Laporan dari Kwitang Hari ini

Aku mendapatkan informasi dari Bu Zakiah, temen seperjuanganku di kelas. Memperjuangkan diri sendiri supaya tetap bertahan belajar di STAINU. Sekali-dua kali terlintas dalam pikiran untuk mengakhiri belajar di sini. Hampir tidak kuat menahan beban yang aduhai berat. Teman-teman sangat berkemajuan dalam bacaannya, aku tertinggal jauh. Aku hanya menjadi pihak terendah di kelas, aku merasa tidak tahan dengan keadaan ini. Haha, belajar aja belum, sudah nyerah juga?? Lucu sekali ya??

Maklum saja, mereka kuliah sekitar tahun 97-98an, ketika aku masih TK dan kelas satu MI. Maksudku, aku sering tidak paham dengan apa yang sedang dibicarakan di dalam kelas. Semua perkara merupakan hal baru. Orang yang berani menjadi pihak paling bawah sungguh orang hebat karena tidak setiap orang mampu bertahan dan menerima begitu saja di tingkatan paling bawah. Termasuk dalam pendidikan, ekonomi, sosial dan lain-lain. Hm, baru tahu rasa nih gue, menjadi orang yang sangat awam dalam kajian sejarah. Haha malahan curhat.

Bu Zakiah memberitahuku bahwa ada pengajian habib-habib di Kwitang. Dekat pengajian, ada juga penjual buku-buku loak. Pagi tadi, aku langsung bertolak menuju Kwitang via 01A. Wuuuush. Aseek, berjejer-jejer penjual di sepanjang jalan menuju masjid. Semakin betah saja diri ini. Kalau di Jogja, barangkali namanya Sunday morning (sunmor).

Barang-barang yang dijual berharga murah. Mulai dari pakaian, asinan, sendal, bantal, alat masak, jajanan, kerudung, abaya dll. Sebagai perempuan normal, tentu aku merasa deg-degan dan kemecer melihat aneka barang itu. Tapi mau gimana lagi, aku harus pintar mengendalikan diri karena aku belum membutuhkan barang-barang itu, hanya sekedar ingin saja, so tidak perlu beli beneran. Haha, perawan kere kata Mbak Nila. Kere ilmu, kere duitt. Kasihan sekali ya?

Ternyata pengajian Kwitang ini merupakan Islamic Center di Jakarta. Aku telat beberapa saat. Mcnya mempersilakan seorang ustadz yang pernah belajar di Yaman. Turut hadir pula sang calon suami, #eh calon wakil gubernur Sandiaga Uno, pasangan mas Anis. Kalau sudah kedatangan politisi begini, pikiranku yang memang sudah buruk semakin memburuk. Sepanjang Pak Sandiaga Uno memberi sambutan, aku terus-terusan membatin “pret-pret-pret-pret-preeeeeeeeeet” sampai sambutan Pak Sandiaga selesai. Sungguh aku bukanlah orang yang baik, yang mampu berhusnud dzon dan berpikiran positif.

Pak Sandiaga berjanji akan membuat kehidupan warga Jakarta menjadi lebih baik jika mas Anis dan Pak Sandiaga terpilih. Diantaranya akan memberi modal usaha kepada para pemuda, harga-harga di pasar akan murah, pendidikan akan lebih baik lagi dan seterusnya dan seterusnya. Aku tetap mempretkan janji-janji itu. Hahaha, payaaah. Pak Sandiaga juga perlu mengklarifikasi bahwa Mas Anis bukanlah orang Islam Liberal, bukan pula orang Syi’ah. Pak Sandiaga memberikan kesaksian. Disusul pula kesaksian-kesaksian dari tokoh lain, Prof. Arif Rahman.

Perlu diketahui pula bahwa nama tengah Pak Sandiaga adalah Shalahuddin, dimana nama tersebut terinspirasi dari tokoh pemimpin Shalahuddin Al-Ayyubi yang penuh kebaikan dan ketegasan pada masanya. “Ih, apa-apaan pula ini?”, kataku dalam hati. Tahu ah gelap. Sedemikian memuakkannya permaianan politik bagiku. hehe, ingin berpaling aja ke dia.

Aku mengalami paradoks ketika berada di masjid Kwitang. Aku senang mendengar nama Kanjeng Nabi didengungkan, tapi aku jijik mendengar untaian-untaian politik yang bermaian di dalamnya. Lalu aku harus bagaimana? Baca sholawat sambil mengutuk? Entahlah, aku pun bingung harus bersikap bagaimana. Hanya mengamati permaianan dari jarak yang tidak terlalu dekat.

