Hayy ibn Yaqdzan

Tentu tahu dong siapa penulis dari Hayy ibn Yaqdzan? Sebuah roman filsafat tentang perjumpaan nalar dengan Tuhan karya Ibnu Thufail. Aku sudah tahu buku ini ketika di Jogja, cuma tahu doang. Baca sih belum pernah. Pernah melihat buku ini dijual dengan harga 15 ribu kalau tidak salah. Dengan harga segitu pun aku belum tergerak untuk membelinya. Sampai datanglah dorongan dari pak Ginanjar untuk segera membacanya. Soalnya apa? Ini berkaitan dengan keberadaan atau eksistensi Nusantara boi.

Abu Bakar Muhammad ibn Abdul Malik ibn Muhammad ibn Thufail al-Andalusi al-Qaisi lahir sekitar tahun 500 H (1106 M) di Guadix (Wadi Asy) yang terletak di timurlaut Granada, Spanyol. Dengan demikian, pada abad 12, Nusantara sudah dikenal sampai negeri-negeri jauh, Spanyol.

Digambarkan setting tempat Hayy ibn Yaqdzan ini “hidup di pulau di Samudra India yang terletak di garis khatulistiwa. Konon, pulau inilah tempat manusia dilahirkan tanpa perantara ibu dan bapak. Di sana ada pohon yang berbuah seperti wanita. Pulau ini disebut al-Mas’udi sebagai pulau burung terkukur. Tempat ini adalah daerah beriklim paling sedang di muka bumi ini, dan paling sering menerima pancaran cahaya matahari di atasanya.”
Cerita mengenai asal-usul Hayy ibn Yaqdzan ada dua versi.

Pertama untuk kelompok yang tidak menerima pendapat bahwa Hayy ibn Yaqdzan adalah anak yang lahir tanpa bapak dan ibu (lahir begitu saja). Kisahnya, ada seorang raja yang memiliki adik cantik. Sang raja tidak memperkenankan adiknya menikah. Namun secarara diam-diam, adik raja menikah dengan pemuda bernama Yaqdzan. Tibalah waktunya melahirkan, adik raja tidak ingin mendapatkan hukuman dari kakaknya ketika mengetahui si adik telah menikah. Untuk menghilangkan jejaknya, putra adik raja yang bernama Hayy, dimasukkan ke dalam peti, kemudian dihanyutkan ke laut. Hayy terombang-ambing oleh ombak besar yang membawanya sampai terdampar di suatu pulau. Hm… Seperti ceritanya Nabi Musa ‘alaihissalam.

Kelompok kedua adalah mereka yang mendukung pendapat swa-lahir (lahir begitu saja), mengatakan bahwa Hayy ibn Yaqdzan keluar dari batu atau lempung. Ibn Thufail menguraikan penciptaan Hayy ibn Yaqdzan secara ilmiah. Memakai ilmu fisika dan biologi. Ilmu-ilmu yang sering kujauhi, sekarang baru tahu rasa kalau suka pilih-pilih ilmu dalam belajar. Kata Pak Amin Abdullah, tidak diintregasikan dan diinterkoneksikan. Makanya sekarang belum bisa menarasikan penciptaan Hayy ibn Yaqdzan dilihat dari ilmu fisikanya.

Ada istilah-istilah kunci yang barangkali bisa membantu kita. Diantaranya sedimen, lempung, selaput, fermentasi, gelembung pertama, gelembung kedua, gelembung ketiga dll. Kemudian Hayy ibn Yaqdzan lahir dari lempung, prosesnya sama dengan kelahiran bayi dari perut seorang ibu. Selaputnya terbelah dan “oeeek-oeeek”, si Hayy menangis.

Setelah perbedaan cerita asal-usul Hayy dalam dua versi ini, cerita selanjutnya sama. Hayy diasuh oleh seekor rusa yang baru saja kehilangan anaknya. Bagian yang paling menyentuh tertulis dalam paragraf “Sampai-sampai, jika rusa itu terlambat pulang, bayi tersebut akan menangis keras hingga sang rusa berlari untuk melihatnya.” Aiiiih sayang sekali rusa ini pada Hayy, rusa ini digambarkan Ibnu Thufail seperti seorang ibu beneran bagi Hayy ibn Yaqdzan.

Rusa semakin menua dari hari hari. Badannya tidak sekuat dulu sehingga sudah waktunya bagi Hayy untuk melayani dan merawat rusa. Hayy memanggil rusa seperti biasanya. Mengguncang-guncangkan tubuh rusa, namun rusa tidak menjawab panggilan Hayy sebagaimana biasa rusa menjawab panggilan Hayy.

Dari kejadian inilah, pencarian Hayy terhadap dunia dan semesta dimulai. Hayy mencari tahu penyebab kematian rusa. Dilakukanlah bedah tubuh rusa, seolah-olah si Hayy ini memang ahli bedah. Ahli bedah gimana? Ia hanya menggunakan batu yang ditajamkan untuk membelah dan mengoperasi tubuh rusa. Coba dibaca sendiri, tentu sangat asyik.

Proses pencarian Hayy tidak akan diurai di sini. Wong niat awal mau nulis ini hanya merasa bangga saja sih, Nusantara kok bisa ada di dalam novel filsafat kelas berat. Tahukah anda mengenai pohon yang berbuah wanita? Pohon itu memiliki rambut panjang, dari kejauhan terlihat seperti melambai-lambai, dan berbuah wanita. Ialah si pohon kelapa.

Menjadi pertanyaan dan penasaran atas perkara ini. Benarkah yang dimaksud Ibnu Thufail dengan biladi Wak-wak memang Nusantara? Kalau iya, Ibnu Thufail tahu dari mana daerah ini? Kalau tidak, negara mana yang dimaksud Ibnu Thufail?

Sudah. Segitu saja

STAINU, Matraman, Jakpus
24 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s