keringat, berdarah-darah. Kita hanya ingin “bisa” melihat dunia dalam sekejap. Bagaimana mungkin? Padahal Pak Radhar membutuhkan waktu empat puluh tahun dengan tidur tiga jam sehari. Oportunis sekali kita yang tidak mau bergerak dan mencari-cari. Mendatangi rumah Pak Radhar, meminjam bukunya, mengkopi data-data, menyerap ilmunya dsb.

Pak Radhar marah sekali melihat tabiat kita yang pemalas. Dulu, Pak Radhar membaca sampai berkaca-kaca dan mata beliau perih. Mengumpulkan buku-buku telah dilakukan Pak Radhar sejak SMP. Sekarang, kondisi Pak Radhar tidak sesehat dulu. 16 macam penyakit telah singgah di tubuh Pak Radhar. Setiap saat, beliau merasakan 6 akibat dari penyakitnya. Tangan beliau tidak bisa menekuk sehingga harus diantar Istri kemana-mana. Istri berperan doble menjadi sopir pribadi. Tidak ada orang yang sanggup mengikuti jam terbang Pak Radhar yang tidak seperti orang kebanyakan. Berapa kali beliau harus cuci darah. Beliau tidak mau dibelenggu oleh sakit-sakit yang dideritanya. Beliau juga bilang pada kami bahwa Pak Radhar adalah budayawan. Mengajar di kampus kecil ini hanyalah sampingan. Hal itu dilakukan karena beliau mencari kesejatian dirinya.

Alhamdulillah memiliki guru seperti Pak Mansur dan Pak Radhar. Guru-guru yang menyentakkan kami dari tidur panjang kami. Semoga kami tidak hanya tersentak dan kaget. Melainkan juga tergerak mencari penyebab dari hal-hal yang mengagetkan kehidupan di dunia ini.

Asrama Mahasiswa Nahdlatul Ulama, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
17 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s