Pasar Jatinegara

Ada salah satu teman yang ingin dibuatkan tulisan mengenai kuliner atau tempat-tempat wisata. Tentu ketika aku telah mendatangi dan memperoleh pengalaman pribadi dengan mendatanginya secara langsung. Bagaimana bisa? Bisa saja sih tapi akan sulit mengingat aku bukan tipe traveller yang suka jalan kesana-kemari, makan rupa-rupa makanan yang aneh dan unik.

Aku bertipe orang datar kali ya, jadinya biasa aja menjalani kehidupan ini. Tidak terlalu bergairah dan berkeinginan. Salah satu teman mendefinisikan diriku sebagai orang yang mati rasa. Ah, masa iyaaa? Sekali dua kali sih pernah nekat kemana atau makan dimana. Namun itu Cuma sesekali, tidak sering-sering.

Dalam konteks Jakarta, barangkali merupakan pengalaman berkesan melihat monas, masjid Istiqlal, artis atau apapun lah. Lha, aku malah biasa saja. Benar-benar mati rasa. Haha. Yaudah, rapapa. Aku ingin bercerita tentang kunjunganku ke Pasar Jatinegara yang cukup berkesan. Andai saja memiliki uang lebih, aku ingin menjelajahi isi pasar. Entahlah, aku lagi demen mencari kebutuhanku di pasar dari pada market-market modern.

Interaksi di dua tempat tersebut sangat berbeda. Kalau di Pasar, aku hanya senyum-senyum sendiri menyaksikan aneka rupa wajah manusia yang tawar-menawar, kucing-kucing yang mengerubungi penjual ikan (berharap akan ada ikan yang dilempar ke arah mereka), bocah-bocah yang mencoba pakaian baru di ruko pakaian. Semua itu adalah pandangan yang menarik bagi diri ini.

Beberapa kebutuhanku di Jakarta belum terpenuhi. Salah satu diantaranya adalah lemari baju. Jadilah hari Ahad, aku berangkat ke pasar Jatinegara dengan Duroh anak Subang yang kemarin kupaksa ikut kelas Pak Radhar. Haha. Kami berjalan dari asrama menuju Halte Matraman. Jalan kaki pada jarak tempuh yang tidak dekat untuk ukuran santri-santri Jogja. Tapi kami di sini sudah terbiasa jalan dari satu tempat ke tempat yang lain.

Dalam perjalanan menuju halte, aku tertawa-tawa saja dengan Duroh setelah berembug nanti sepulang dari Jatinegara mau naik apa. Antara Grab car atau bajai. Kalau grab car mah sudah biasa, tidak ada menariknya sama sekali karena hanya naik mobil pribadi seseorang. Beda ketika naik bajai, kesannya lucu dan asyik. Dari deru mesinnya saja sudah terdengar lucu, apalagi menaikinya. tentu tambah lucu. Jadilah kami tertawa tidak jelas. Haha

Aku tertinggal jauh di belakang Duroh. Duroh berjalan sangat cepat. Aku terseok-seok mengikuti langkah-langkahnya. Aku menyerah, biar dia berjalan duluan. Duroh ngomel-ngomel melihat jalanku yang seperti keong emas, akhirnya ia menarikku dan memaksaku berjalan dengan langkah kaki sekilat-kilatnya. wuuuush.
Aku dan Duroh naik bus way dan turun di halte Pasar Jatinegara.

Sesampainya di halte, kami bingung mau turun di halte sebelah kanan atau kiri. Soalnya kalau salah turun arah, kami akan capek bolak-balik naik jembatan di atas jalan. Jembatannya tinggi dan jauh boi. Kami bertanya pada salah satu penjual yang berada di kanan jalan, dimana tempat penjual lemari. Katanya kita harus nyebrang ke pasar yang di seberang jalan. Nah kan bener? Kami naik lagi ke tangga penyeberangan.

lumayan sih dengan pasar ini. Aku langsung terkesan karena ada sekumpulan penjual buku seperti Shopping Center kalau di Jogja, pasar buku. Tapi bukunya tidak selengkap di Jogja. Aku memang masih suka membanding-bandingkan antara Jogja dan Jakarta. Makanan, kekondusifan untuk belajar, akses-akses buku dan belajar, seminar-seinar, kesantrian bahkan sampai cara penjual es teh memasukkan es batu dan air teh nya. Semua hal kukomentari. Haha. Apa gunanya? Mungkin tidak ada, hanya kangen saja sama Jogja.

Muter-muter kesana kemari juga belum bisa menemukan penjual lemari. Kami bertanya pada penjual makanan di pinggir jalan. Oi-oi, ternyata salah ambil arah. Harusnya tadi kita turun di tangga penyeberangan yang di tengah. Untung ada penyeberangan di jalan, kami tidak harus naik ke atas lagi. Nemu deh penjualnya. Kami langsung mendatangi penjual yang pertama kali kita lihat. Duroh menawar, aku yang menyaksikan. Sampai di harga 300ribeng, penjual nampaknya masih keberatan. Minta ditambahin 20ribeng lagi.

Duroh meninggalkan toko lemari dan menuju toko lain. Modus pasaran para pembeli. Kalau tidak boleh dibeli dengan harga pembeli, pembeli pura-pura pergi padahal ngarep dipanggil sama penjualnya. Untung penjualnya manggil Duroh lagi. Aku yang nggak tega, sudah ditawar sampai turun harga kok kita meninggalkannya. Kuajak Duroh kembali ke toko semula. Ia memintaku untuk menawar lagi. “Alah, Mbak mah nggak tegaan”, gerutu Duroh.

Kami memutuskan memesan grab yang lebih murah dari Bajai. Eh kok mobilnya kecil, tidak muat untuk mengangkut lemari yang telah kami beli. Mas penjual langsung cepat tanggap memreteli lemari dan memasukkannya dalam kardus besar. Mobil Grab tidak bisa parkir di depan toko persis karena jalannya hanya cukup untuk satu kendaraan. Separoh jalan khusus untuk Bus Way. Jadilah mobil Grab parkir ke jalan yang agak lapang, padahal agak jauh.

Ms penjual menolong kami memikul kardus besar. Di saat-saat seperti inilah aku terkadang merasa terharu dengan orang Jakarta.
Juga kepada sopir Grab yang baru bergabung dengan Grab sebulan ini. Karena orang Jakarta asli, kami nggosipin Ahok yang tidak bisa bersikap tenang dan ceplas-ceplos. Orang Islam yang sama tidak bisa tenangnya memperparah keadaan. Haha.

Kami turun di pertigaan gang Asrama, biar tidak menyusahkan sopir Grab. Soalnya Asrama kami masih masuk gang lagi yang nantinya Pak Sopir harus muter-muter. Kasihan. Pak Sopir juga membawakan kardus kami sampai Asrama. Tidak semua orang Jakarta kejam dan sadis seperti yang diceritakan Opret padaku. Wkwk. Dasa Opret.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
17 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s