Demo Itu

Kemarin sengaja bolos kuliah gara-gara penasaran dengan demo yang sedang ramai dibicarakan di medsos. Menjadi kebiasaan bagiku untuk selalu datang pagi dalam acara apapun. Barangkali karena aku orang gunung yang harus bangun pagi jika hendak pergi ke kota kecamatan. Karena apa? angkutan desa kami beroperasi pada pagi hari. Bahkan sangat pagi. Hal itu yang berpengaruh pada diriku saat ini. Selalu mruput dan buru-buru. Jadi inget salah satu episode Tutur Tinular yang berjudul “Wong Agung Turun Gunung”.

Aku Berjalan menuju halte Matraman. Sembari menunggu Bus Way, aku merenung lama. Aku khawatir tanggal 4 November akan menjadi pertanda buruk bagi Indonesia. Masih teringat apa yang terjadi di negara-negara Timur Tengah dengan gerakan Arab Spring. Bermula dari demo besar-besaran, merembet pada konflik, ketegangan daaan perang.

Perang inilah yang kemudian akan mengobrak-abrik tatanan. Aku hanya diam dan berharap semoga apa yang kukhawatirkan tidak terjadi. Misalnya saja Suriah. Semula, orang-orang di sana hidup seperti biasanya. Tidak tahu apa yang akan terjadi. Mereka beraktivitas secara normal. Sekolah, kuliah, belajar, bekerja, membersihkan rumah dll. Begitu juga yang terjadi di Hirosima dan Nagasaki. Indonesiaku terlalu mahal untuk dijadikan bahan mainan. Awas!! jangan main-main dengan Indonesia! Tutur Habib Luthfi.

Acara demo akan digelar setelah setelah shalat Jum’at. Lha aku datang sekitar jam 9an. Tempat demo masih sepi dan steril dari orang-orang. Aku hanya bengong dan berjalan tidak jelas. Itung-itung tahu daerah sekitar Monas. Termasuk pusat pemerintahan. Dekat dengan Istana Presiden.

Bolak-balik aku mencari orang-orang yang akan demo, namun aku tak menemukannya dimana-mana kecuali tim medis. Berjejer-jejer gedung kementrian, MK dan RRI. Aku langsung tertarik untuk masuk ke RRI. Disana aku bertanya pada resepsionis apakah RRI memiliki perpustakaan atau memiliki fasilitas apa gitu yang terbuka untuk umum. Sayang sekali, belum ada perpustakaan atau fasilitas umum. Perpustakaan alasan bagiku untuk mendatangi tempat-tempat tertentu. Misalnya PBNU maupun Kemenag.

Yasudah, aku keluar dari RRI dan duduk di bawah pohon. Baru sebentar duduk, aku disusul dua orang yang bercadar. “Ikut ya mbak”, tanya salah seorang. “Iya mbak”, jawabku dengan menebak-nebak, mereka pantas dipanggil “mbak” atau “ibu”. Biarin, aku memang sulit bergaul dengan orang-orang seperti itu. Dijamin jalan pikir kami nggak bakalan bertemu. Meski demikian, aku mencoba membuka obrolan dengan mereka. Menanyakan ia berasal dari mana dan tergabung dalam kelompok apa. Mereka dari Jogja. “Oh ya?”, mestinya aku excited, iya aku senang mendapati orang-orang dari Jogja. Aku menganggap Jogja adalah rumahku, siapa saja yang berasal dari Jogja kuanggap sebagai tetangga sendiri. Kemudian aku juga bilang bahwa aku dari Krapyak. Spontan si mbak bercadar menanggapi “oh yang NU itu ya?”.

“Maksutnyaaaa?”, kenapa si dia mempertegas perbedaan diantara kita? Mau ribut aja nih orang. Mungkin karena aku yang langsung sensi mendengar pernyataannya dengan nada yang gimana gitu. Aku jadi malas melanjutkan obrolan kami. Pun ia tidak berusaha mengimbangi obrolan. Si dia tidak menganggapku sebagai tetangga atau teman baginya. Masak aku yang bertanya terus? kayak orang wawancara saja.

Mereka duduk di samping kanan dan kiriku. Kami bertiga menyandari pohon besar karena lelah. Romantis sekali bukan? Kayak teman satu geng saja. Apalagi aku berada di tengah-tengah mereka. Waow. Tapi mereka menganggapku tidak ada karena tak melibatkanku dalam pembicaraan. Atau karena aku juga enggan melibatkan diri.

“Kalau Ahok keluar dan berjalan, pasti langsung dikeroyok”

“Iyalah, mana berani ia keluar, katanya Ahok kabur ke Singapura, huu dasar”

Mereka tidak kuhiraukan lagi. Apa yang terjadi di area demo biasa saja dan tidak begitu mengkhawatirkan sejauh keberadaanku di sana sampai siang. Penjual es degan menunduk, mengerok kelapa muda dengan khusyuk masyuk di tengah koar-koar pendemo. Penjual es degan tidak bergeming dan merasa terganggu.

