Egrang Agustusan

“Bapak-bapak, bagaimana kalau egrang?”, Pak Bari urun rembug.

“Ah Pak Bari ini, yang benar saja Pak. Anak jaman sekarang mana kenal yang namanya egrang. Kalau balap karung, balap kelereng atau memecahkan air sih masih mungkin bagi putra-putra kita Pak. Beda dengan egrang, permainan egrang tidak mudah bagi anak perkotaan. Lagi pula, anak-anak lebih suka bermain game di komputer, tab ataupun play station”, sela pak Bowo.

Pak Bowo teringat anaknya, Farel, yang hanya bermain game lewat tablet galaxy-nya. Mana mungkin anak-anak seusia Farel yang duduk di kelas empat SD tertarik dengan permainan yang dimainkan pak Bowo saat mereka masih bocah ingusan yang tinggal di desa.

Sejenak kemudian, pak Bowo mengenang masa kanak-kanaknya yang ceria saat balapan egrang. Permainan egrang memang terdengar sangat mustahil bagi Farel dan teman-temannya, namun pak Bowo memiliki pemikiran sendiri. Ia ingin anak-anak di kompleknya merasakan apa yang ia rasakan saat bermain egrang. Pasti ada hal baik yang didapat dari kegiatan ini, pikir pak Bowo. Akhirnya ia setuju dengan usulan pak Bari. Rapat bulanan warga Komplek Perum. Melati berakhir pukul 11 malam dengan hasil akan mengikut-sertakan anak-anak Komplek dalam lomba estafet egrang.

“Teman-teman, papaku bilang kalau kita akan bertanding egrang saat perayaan hari kemerdekaan. Kalian sudah dengar dari papa-papa kalian belum?”, tanya Riza sepulang sekolah.

“Ish. egrang sih semacam apa? selama ini kan kita bermain PS di rumah-rumah kita secara bergiliran. Aku tidak tahu permainan apa itu.”

“Entah. Minggu besok kita akan tahu egrang termasuk jenis permainan semacam apa. Papa akan mengajak kita ke rumah pakdhe Darma di Bantul. Tadi aku diminta papa untuk memberitahu dan mengajak kalian”, Farel menambahi.

-*#-*#-

Minggu pagi, pak Bowo mengangkut Farel, Kevin, Iban, Riza, Deva, Rizki dan teman-teman yang lain di mobil bak terbuka. Biasanya, mobil itu disewakan untuk mengangkut barang-barang mahasiswa yang pindah kos. Kali ini, rombongan krucil-krucil tetangga pak Bowo bertolak menuju rumah saudara pak Bowo di Bantul. Setibanya di pelataran rumah, saudara pak Bowo langsung mengajak mereka ke kebun bambu. Sejauh mata memandang, hanya ada bambu dan bambu. Dengan cekatan, Pak Darma menebang beberapa pohon bambu yang besarnya selengan pak Darma.

“Nah, kalian yang bertugas memotong bambu-bambu tersebut seukuran ini.” seloroh pak Darma sembari memberikan bambu yang telah terpotong sepanjang 2,5 meter.

“Ini gergajinya”, imbuh pak Bowo.

“Baik Pak”, Jawab mereka serempak meski tidak paham apa yang harus mereka perbuat.

Farel tidak tahu persis apa yang harus dikerjakannya. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sempat ia melirik teman-temannya yang sama tidak pahamnya dengan tugas yang diberikan pak Bowo dan pak Darma. Mereka masih mematung dan melongo, tanda tidak mengerti. Untung pak Darma mengenali ekspresi anak-anak tetangga pak Bowo.

“Begini anak-anak. Kalian meniru apa yang Bapak lakukan ya. Bambu ini kita angkat ke atas blabak terlebih dahulu. Kaki kiri kalian, naik ke atas bambu yang akan digergaji. Tujuannya biar bambu ini tidak menggeloyor dan kokoh saat digergaji. Kaki kiri dan tangan kiri memegangi bambu, sedangkan kaki kanan tetap berada di tanah, tangan kanan menggergaji bambu. Ini bunyinya, grek-egrek-egrek.” Pak Bari mengajari dan mendampingi anak-anak menggergaji bambu.

“Horee!! aku bisa”, teriak Riza. “Aku berhasil memotong bambunya Pak Darma. Aku akan memotongnya satu lagi, biar menjadi sepasang.”

