Sang Kolektor Naskah Idealis

Belum genap sebulan keberadaanku di Jakarta, ada even besar di Perpusnas. Yaitu pameran naskah. Mau tidak mau, aku harus bertandang ke perpusnas. Kan tema evennya cocok dengan kajian yang kugeluti baru-baru ini. Terlagi, aku belum begitu paham dengan dunia pernaskahan, menunjang sekali untuk membuka wawasan pernaskahan kita. Dapat jurnal-jurnal gratis pula. Aku mengambil buku sampai 40 buku kali ya. Dasar serakah. Haha

Di dalam gedung, aku menelusuri stand demi stand. Kudengar dua orang yang sedang bercakap-cakap. Seseorang menawarkan sejumlah uang untuk mendanai naskah seorang kolektor. Kolektor bermuka cuek dan tidak mempedulikan seorang pendana. Pendana menyindir kolektor, bilang padaku bahwa biasanya semua orang mencari biaya. Sekarang giliran ada yang nawari dana malahan tidak berkenan. nampaknya, pendana itu mencari dukungan padaku supaya bisa menakhlukkan kolektor.

Kolektor menjawab “tidak Pak, ini untuk pribadi, tidak untuk proyek”. Aku masih berada di stand kolektor tersebut. Kolektor membawa tema naskah-naskah pesisir. Ada naskah Layang Ambiya, Maulid Syaraful Anam, Al-Qur’an dan lain-lain.

Setelah pendana pergi, aku bertanya-tanya pada kolektor, kenapa beliau tidak mau menerima uluran dana. Hal seperti itu sering terjadi dalam dunia pernaskahan. Pak Erwin, nama kolektor yang kumaksud. Pak Erwin tidak mau naskah-naskahnya dikomersialkan. Kemudian meluncurlah cerita-cerita beliau selama memburu naskah-naskah. Kecintaan Pak Erwin pada naskah merupakan panggilan jiwa beliau sebagai salah satu anak bangsa yang peduli pada warisan-warisan peradaban. Betapa tidak! Naskah adalah bukti peradaban nenek moyang kita. Kalau kita mampu membuka apa yang terkandung dalam naskah, kita akan mengetahui betapa kayanya warisan moyang kita.

Ada banyak tokoh yang berkecimpung dalam dunia pernaskah. Kolektor atau pencari naskah, filolog, peneliti dan lain-laian. Seringkali, peneliti maupun filolog menjadikan kolektor naskah sebagai objek bagi peneliti. Pak Erwin nampaknya seringkali merasa dijadikan objek. Beliau sangat keberatan. Menjadi suatu objek, artinya ia berada di bawah subjek dan tidak memiliki andil besar karena hanya objek. Peneliti maupun filolog kurang menghargai apa yang telah dilakukan selama ini oleh kolektor. Pak Erwin termasuk kolektor pribadi, artinya mengeluarkan uang pribadi untuk memburu naskah-naskah. Beliau sampai pergi ke Sumatra untuk memenuhi panggilan jiwanya.

Sudah sedemikian keras usaha Pak Erwin, tiba-tiba para filolog datang kepada beliau dan menjadikannya objek mati. Hm, dimana rasa kemanusiaan itu ada? Pak Erwin juga bercerita ada beberapa filolog seperti pak Oman Fathurrhman yang memperjuangkan nasib kolektor-kolektor naskah. Pak Oman adalah ketua MANASSA (Masyarakat Pernaskahan Nasional). Kantor Manassa berada di UI Depok.

Suatu ketika ada seseorang yang datang ke rumah pak Erwin dan menyerahkan sebuah naskah Al-Qur’an. Naskah tersebut merupakan peningalan ibunya. Ibunya berpesan supaya naskah tersebut diserahkan kepada Pak Erwin. Berdasarkan pada peta, pemilik naskah mencari rumah Pak Erwin. Namun waku itu Pak Erwin sedang tidak memiliki uang untuk membeli naskah tersebut. Biasanya untuk sebuah naskah, harganya mencapai 15 juta. Pemilik naskah memang tidak menjualnya, hanya menyerahkan dan melakukan wasiat orang tuanya. Pak Erwin kemudian memberinya uang 1 juta untuk transportasi pulang.

Kukira Pak Erwin memiliki penghormatan yang teramat tinggi terhadap naskah dan buku-buku lawas. Hal itu terlihat dari ketawadhukan dan ketulusan beliau dalam mengumpulkan naskah-naskah. Ada seorang dosen yang berupaya mendigitalisasi naskah-naskah Pak Erwin. Namun apa yang terjadi kemudian? Banyak halaman yang rusak. Pak Erwin merasa terpukul sekali, padahal orang berilmu mestinya memulyakan ilmu-ilmu yang terkandung dalam setiap buku. Termasuk bersikap dan bertindak bagaimana supaya buku-buku itu tetap terjaga.

Selain itu, para peneliti maupun filolog tidak mudah untuk mengocek kantongnya untuk membeli naskah-naskah lama. Mereka tidak berani mengeluarkan modal besar. maunya hanya mengaji dan meneliti. Demikian yang menjadi keberatan Pak Erwin.

Aku bercerita juga pada Pak Erwin mengenai naskah yang akan diteliti oleh teman sekelas. Namanya Pak Anam. Layang Ambiya ditemukan oleh salah seorang guru Pak Anam. Guru sedang tidur, terbangun di sampingnya ada naskah Layang Ambiya. Kalau demikian kejadiaannya? Bagaimana tanggapan Pak Erwin. Beliau menyarankanku supya tidak mudah percaya dengan hal-hal kayak begitu. Udah, gitu aja.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakpus
02 November 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s