STAINU JAKARTA

Waktu Muktamar NU ke-33 di Jombang, aku nebeng salah satu teman yang mobilnya kosong. Enak kan dapat tebengan ke acara besar sekelas Muktamar NU. Setelah ziarah ke makam para founding fathers NU, aku diantarkan ke rumah Mbak Niswah. Esok harinya, aku dan Mbak Nia menuju lokasi Muktamar yang tersebar di beberapa titik Jombang.

Di alun-alun Jombang, Kusisiri stand demi stand. Aku paling tertarik dengan stand-stand buku. Aku mendapatkan jurnal-jurnal Ulumul Qur’an dengan harga yang murah karena merupakam jurnal lama. Kulihat pula stand kampus STAINU. Kampus yang namanya masih asing di telinga. Penjaga stand memberiku bolpoin dan brosur STAINU. Oh, ada tah kampus yang bernama STAINU? Saat itu, kampus STAINU masih berada di antah-brantah duniaku. Aku tidak memedulikannya.

Tema yang diusung Muktamar NU adalah Islam Nusantara, wacana yang secara singkat mendapat banyak reaksi dari publik. Biasalah, ada yang yang setuju. Ada pula yang keberatan dengan istilah Islam Nusantara. Islam ya Islam, tidak ada Islam Nusantara. Nanti muncul aneka rupa Islam lagi. Islam Pakisktan, Islam Malaysia, Islam India, Islam Mesir, Islam Eropa dll. Inilah negeriku yang selalu berdinamika. Selalu ada perdebatan panjang yang tak berkesudahan, kecuali kalau sudah lelah dan capek.

Islam Nusantara sebelum dilontarkan ke publik, sebenarnya telah ada di STAINU Jakarta. Sebagai satu-satunya jurusan di paskasarjana STAINU. Bermula dari brosur dalam bermkenalan dengan STAINU, kini aku menjadi bagian dari STAINU. Kenyataan yang tidak disangka-sangka.

Setibanya di kampus STAINU untuk pertama kalinya, saat tes beasiswa, aku masih sanksi. Bangunan kampus yang kecil, di depan kampus ada banner kampus STAINU dan UNU (sebenarnya ini kampus apa namanya?), kampusnya masih sepi padahal sudah jam 8, masuk ke kampus mencium baru rokok dan kopi yang sangat kuat. Duh duh duh, apa-apaan ini? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu. Kampusnya sangat tidak terawat dan sepi, seperti tidak ada kehidupan di dalamnya. Ruang rektoratnya kecil, tidak berpenghuni. Barangkali, punggawa STAINU tidak selalu ke kampus dalam rangkaian ngantor. Seperlunya saja.

Meski demikian, kampus STAINU adalah kampus yang sangat pengertian. Mahasiswa diperlakukan dengan penuh kekeluargaan. Kita bisa mengenal siapa saja karena tempatnya kecil, dimanapun berada, selalu ketemu orang itu dan itu lagi. lu lagi lu lagi. Tangganya juga Cuma satu, nggak bisa menghindar dari cengkeraman sang mantan. eeea. (Menghindar dengan teknik putar balik atau balik badan sering kulakukan di UIN Sunan Kalijaga ketika melihat orang yang kukenal. Haha. Pemikiran yang aneh, tidak mau bertemu dengan orang yang telah kukenal).

Misalnya, aku termasuk mahasiswa reguler semester 1 yang kuliah pada hari Jum’at dan Sabtu, bisa mengenal bapak-bapak dan mas-mas kelas karyawan, kakak tingkat semester 3, ibu-ibu smt 3 yang dari Parung dll.
Sistem perkuliahan di sini sangat longgar.

Ada beberapa macam program. Diantaranya kelas pagi, kelas malam dan kelas karyawan. Memudahkan sekali bukan? bisa pindah kelas pula. Misalnya, mahasiswa A semula adalah kelas reguler, namun karena bekerja, ia bisa pindah belajar di kelas malam maupun kelas karyawan. Aku sampai heran, kampus sekecil ini mampu mendatangkan dosen-dosen di luar waktu jam kerja. Rata-rata, dosennya merupakan dosen muda.

Karena merupakan kampus baru, UNU dan STAINU tidak disesaki oleh mahasiswa yang bejibun. Ada yang satu kelas, mahasiswanya satu orang, tidak memiliki kakak tingkat maupun adik tingkat. Ada yang sekelas dua orang dst. Meski demikian, belajar tetap berjalan. Tidak ada gangguan suatu apa.

Tidak menyangka saja, bisa nyasar sampai STAINU pada awalnya. Di kemudian hari, aku merasa bersyukur dan berpikir bahwa aku tidak nyasar belajar di STAINU. Karena di kampus kecil ini, aku diajarkan menjadi orang yang berilmu. Ilmu menjadi ilmu kalau sudah menjadi laku. Dan kita menjadi lakon dalam keilmuan kita. Kampus kecil yang begitu sangat hidup. Kita tidak dibohongi oleh wacana yang tersebar luas yang dinamakan ilmu. Ilmu kita tidak sekedar kamuflase-kamuflase penuh silau. Karena apa? kita dituntun membuka sedikit tabir yang menutupi diri kita dari keadaan sebenarnya. Di kampus-kampus lain, akan sangat sulit ditemukan diskusi yang menelanjangi tata kerja dunia.

Ini hebatnya STAINU. Kita tidak sedang dikelabuhi oleh dominasi Barat maupun dominasi-dominasi yang lain. Betapa keilmuan di salah satu pendidikan tinggi Islam, tercerabut dari fakta dunia. Ini yang sangat disayangkan. Kalau sudah tercerabut, artinya kita sedang ditipu habis-habisan. Mata kita digelapkan oleh data-data yang kita baca. Dosen-dosen STAINU menyadarkan kita, betapa selama ini kita dikelabuhi sedemikian rupa sehingga tidak tahu diri kita sendiri. Makanya, ayo belajar di STAINU Jakarta. Iklan gratis. Jreng-jreng.

Dulu, aku ingin belajar di negeri-negeri jauh, di kampus-kampus besar dll. Namun aku tak pernah bersungguh-sungguh berusaha untuk mendapatkan dan mengejarnya. Tapi STAINU? Aku masuk ya masuk begitu saja. Pengumuman menuju hari tes sekitar 3 harian. Prosesnya sangat singkat, dengan bermodal nekat. Alhamdulillah atas semua jalan hidup ini.

Teka-teki yang selama ini menghantuiku. Orang-orang seperti bu Dina Sulaeman, Pak Joserizal dan mas Zainul Muttaqin telah memberitahuku tentang apa yang sedang terjadi di dunia ini. Kemudian, aku mendapatkan lanjutan jawaban-jawabannya di sini, melalui Pak Radhar dan dosen-dosen yang lain. Semoga aku betah dan tahan mencari tahu dan menelusuri keadaan sebenarnya. Ini bukan perkara mudah bagi orang-orang sepertiku yang langsung klepek-klepek ngantuk tiap kali melihat buku.

Asrama mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
20 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s