Anak-anak lain geregetan karena Riza mendahului mereka, tidak setia kawan. Dengan semangat yang membara di dada, mereka berusaha menyamai Riza. Memotong bambu menjadi dua yang masing-masing berukuran 2,5 meter. Pukul sebelas siang, terkumpullah lima pasang egrang. Total semua bambunya sepuluh. Pak Darma dan pak Bowo menyelesaikan sisanya, memasang bambu kecil yang nantinya menjadi pijakan kaki saat bermain egrang. Tidak lama, egrang mereka sudah jadi.

Pak Darma mempersilakan mereka mampir di rumah beliau. Bu Darma keluar dari dapur, membawa satu teko es teh. Segarnya menggoda kerongkongan mereka. Apalagi, tadi mereka telah berpeluh-peluh menebangi pohon bambu dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Hal itu sungguh menguras tenaga mereka.

(Siapa bilang anak-anak itu ikut menebangi? Tidak ikut menebangi nding, mereka hanya menonton pak Bowo dan pak Darma menebangi). Mau tidak mau, mereka berebut mengambil gelas dan menuangkan es teh ke gelas masing-masing. Mereka saling mendahului, takut tidak kebagian es teh bu Darma.

Selepas Dzuhur, pak Bowo memohon diri pada pakdhe Darma dan budhe Darma untuk pamit pulang. Mengucapkan terimakasih telah memberi bambu dan membuatkan mereka egrang. Farel mengeluarkan bakpia makanan khas Jogja dari kursi depan mobil bak terbuka pak Bowo. Kemudian, menyerahkannya pada budhe Darma. Bakpia tersebut seharusnya sudah diserahkan Farel ketika sampai di rumah pakdhe Darma atas pesan mama. Tapi ia lupa dan baru ingat. Sehingga baru diberikan pada budhe Darma.

Farel dan teman-temannya berdada-dada pada pakdhe Darma. Dengan berdiri memakai helm di atas mobil bak terbuka, mereka melambaikan tangan, kemudian mengucapkan salam dengan serentak.

“Kami pulang dulu Pakdhee, Assalamu’alaikuum”, teriak mereka.

“Iya. Kapan-kapan harus kesini lagi. Nanti kubuatkan caping dari bambu”, jawab pakdhe Darma. Farel merasa bahagia setiap bermain ke rumah pakdhenya. Apalagi beramai-ramai dengan kawan-kawannya. Seru sekali.

-*#-*#-

Sekarang bulan Januari. Masih ada waktu enam minggu untuk melatih anak-anak komplek perumahan bermain egrang yang akan dilaksanakan bulan Februari pada tingkat kecamatan. Ide ini muncul saat MENPORA dan MENDIKBUD mengeluarkan surat edaran yang berisi “penyelenggaraan kontes dolanan anak tingkat nasional pada 17 Agustus mendatang. Salah satu cabang permainannya adalah egrang.” Surat edaran ini disambut baik oleh segenap bangsa Indonesia, termasuk masyarakat perkotaan. Tuan rumah kontes dolanan anak ini adalah komunitas belajar Tanoker Ledokombo yang terletak di kota Jember, Jawa Timur.

Mula-mula, pak Bari meminta anak-anak di Komplek Perumahan Melati untuk berkumpul setiap sore di tempat lapang sekitar komplek. Tanah lapang ini tidak lebar tetapi memanjang diantara rumah-rumah warga Perumahan. Tanah lapang tersebut memiliki lebar 3 meter dan panjang 40 meter. Rumah-rumah warga Perumahan berhadap-hadapan menghadap tanah lapang tersebut. Tempat ini akan digunakan untuk latihan egrang selepas Ashar. Beberapa orang dewasa seperti pak Bowo dan pak Bari masih bisa memainkan permainan ini. Sehingga mereka berdua didaulat sebagai pelatih oleh warga Perumahan.

Warga Perumahan sepakat mengosongkan jadwal les anak-anak mereka pada jam tiga sampai jam setengah enam sore. Kesepakatan ini bertujuan supaya anak-anak mereka fokus latihan egrang pada sore hari. Sedangkan mengaji Iqra dan Al-Qur’an di TPA, berpindah jadwal sehabis Maghrib.

Pak Bowo dan pak Bari berbagi jadwal melatih anak-anak karena mereka sibuk bekerja. Jam 15.15 sampai 16.30, anak-anak Komplek bermain sendiri. Memegang kedua bambu, menaikkan kaki ke pijakan, berjalan dan belum genap dua langkah, sudah jatuh. Egrang membikin mereka jengkel dan putus asa karena susah dimainkan. Kalau anak-anak ini tidak dijanjikan untuk diajak berlibur ke Bali setelah dari Jember, barangkali mereka tidak mau. Ketika teringat Bali, mereka kembali semangat berlatih meski tertatih-tatih saat berjalan menggunakan egrang.