Aku tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Sebisa-bisaku hanya menceritakan apa yang kudengar dan apa yang kulihat. Kalau sangat terasa sulutan emosiku dalam tulisan ini, abaikan saja. Tidak perlu dihiraukan. Itu hanya perasaan dan pandangan pribadiku. Haha, apologi.

Nampaknya, warga-warga DKI yang Muslim memang sedang panas hati. Mereka tersinggung dengan pernyataan Pak Ahok. Mungkin ketika aku belum berada di pemahaman seperti sekarang ini, bisa jadi aku berpikir bahwa Pak Ahok memang menghina agama kita. Warga-warga itu belum tahu apa arti penistaan sebenarnya. Belum mengetahui penjelasan-penjelasannya, akibat-akibatnya dst.
Mereka membenci apa yang belum mereka ketahui. Demikian penafsiranku.

Mereka ingin membela agama dan Al-Qur’an. Apa yang perlu dibela? Kita ini tidak ada apa-apanya dibanding agama, Al-Qur’an dan Tuhan. Kita bisa melakukan apa untuk Dzat yang lebih segala-galanya dari diri ini? Justru kita-kita ini yang perlu dilindungi dan dibela.

Duh Gusti, mugi paringo ing margi keleresan
Kados margining manungso kang paring kenikmatan
Sanes margining manungso kang Paduko laknati

Aku belum mengetahui berapa prosentase orang yang tersinggung dan orang yang tidak tersinggung. Aku tidak bisa menggeneralisasi semua yang hadir anti Ahok. Dari respon sebagian jamaah yang diam saja saat sang ustadz menyumpah-serapahi Ahok, tidak ikut emosi dan geram kecuali orang-orang yang geram, kukira mereka masih bersikap adem dan kalem. Aku hanya menilai orang yang bicara bukan? Aku tidak bisa mengetahui pikiran dan kata hati orang yang diam. Sedangkan yang bicara dalam pengajian tersebut hanya ustadz, MC, Pak Sandiaga dan Prof. Arif Rahman. Hehe

Pak Ustadz menggebu-gebu dalam memberikan ceramah. Beliau bilang menistakan agama, menghina Al-Qur’an dan menyusahkan rakyat adalah serangkaian kesalahan Pak Ahok. Pak Ahok harus ditangkap polisi. Tapi kenapa Pak Ahok tidak segera ditangkap? Penangkapannya pun dipersulit dengan perizinan presiden. Kenapa Presiden menganak-emaskan pak gubernur ini?. Presiden sebelum presiden sekarang sering datang ke majlis Kwitang. Kenapa Pak Presiden Jokowi tidak pernah hadir? Harus dipertanyakan nih keislamannya. Siapapun diantara yang nantinya jadi gubernur, harus salah satu dari Mas Agus atau Mas Anis. Jangan sampai Pak Ahok. Pak ustadz juga berharap nanti ada salah seorang yang mendekati Pak Ahok tanggal 4 November. Lebih-lebih orang itu telah dipasangi bom kacang atom, biar Pak Ahok ikut meledak. Warga Jakarta juga harus turun ke jalan pada 4 November nanti. Umat Islam tidak boleh cemen dan harus menjadi umat yang gagah dan berani. Makanya nanti harus turut demo. Jangan sampai tidak.

Aku yang mendengarkan serangkaian kata demi kata Pak ustad, menjadi bergidik sendiri. Meski beliau bilang bahwa aksi 4 November tersebut merupakan aksi damai. Bagaimana ya? Entahlah, apa yang dimaksudkan pak Ahok barangkali berbeda dengan apa yang dipahami pihak pro demo. Kita lihat saja nanti, semoga tidak ada apa-apa. Hm, jadi pengen bolos kuliah. Aksi seperti ini tidak mesti seumur hidup terjadi. Sayang sekali untuk dilewatkan. Untuk melihat realitas yang tidak sekedar hitam-putih, perlu dilakukan penelusuran-penelusuran lapangan agar kita bisa merasakan efek dan nuansa kejadiannya. Plus belajar jurnalistik sedikit demi sedikit. Barangkali bisa menjadi jurnalis atau penulis independen. Waow, keren sekali kedengarannya.

Kampus Kecil STAINU yang selalu hidup, Jakpus
30-31 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s