Pemulung mendapatkan botol bekas lebih banyak dari biasanya barangkali. Rakus sekali bapak pemulung memasukkan botol-botol bekas ke dalam karung. Urusan demo mah kecil aja bagi si bapak. Yang paling penting, beliau bisa memperoleh botol-botol itu, tidak lebih. Anak kecil ya ikut nonton tanpa harus tahu secara detail apa yang sedang terjadi. Karyawan-karyawan meliburkan diri, atau bisa pulang lebih awal, atau menonton demo dari gedung-gedung tinggi dimana mereka bekerja.

Para polisi yang nampaknya kecapekan saling memijit bahu temannya. Posisi mereka berjajar dan berbaris panjang menarik pengunjung demo untuk berselfi. Selama ada selfi, nampaknya keadaan akan baik-baik saja. Mereka juga mengantongi uang dan membeli makanan-makanan kecil seperti camilan dan gorengan ke penjual keliling.

Setengah hari berada di sana, aku sudah capek dan bosan, sudah uring-uringan sendiri. Untungnya aku kesana sendirian. Kalau dengan salah seorang teman, pasti kekesalanku akan kutumpahkan pada mereka. Perkaranya karena jalan menju halte Harmoni dipagari kawat-kawat listrik. Padahal itu halte terdekat. Aku bertanya pada bapak TNI yang berjaga. Beliau tidak tahu-menahu ke arah mana aku harus pulang.

Okelah, aku berjalan menuju halte di sepanjang jalan utama gedung pusat pemerintahan. Dari monas, patung kuda, sarinah, kemenag dan sampailah pada tukang ojek. Halte-halte telah dibersihkan dari arena demo. keandaraan pun sudah jarang terlihat. Aku harus kemana? Niatnya mau ke gedung PP Muhammadiyah di jalan Menteng Raya, ingin mengikuti bedah bukunya Pak Najib Burhani. Pak Najib merupakan intelektual yang pernah belajar di negri Londo yang kebetulan juga merupakan kakak teman/seniorku di PP AL-Munawwir Komplek Q, Mbak Amidana Hikmah Nafi’ah.

Aku terjebak di keramaian. Bingung menentukan jalan pulang. Mau pesen gojek, nggak punya data. Mau ngojek juga lagi kosong uangnya. Maksudku, kalau naik bus way kan aku bisa pakai kartu tiket yang masih memiliki salda belasan ribu. Masih bisa lah dipakai untuk membawaku sampai halte Matraman. Kalau jalan terus dan lurus, aku nggak tahu apakah masih ada halte yang beroperasi. Bahkan sampai kakiku pegal-pegal. Haha manja. Akhirnya aku mendekati abang ojek, menanyakan berapa ongkos kalau sampai Matraman. 20 Katanya.

“ Ih nggak mau bang, 10 ya?”.

“10 mah cuman nyampe situ”

“yasudah, 15 deh”

“oke”

Baru jalan sebentar, aku melihat bus way menuju halte Tosari. Yah, kenapa ada bus way? yakdesh.

Sampai deh di Matraman. Abang ojeknya lucu juga. Sewaktu di perempatan lampu merah, tidak ada kendaraan yang jalan, baik dari arah timur, barat, utara dan selatan. Abang ojek nanya “siapa nih yang mau lewat”, sebebntar kemudian abang ojek menerabas lampu merah. Habisnya, semua kendaraan pada berhenti. Bagaimana ceritanya?

Kukira abang ojek memiliki pengetahuan yang boleh juga. Abang ojek menunjukkan rumah Ali Sadikin yang sekarang ditempati anaknya. Tahu sendiri kan siapa Ali Sadikin? Kutanya juga beliau, nanti waktu coblosan DKI Jakarta mau milih siapa.

Padahal aku tahu, itu adalah rahasia. Kenapa musti nanya juga? Biarlah. Abang gojek tidak mau ambil resiko tinggi. Ahok yang sekarang saja sudah dirusuhi oposannya sedemikian rupa, apalagi besok kalo jadi. Kalau mas Anis apalgi, tak dapat berharap banyak dari kepemimpinannya. Lalu siapa lagi kalau bukan Agus? memang dalam birokrasi, mas Agus belum terjun terlalu lama. Namun ia telah berkecimpung di birokrasi tentara. So?

Aku meminta abang ojek mengantarkanku sampai Indomaret, haha mau ambil duitt buat bayar ongkos ojeknya. “Tunggu bentar ya bang?”. “Iya neng”.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakpus. 6 November 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s