Sepulang kerja, pukul 16.30-17.30 barulah pak Bari dan pak Bowo melatih mereka. Menerangkan, mencontohkan bagaimana teknis bermain egrang. Kedua pelatih tersebut mengawal anak-anak dengan sungguh-sungguh supaya bisa meraih juara provinsi sehingga bisa ikut serta di tingkat nasional.

Pertama-tama, pak Bari mengajari mereka untuk memegangi bambu. Mengambil posisi sekiranya badan bisa tegap ketika kedua kaki sudah naik ke atas pijakan. Satu kaki naik ke atas pijakan, kemudian satu kaki lagi menyusul naik. Bambu kanan diangkat atas bantuan dan kerjasama dari tangan, kaki dan badan untuk melangkah, kemudian bambu kiri melangkah secara bergantian dengan bambu kanan. Selangkah demi selangkah, anak-anak bisa berjalan menggunakan egrang. Ketika sudah semakin lancar, jalan mereka dipercepat lagi.

“Dep-dep-dep”, suara langkah egrang terdengar bersahut-sahutan dan tertib. Anak-anak komplek Perum Melati siap bertanding dengan kontestan dari seluruh Indonesia. Jenis perlombaan ini adalah estafet egrang yang bermain secara berkelompok. Satu kelompok terdiri dari lima anak. Dari Perum Melati, diwakili oleh Farel, Riza, Deva, Iban dan Kevin. Mereka berlima ditandingkan terlebih dahulu dengan anak-anak lain. Mereka adalah anak-anak yang terpilih atas musyawarah seluruh warga perumahan karena permainan egrang mereka sangat baik dan tercepat.

-*#-*#-

Kelompok Farel tiba di Ledokombo satu hari sebelum perlombaan. Merasa bosan tinggal di penginapan rumah warga, Farel berkeliling menyusuri desa Ledokombo. Tinggal di sebuah desa merupakan pengalaman menarik bagi Farel. Sebenarnya saat lebaran, ia selalu mudik ke rumah eyang di desa. Farel rasa, tinggal di Ledokombo sama dengan tinggal di rumah eyang. Bahkan ia betah dan kerasan tinggal di desa, Farel selalu mengulur waktu supaya ia diizinkan mama untuk tinggal di rumah eyang lebih lama. Cucu, keponakan dan anak-anak tetangga eyang banyak. Ramai sekali kalau bermain dengan mereka.

Biasanya, Farel diajak Anam, Zainal dan kawan-kawanya mandi di sungai setelah menangkap ikan. Terkadang, Farel mangkel sendiri karena hanya menjadi penonton atraksi Anam dan Zainal yang memanjat pohon kopi di kebun belakang rumah eyang. Selain karena pohon kopinya cukup tinggi, Farel mana bisa memanjat pohon.

Farel hanya duduk-duduk di bawah pohon kopi sambil melirik Anam dan Zainal. Tanda-tanda kalau sebenarnya ia ingin naik ke atas pohon kopi juga. Ia ingin bermain dan bercanda ria di atas pohon kopi. Apalagi Anam dan Zainal sering beratraksi di atas pohon yang dipanjatnya. Kaki mereka dikaitkan ke dahan pohon, kaki di atas, tangan dan kepala mereka di bawah, berayun-ayun menikmati semilirnya angin. “Huh! seperti monyet”, Ejek Farel ketika ia benar-benar putus asa dan merasa tidak bisa melakukan apa yang dilakukan Anam dan Zainal. Tiba-tiba Farel teringat temannya di desa ketika berada di Ledokombo. Sungguh ia ingin mengunjungi mereka.

Sesampai di salah satu kebun yang agak lapang, Farel melihat sekelompok anak yang bermain egrang. Farel mendekat dan ikut menonton. Awalnya ia malu-malu dan hanya mengintip dari balik pohon pisang. Ketika lagi asyik menonton permainan yang diiringi musik, ada tangan kecil yang menepuknya.

“Hei, lapo ndelik? ayo nyedhak!”, kata gadis kecil itu. Sadar anak seumurannya tidak menyahut ucapannya, gadis kecil mengulangi kata-katanya dengan bahasa Indonesia. Dikiranya anak tersebut tidak bisa berbahasa Jawa Timur-an , “Hei kenapa di situ? ayo menonton dari dekat”.

Meski ragu, Farel ikut mendekat. Permainan yang dilihatnya memang egrang. Namun cara bermainnya berbeda dengan yang dilatihkan papa dan pak Bari. Farel memperhatikan detail permainan egrang yang dimainkan sekelompok anak kecil dan remaja itu. Ada egrang, tetapi ada juga ketipung yang dikalungkan pada leher pemain egrang.

Satu bambu dijatuhkan para pemain, mereka menari-nari dengan satu kaki bambu. Satu bambu dilemparkan para pemain ke udara, dan ditangkap lagi. Permainannya diiringi dengan lagu Indonesia Raya, waka-waka e-e lagu piala bola di Afrika, senam poco-poco, dangdut koplo, gundul-gundul pacul dll. Permainan tidak hanya melulu soal siapa yang sampai dan menjadi yang tercepat kemudian menjadi sang juara. Farel suka melihat permaian kelompok ini karena seperti pentas kesenian yang sering ditontonnya di Taman Budaya Yogyakarta. Bedanya, pentas seni ini dilakukan di tempat terbuka, tidak di sebuah gedung yang tinggi dan memiliki tempat duduk yang berjejer-jejer rapi.

Setelah berkenalan dengan gadis seusia yang bernama Manda, Farel bertanya banyak hal pada Manda karena saking penasaran. Pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana kelompok egrang ini bisa bermain secara indah, siapa saja mereka, siapa yang mengajarinya bermain. Manda hanya manggut-manggut karena tidak terbenak dalam kepala kecilnya mengenai pertanyaan yang diajukan Farel. Teman-temannya hanya bermain dan berlatih setiap sore. Farel seharusnya tidak perlu terkejut.

Selain itu, ada Bapak dan Ibuk yang mendampingi mereka bermain dan belajar. “Bapak dan Ibuk datang dari Jakarta dan mengumpulkan kami di sini. Bapak bilang kalau kami akan diajari bermain egrang. Bapak memiliki banyak kawan. Kawan-kawan Bapak sering datang kemari, mengajari kami belajar, mendampingi kami bermain egrang dengan berpadu musik dan atraksi-atraksi, mengajari menulis, menemani kami membaca, membacakan dongeng untuk kami dan lainnya. Kami selalu antusias menunggu kawan-kawan Bapak”, Manda bercerita.

“Bapak-ibukmu keren ya?”, komentar Farel.

Manda hanya tersenyum kecut dan mendongakkan wajahnya ke langit. Ia selalu melakukan hal demikian jika ingin menangis. Ketika menghadap ke langit, air matanya tidak jadi tumpah dan mengucur deras karena masih tertampung di mata. Namun, hatinya selalu sesak, berat dan gondhuk. Setiap ada yang menyinggung masalah orang tua, Manda mencoba bertahan untuk tidak menangis dan hanya mematung di tempatnya. Bapak dan ibuk yang dimaksud Manda bukanlah orang tua kandungnya. Mereka berdua adalah pendiri kelompok belajar yang membimbing Manda dan teman-temannya.

Sedangkan orang tua Manda telah lama pergi jauh. Tidak terjangkau imajinasi kanak-kanaknya sama sekali karena Manda tidak mudah menerima keadaan ini.

Emak-bapaknya sudah lama tidak berkirim kabar. Manda tidak terlalu ingat dengan emak dan bapak. Ingatannya hanya sekelebat-sekelebat dan tidak utuh. Ketika bapak menggendongnya dari sungai dan berlari-lari menuju rumah. Manda dinaikkan bapaknya ke leher dan ia menjadi begitu girang berada di ketinggian. Mamak yang setiap hari memberinya uang 500 rupiah untuk membeli jajan di warung tetangga.

Sudah lama sekali Manda tidak bertemu dengan orangtuanya. Semenjak kelas satu SD, ia hanya hidup berdua dengan nenek. Emak pergi meninggalkan Manda sebelum bapak. Kata nenek, ”emak akan mencari uang yang banyak biar bisa memiliki rumah seperti tetangga-tetangga yang lain”.

Setahun setelah emak pergi, bapak ikut menyusul karena tidak tahan hidup berjauhan dengan emak. Selain itu, bapak malu kalau emak lah yang mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kami.Tapi sampai saat ini mereka tidak pernah mengirim uang, surat maupun kabar.

Manda tidak tahu harus mengadu kepada siapa jika menghadapi urusan-urusan masa kanak-kanaknya. Dinakali teman, uang jajan habis, sepatu rusak, ibu guru matematika yang mengharuskan memiliki buku kotak-kotak kecil sedangkan neneknya tidak selalu mengerti apa yang dibutuhkan Manda. Manda gamang harus bilang pada siapa karena nenek sering salah pengertian meski nenek orang baik.

“Manda, kamu boleh berteman denganku. Kamu bisa bercerita apapun padaku. Aku akan mendengarnya. Papa dan Mama ikut mengantarku kesini. Besok kukenalkan pada mereka ya. Kamu boleh menganggap papa dan mama sebagai emak dan bapakmu. Kalau ingin menangis, menangislah. Tidak harus ditahan-tahan”, hibur Farel.

-*#-*#-

Hari perlombaan tiba. Farel dan kelompoknya merasakan perasaan yang campur-aduk antara grogi, penuh harap, ciut, deg-deg-an, khawatir dan lain-lain. Riuh-rendah penonton dari seluruh penjuru nusantara ada di sini. Mereka adalah putra-putri perwakilan provinsi yang sebelumnya memperoleh nilai unggul di tingkat kabupaten dan provinsi. Permainan tingkat nasional lebih menegangkan karena melawan kelompok yang hebat dan berbakat. Nyali masing-masing kontestan menjadi ciut melihat lawan-lawannya. Sebentar kemudian, nyali tersebut menguat lagi. Perasaan yang naik-turun.

Lomba telah usai. Panitia sudah mengantongi kelompok-kelompok yang mendapatkan juara. Peserta lomba beristirahat dan menenangkan diri setelah merasakan perasaan yang tidak menentu saat lomba. Kelompok belajar Tanoker Ledokombo menampilkan pentas egrang yang sama persis dengan yang dilihat Farel di hari sebelumnya. Farel dan kelompoknya menempati tempat duduk di tengah tenda sembari beristirahat dan meneguk air mineral.

Orang tua mereka ikut serta dan mendampingi, menyemangati bahwa dengan perlombaan, mereka bisa belajar banyak hal dari kelompok-kelompok yang lebih baik. Mereka ikut lomba tidak hanya untuk menang, melainkan juga untuk menghadapi fakta real kehidupan seandainya mereka tidak menyabet juara. Mereka harus menyiapkan dada yang paling lapang.

Penonton bertepuk tangan dan bersorak-sorai menyoraki pemain yang bermain dengan aduhai indah. Farel mendapati Manda ikut tampil bermain egrang. Tidak terlihat oleh Farel, Manda yang memiliki cerita pilu. Setelah acara usai, Farel benar-benar ingin menjadikan mama dan papanya sebagai emak dan bapak bagi Manda.

Pemain egrang berjajar rapi memainkan setiap gerakan dengan kompak dan enerjik. Manda tidak kalah keren dengan pemain lain. Karena memiliki tubuh kecil diantara teman-temannya, Manda naik ke tubuh teman-temannya. Para pemain membentuk formasi cheerleaders, jalinan tubuh pemain membuat pijakan yang kokoh untuk Manda. Manda berada di posisi teratas, ia mengacungkan kedua tangannya, membuka kedua tangannya lebar-lebar seolah pikiran dan perasaannya bebas sebebas kedua tangannya yang terbuka. Pada posisi seperti inilah, Manda merasa seperti berada di ketinggian saat naik di leher bapak. Ia hanya merasa bahagia dengan gerakan ini. Ketika merasa terasing dari kehidupan dengan ketiadaan emak dan bapak, bersama kelompok Tanoker, Manda merasa begitu berharga dan bermakna.

Manda meloncat turun, mengambil egrangnya dan menari-nari lincah diatas egrang. Semua pemain memperlambat tarian dan gerakan, kemudian turun dari egrang secara serempak, membungkuk dan memberi penghormatan kepada penonton. Penonton memberikan tepuk tangan yang menggema sebagai balasan dari keindahan permainan egrang yang disuguhkan kelompok belajar Tanoker Ledokombo.

Di akhir pentas, ada sepasang suami-istri yang memberikan sambutan. Pak Menteri beserta jajarannya duduk di kursi terdepan. Sepasang suami-istri tersebut adalah orang yang dipanggil bapak dan ibuk oleh Manda. Farel tidak terlalu antusias, ia hanya memikirkan Manda. Betapa Farel harus selalu bersyukur memiliki mama dan papa. Meski papa sibuk bekerja di kantor Balaikota, setidaknya Farel masih bisa berjumpa dengan papa setiap hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s